DARA JINGGA; NASKAH LAKON KARYA WISRAN HADI; SEBUAH PARODI TERHADAP KEKUASAAN
RUSYDA ULVA, S. S., Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S. U
2012 | Tesis | S2 SastraPenelitian ini menggunakan naskah lakon Dara Jingga (1984) karya Wisran Hadi sebagai objek material. Penelitian dilakukan dengan menggunakan teori parodi postmodern model Linda Hutcheon. Teori parodi digunakan untuk menemukan makna-makna implisit dan eksplisit sebagai interpretasi baru dari penyimpangan cerita mitos dan teks sejarah yang menjadi latar penciptaan lakon Dara Jingga. Dengan demikian, dapat mengungkap kritikan-kritikan pengarang sebagai implementasi dari parodi dalam lakon ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah lakon Dara Jingga merupakan parodi dari mitos Dara Jingga atau Bundo Kanduang serta teks sejarah Pamalayu. Parodi dalam naskah lakon ini merupakan media yang digunakan pengarang untuk memberi tanggapan kritis terhadap penyimpangan kekuasaan yang dilakukan rezim penguasa serta pengaruhnya terhadap sistem sosial di Minangkabau. Kritik yang ingin disampaikan mengenai kekuasaaan di antaranya mengkritik bentuk pemerintahan yang otoriter tanpa memberikan kebebasan berpendapat, mengkritik penguasa yang memonopoli sejarah, serta mengkritik kekuasaan yang dijalankan dengan menggunakan kekerasan. Persoalan kekuasaan yang ditanggapi Wisran Hadi dalam lakon ini juga dilihat hubungannya dengan konteks sosial di Minangkabau. Akibat dari pengaruh itu membawa perubahan dalam sistem sosial masyarakat di Minangkabau. Penelitian ini juga melihat kritikan-kritikan pengarang terhadap perubahan dalam sistem sosial di Minangkabau tersebut. Di antara perubahan yang dikritisi itu antara lain; mengenai pergeseran peranan pemimpin adat di Minangkabau, mempertanyakan kebenaran dari kekaburan sejarah Minangkabau, mengkritik pelaksanaan sistem kekerabatan di Minangkabau, dan mengenai kedudukan perempuan yang semakin melemah di Minangkabau.
This research uses Dara Jingga (1984) playscript by Wisran Hadi as the material object. The research is done by using the postmodern parody theory of Linda Hutcheon. Parody theory is utilized to find the implicit and explicit meanings as a new interpretation of the mythical and historical background of Dara Jingga script play. In so doing, it can reveal the author criticisms as an implementation of parodies in this act. The result of this research points out that the playscript of Dara Jingga is a parody of Dara Jingga or Bundo Kanduang myth and Pamalayu history text. Parody in this script play is a media used by the author to give a critical response toward power deviation which is done by power regime and its influence to the social system in Minangkabau. The criticisms toward power that are being passed on among others: criticizing authoritarian government form which prevents the freedom of expressing opinion, criticizing the power holder that monopolizes history, and criticizing power that is carried on with violence. The problems of power that are commented by Wisran Hadi in this play are also seen in its relations to social context in Minangkabau. This research sees author criticisms to some changes happening in the social system of Minangkabau. Several criticisms to those changes are for example: questioning the truth of Minangkabau's history dimness, criticizing the shifting role of custom chief, the kinship system performing and the sapping female position in Minangkabau.
Kata Kunci : Parodi, kritik, kekuasaan, perubahan sosial