Laporkan Masalah

Makna Puisi Zuhdiyyat dalam Diwanu Abi Nuwasi Karya Ahmad ‘Abdul-Majid al-Gazaly: Kajian Semiotika Riffaterre

Elis Siti Julaihah, Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.

2012 | Tesis | S2 Sastra

Setiap karya sastra yang diciptakan tidaklah berarti apa-apa bila tidak ada peran pembaca untuk memaknainya, khususnya yang dilakukan dalam penelitian ini, yakni pemaknaan puisi zuhdiyya>t Abu> Nuwa>s yang terhimpun dalam Di>wa>nu Abi> Nuwa>s yang disusun oleh Ahmad ‘Abdul-Maji>d al-Gaza>ly. Dalam pemaknaan tersebut diperlukan identifikasi terhadap tanda-tanda yang muncul dalam teks puisi. Oleh sebab itulah, dibutuhkan teori semiotik yang menganggap karya sastra (puisi) sebagai sebuah sistem tanda. Teori semiotik yang dikemukakan Michael Riffaterre dipilih dalam penelitian ini karena dianggap mampu mengungkap makna yang terkandung dalam puisi. Puisi menyatakan suatu hal yang mengandung arti bukan seperti yang diungkapkan dalam bait-bait puisi, tetapi mengandung sesuatu yang lain. Untuk mengungkap makna yang terkandung dalam lima puisi yang diteliti, yaitu puisi A>sifun ‘alal-Ma>d}y, Afirru Ilayka Minka, an-Nafsu wad-Dunya>, Alla>hu A‘la>, dan Tad}arraʻa, diaplikasikan dua pembacaan semiotik yaitu pembacaan heuristik dan hermeneutik. Dalam pembacaan heuristik dilakukan pembacaan sesuai konvensi bahasa. Adapun dalam pembacaan hermeneutik dimulai dengan pencarian hipogram potensial, identifikasi matriks, model, dan varian, kemudian ditelusuri hipogram aktual yang menjadi latar penciptaan masing-masing puisi. Berdasarkan pembacaan heuristik ditemukan arti yang heterogen, yang belum cukup untuk memahami makna puisi secara utuh. Melalui pembacaan heurmeneutik ditemukan lima makna puisi, yaitu khawf, raja`, zuhud, fana dan baqa`,dan tobat. Kelima makna ini mengandung indikasi tasawuf, dapat pula dikatakan sebagai embrio tasawuf sunni/ akhlaki yang kemudian dikembangkan oleh para tokoh sufi setelahnya.

Every literary genre means nothing without the reader attempting to define it, which is particularly true in this research on the significance of Abu> Nuwa>s' poem, zuhdiyya>t. The poem is compiled in Di>wa>nu Abi> Nuwa>s that was written by Ahmad ‘Abdul Maji>d al-Gaza>ly. The research for significance calls for identification of signs found in the poem texts. Semiotics theory, therefore, is needed to view literary work (poem) as a sign system. The theory of semiotics put forward by Michael Riffaterre has been chosen in the research since it is considered able to disclose significance of the poem. A poem says one thing and means another. It means a poem reveals significance not as expressed in the verses but something else. In an attempt to express the significance of five chosen poems, A>sifun ‘alal-Ma>d}y, Afirru Ilayka Minka, an-Nafsu wad-Dunya>, Alla>hu A‘la>, and Tad}arraʻa, the writer applied two acts of semiotics reading; heuristic reading and hermeneutics reading. The heuristic reading finds meaning in line with normative language. While hermeneutics reading presents potential hypogram seeking, identification of matrix, model, and variants which delve into actual hypogram as a background of the poem creation. The heuristic reading suggests heterogen meaning, it less adequate to understand the full significance of poem. While hermeneutics reading points out core significance of the poem concerning sufism such as khawf, raja>`, zuhud, fana>`, baqa>`, and tawbat. The five concepts constitute embriyos of sunni/ akhlaqi sufism which have been extended by further sufi scholars and figures.

Kata Kunci : semiotik, pembacaan heuristik, pembacaan hermeneutik, tasawuf


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.