KAJIAN ENKLAVE SUMBAWA TALIWANG DI LOMBOK: KAJIAN PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA
Yenni Febtaria Wijayatiningsih, Dr. Inyo Yos Fernandez
2012 | Tesis | S2 LinguistikKeberadaan enklave bahasa Sumbawa Siren dan Sumbawa Taliwang sebagai bahasa minoritas yang terdapat di pulau Lombok memunculkan permasalahan pergeseran atau pemertahanan bahasa. Untuk itu, penelitian ini bertujuan menganalisis selain secara kuantitatif, juga kualitatif terkait pengadopsian unsur bahasa Sasak dalam Bahasa Sumbawa Siren dan Sumbawa Taliwang sebagai bentuk pergeseran bahasa atau merupakan strategi untuk mempertahankan bahasanya. Untuk mencapai tujuan itu, data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data linguistik dan sosiolinguistik. Data linguistik ini didapat dengan menggunakan metode cakap dan simak, sedangkan data sosiolinguistik didapat melalui mewawancarai dan menyebarkan angket/kuesioner pada informan yang telah ditentukan. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan menggunakan dialektometri, untuk menentukan status kedua enklave bahasa tersebut. Metode kualitatif digunakan berupa metode padan: teknik hubung-banding menyamakan dan teknik hubung-banding membedakan, dan metode ciri-ciri kesamaan linguistik khususnya yang berupa inovasi bersama yang bersifat eksklusif. Hasil penelitian dipaparkan sebagai berikut: (1) enklave bahasa Sumbawa Siren dan Sumbawa Taliwang merupakan varian bahasa Sumbawa di daerah asalnya, bukan merupakan varian dari bahasa Sasak. Hal ini dapat dilihat melalui besarnya persentase kedekatan antara bahasa Sumbawa Siren dan Taliwang lebih dekat daripada dengan bahasa Sasak, yaitu masing-masing 28% dan 25,67% dan 41,33% dan 39,33%, (2) hasil analisis kuantitatif ini didukung oleh analisis kualitatif yang ditemukan bahwa Sumbawa Taliwang, Sumbawa Siren, dan Sumbawa di pulau Sumbawa, sama-sama memiliki ciri linguistik (fonologis dan leksikal) yang berupa inovasi bersama secara eksklusif, yaitu dalam merefleksikan kata yang memiliki urutan konsonan konsonan nasal hambat, homorgan protobabahasa Sasak Sumbawa (PSS): *mb > T, BSm: m; *nd > T, BSm: n; * Å‹g > T, BSm: Å‹; *ñj > T, BSm: *ñ, yang dalam bahasa Sasak urutan konsonan PSS tersebut masih dipelihara, jadi tetap dipertahankan (berupa retensi), dan ciri leksikal yaitu bentuk purba Protobahasa Sasak-Sumbawa * bÇras > mÇniq 'beras' , *ubad > mido 'obat', yang dalam bahasa Sasak etimon PSS tersebut masingmasing masih merupakan unsur pewarisan dari PSS, yaitu berupa bÇras dan É”at, (3) Pengadopsian unsur bahasa Sasak ke dalam bahasa Sumbawa-Siren dan Sumbawa-Taliwang bukan merupakan suatu pergeseran bahasa, melainkan hanya untuk memperkaya daya ungkap. Hal ini didasarkan pada dua fakta, yaitu: a) adopsi unsur bahasa yang intensif tersebut disertai kemampuan penuturnya untuk menggunakan bahasa Sasak secara utuh pada suatu kondisi kontak bahasa yang berupa alih kode; b) secara kuantitatif, pemakaian varian Sumbawa Taliwang dan Sumbawa Siren oleh penuturnya masing-masing masih dalam kondisi aman, karena berada pada posisi pilihan bahasa dengan persentase tertinggi (100%), baik pada ranah keluarga maupun ketetanggaan sesama penutur varian tersebut.
The enclave of Sumbawa Siren and Sumbawa Taliwang language is a minority language in Lombok island. It appears a problem of language shift and language retention. Therefore, this study is aimed at analyzing both a quantitatively and qualitatively, it related with the elements adoption of Sasak language into Sumbawa Siren and Sumbawa Taliwang language. It is a form of language shift or a strategy to retention their language. The linguistics and sosiolinguistics data is used to reach this aims. The linguisttics data gets with interview method and observe method, and the sosiolinguistics data gets with interview and the spread a questionnaire to informan. The quantitative and qualitative methods is used to analysis data. The quantitative method using a dialectometri to determine a status both of the language enclave. While the qualitative method use is a corresponce method with the technique of connection-equivalence equalities and that of connectionequivalence differences, and the characteristics similarity of linguistic methods, especially in the form of shird innovation are exclusive. The research findings showed that: (1) The enclave of Sumbawa Siren and Sumbawa Taliwang language is a variants of Sumbawa language in Sumbawa island, they are not a variant of Sasak language. It is showed from the percentage of Sumbawa Siren and Sumbawa Taliwang language with Sumbawa language in Sumbawa Island is more closer than to Sasak language, that is a 28% and 25.67% and 41.33% and 39.33%, (2) The result of quantitative analysis is supported by qualitative analysis, it found that Sumbawa Taliwang, Sumbawa Siren, and the Sumbawa language in Sumbawa island have a same linguistic characteristics (phonological and lexical) in the form of shird innovation are exclusive, it is shows in the reflextion of word which have an inhibitory in order of nasal consonant, the homorgan of Sumbawa Sasak Protolanguage (PSS), they are: * mb> T, BSM: m, * nd> T, BSM: n; * ng> T, BSM: N; * nj> T, BSM: * ñ , which in consonant order of Sasak language the PSS is still used, and the lexical kinds is an old form of Protolanguage Sasak-Sumbawa * bÇras> mÇniq 'rice', * ubad> Mido 'cure' is an inheritance of PSS in Sasak language is a bÇras and É”at, (3). The adoption language elements of Sasak language into the Sumbawa Siren and Sumbawa Taliwang language is not a language shift, but its to enrich their vocabulary, it based on two facts, they are: a) the adoption of language elements are Intensive, it accompanies by the ability of speakers to doing a code switching in Sasak language; 2) quantitatively, the using of Sumbawa Siren and Sumbawa Taliwang variants by speakers is still in safe condition, because the choice of language position in the highest percentage (100%) both in domain of family and neighborhood in fellows variant.
Kata Kunci : enklave, isolek, dialektometri, inovasi bersama, adopsi bahasa