Laporkan Masalah

Pesona Jawa dalam Penamaan Anak-anak Masyarakat Luar Jawa (Studi Kasus di Kalangan Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara)

Sismono, S.S., Dr. Budiawan

2012 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Penamaan diri dalam masyarakat Muna dipengaruhi beragam budaya, salah satunya pengaruh Jawa. Sejak tahun 1980-an, nama kejawa-jawaan dalam masyarakat (pribumi) Muna berkembang pesat, seiring dengan kuatnya hegemoni Jawa di masa Orde Baru. Pesona Jawa dalam penamaan anak-anak masyarakat Muna ini terus berkembang hingga menjadi fenomena kebudayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pesona Jawa tersebut turut mempengaruhi kesadaran kultural masyarakat Muna dalam memberikan nama diri pada anakanaknya. Sebagai langkah awal penelitian ini terlebih dahulu mengungkap bagaimana Jawa memiliki magnet dan pesona yang luar biasa. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode etnografis melalui rangkaian observasi, wawancara, riset dokumentasi. Selanjutnya data-data ini dianalisis menggunakan perspektif poskolonialisme. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa penamaan anak-anak masyarakat Muna sangat dipengaruhi oleh pelbagai budaya termasuk Jawa. Pengaruh Jawa ini melahirkan imajinasi tentang Jawa yang serba superior dan dominan. Alhasil, sebagian masyarakat Muna memberi identitas Jawa melalui nama diri anak-anak mereka. Di satu sisi nama kejawa-jawaan merupakan bentuk pesona Jawa, namun di sisi lain, penamaan Jawa merupakan strategi perlawanan sebagian masyarakat Muna terhadap hegemonik dan kuasa Jawa. Tujuannya agar anak-anak mereka yang bernama kejawa-jawaan mampu bersaing dengan masyarakat Jawa yang dibayangkan serba superior. Fenomena mimikri dan resistensi ini melahirkan hibriditas kebudayaan yang serba ambivalen.

The naming of Muna people was influenced by a variety of cultures, one of which was that of the Javanese. Since 1980s the Javanese-like naming of Muna (native) people had widely been handed on as the hegemony of Java was more strongly holding power by the period of New Order reign. The charm of Java in the naming of Muna children was then even more increasing that it had turned out to be a cultural phenomenon. Accordingly, this research is planned to find out how the charm of Java had also an influence on the cultural consciousness of Muna people in the naming of their children. As a starting point this research begins to reveal how the Javanese was so magnetic and had such a powerful charm. To answer this question this research uses an ethnographic method by way of a series of observation, interview, and research of documentation. Subsequently, the perspective of postcolonialism is applied to analyze the data. The result of the research shows that the naming of Muna people was greatly influenced by a variety of cultures, including the Javanese. The influence of Java’s charm had even given birth to an imagination of all-superior and - dominant Javanese. Consequently, some Muna people attributed the Javanese identity through their own children’s naming. On the one hand, the Javanese-like naming represents the charm of Java; however, on the other hand, the Javanesegiven naming marks out the strategy of resistence of some Muna people to be against the hegemony and power of Java. The point is that their Javanese-like named children are expectedly able to stand the pace of the Javanese all-superior imagined people. The phenomena of mimicry and resistence had given birth to the hybridity of all-ambivalent cultures.

Kata Kunci : pesona, jawa, muna, identitas, nama, mimikri, resistensi, ambivalen, hibriditas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.