Laporkan Masalah

Seniman Tradisional di Tengah Popularitas Jember Fashion Carnaval (Studi tentang Konstruksi Kesenian di Kabupaten Jember)

Jati Arifiyanti, Arie Sujito, M.Si.

2012 | Tesis | S2 Sosiologi

Dasar pemikiran yang melandasi penelitian ini adalah keberagaman seni yang ada di Jember, baik tradisional maupun kontemporer. Seniman tradisional diidentikkan dengan adanya pakem-pakem dalam memerankan keseniannya, hal ini berbeda dengan Jember Fashion Carnaval (JFC) sebagai seni kontemporer. Konstuksi pengetahuan wacana JFC oleh media massa adalah sebuah ajang peragaan busana ternama di Jember dan terbesar lintas nasional-global. Kesenian lokal di Jember tidak luput dari eksistensi dan peredupan. Di satu sisi, kondisi kesenian tradisional bisa saja mengalami keterhimpitan. Di lain sisi, muncul seni fesyen karnaval kontemporer yang mampu menjadikan Jember sebagai wacana kota karnaval di dunia. Penampilan JFC tidak terlepas dari peran media massa, yang selalu terkini dalam mengabarkan pemberitaan pertunjukkannya dan mengkonstruksi JFC sebagai identitas Jember, sedangkan kesenian tradisional jauh dari kepopuleran media. Bertitik tolak dari fenomena tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana seniman tradisional memaknai keseniannya, JFC, dan isu marginalisasi keseniannya? Kemudian, strategi apa yang dikembangkan seniman tradisional agar tetap berkesenian? Peneliti nantinya akan membingkai analisanya dengan teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, dengan menggunakan perspektif konstruktivisme, yang menekankan pada realitas sosial sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Adapun lokasi penelitian spesifiknya adalah wilayah-wilayah di dalam lingkup Kabupaten Jember yang merupakan tempat para seniman tradisional berkreasi dengan kesenian pinggirannya. Teknik pengambilan informan adalah bola salju. Kriteria informan adalah para seniman tradisional Jember (Jawa dan Madura) yang masih eksis berkesenian maupun yang mengalami peredupan eksistensi. Data yang dihimpun merupakan data primer dan sekunder, yang dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Selanjutnya, dilakukan analisis data secara kualitatif tentang adanya konstruksi ruang berkesenian dan diskursus JFC oleh para seniman tradisional. Hasil konstruksi seniman tradisional terhadap kondisi kesenian bahwa masih tersedianya kesempatan berkesenian, namun tergantung dari adanya regenerasi dan dukungan dari semua pihak, terutama perhatian Pemkab Jember. Konstruksi seniman tentang JFC adalah bentuk penerimaan dan penolakan. Konstruksi seniman terkait isu termarginalkannya mereka karena JFC, ditegaskan bahwa tidak ada kaitan langsung tentang keberadaan JFC terhadap terpinggirkannya kesenian tradisional. Sejauh ini, mereka yang merasa terpinggirkan karena minimnya bentuk perhatian Pemkab Jember yang dirasa tidak sebanding dengan dana besar yang dianggarkan Pemkab untuk JFC. Seniman melakukan strategi berkesenian di tengah tuntutan globalisasi dan modernisasi. Strategi tersebut merupakan upaya agar seniman tidak termarginalkan karena mereka juga dapat termarginalkan dengan sendirinya.

Based of this study is the diversity of arts in Jember both Traditional and contemporary. Traditional artist is identified by grip in the art plays. This is different from the Jember Fashion Carnaval (JFC) as a contemporer art. Construction of discourse knowledge of JFC by mass media is a famous fashion event in Jember and biggest global and national. Local art in Jember related with the existence and dimming. One hand, traditional art condition can be marginalized. One the ather hand, there are contemporary art fashion parade which is able to make Jember as discourse of carnival in the world. The role of mass media to promote JFC show and construct JFC as a Jember identity, but the traditional art isn’t be promoted. Based on these phenomenon, researcher wants to see how traditional artist s interpret traditional art, JFC, and the issue of marginalization their art? Then, what strategy are developed to keep the traditional art of artist? Reseacher will be framing its analysis to the theory of social construction of Peter L. Berger. This is a qualititative research approach, using a constructivist perspective, which emphasizes the social reality as a social construction created by the individual. Location of this study is in Jember, where the traditional artist create with the art. Informants are selected by snowball technique. Criteria informants were traditional artists of Jember that still exist or have dimming. Data collected by the primary and secondary data, which is done by observation, interviews, documentation, and literature. Then, an analysis of qualitative data about the construction of space art and discourse JFC by traditional artists. Result of construction of traditional artists to condition of art that art opportunities still available, but depending on the regeneration and the support of all parties, especially the attention of goverrnment of Jember regency. Construction of artists to JFC is acceptance and rejection form. There are not related on the existence of JFC againts the marginalization of traditional art. The traditional artists who feel marginalized because of lack of attention of government of Jember regency were deemed not worth the huge funds budggeted for the JFC. Artists make art strategy in globalization and modernization demands. These strategy is an effort of artists that they are not marginalized because they can also be marginalized itself.

Kata Kunci : Konstruksi, Marginal, Kesenian Tradisional, JFC


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.