Faktor Risiko Kejadian Difteri di Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur
Asih Setiasih, dr. Ratni Indrawanti, SpA.
2011 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang : Kasus difteri di Kota Surabaya muncul sejak tahun 2000, jumlahnya cenderung meningkat. Peningkatan siginifikan tahun 2007 dan sampai tahun 2010. Jumlah kasus pada tahun 2007 sebanyak 18 kasus, meskipun tahun 2008 terjadi penurunan jumah kasus tapi pada tahun 2009 dan 2010 meningkat lagi. Penyebaran kejadian peningkatan kasus difteri di Kota Surabaya semakin meluas dari 31 kecamatan yang ada 13 kecamatan tahun 2007 dan 21 kecamatan pada tahun 2010 ada kasus difteri. Surabaya merupakan tujuan tujuan urbanisasi dengan segala eksesnya memperrmudah penyebaran difteri. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui faktor risiko kejadian difteri di Kota Surabaya Propinsi Jawa Timur. Metode penelitian : Penelitian ini observasional analitik dengan metode kasus kontrol. Kasus difteri adalah anak usia 1-18 tahun yang dinyatakan sebagai penderita difteri maupun karier berdasarkan hasil diagnosis klinis dan pemeriksaan laboratorium yang berasal dari laporan puskesmas dan rumah sakit dan tercatat pada program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2010. Kontrol adalah anak usia 1- 18 tahun bukan penderita atau karier yang berasal dari lingkungan yang sama dengan kasus. Pengambilan sampel secara â€consecutive sampling.†Jumlah sampel masing-masing 78 orang untuk kasus dan kontrol. Variabel bebas pada penelitian ini adalah kepadatan hunian, status imunisasi, status sosial ekonomi keluarga, mobilitas dan perilaku sedangkan variabel terikat adalah kejadian difteri. Analisis data menggunakan analisis Chi square dan regresi logistik. Hasil : Kejadian difteri di Kota Surabaya tahun 2010 sebanyak 46 kejadian. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa status imunisasi (Ïvalue = 0,010 & OR = 0,230 95%CI 0,075-0,700) dan perilaku penggunaan alat makan/minum bergantian tanpa dicuci terlebih dahulu (Ï value = 0,009 & OR = 2,459, 95%CI 1,251-4,831) merupakan faktor risiko difteri di Kota Surabaya. Kesimpulan : Perilaku penggunaan makan/minum bergantian tanpa dicuci terlebih dahulu merupakan faktor risiko paling dominan pada kejadian difetri di Kota Surabaya setelah mengontrol pengaruh variabel status imunisasi.
Background: Cases of diphtheria at Surabaya City have been increasing since its emergence in 2000. The increase from 2007 to 2010 was significant. There were 18 cases in 2007; despite the decrease in 2008 the number increased in 2009 and 2010. Incidence distribution of increased cases of diphtheria at Surabaya Municipality is growing wider, from 13 of 31 Subdistricts in 2007 to 21 of 31 Subdistricts in 2010. Surabaya is a destination of urbanization and all its excesses have enable the widespread of diphtheria. Objective: To identify risk factor of diphtheria at Surabaya City, Province of Jawa Timur. Method: Analytic observational study with case control design. Cases were children of 1-18 years old as patient or carrier of diphtheria based on the result of clinical diagnosis and laboratory examination obtained from reports of health centers and hospitals and recorded in the surveillance program of Surabaya Municipal Health Office 2010. Control consisted of children of 1-18 years old non diphtheria patient or carrier coming from the same environment with the cases. Samples were taken using consecutive sampling technique, as many as 78 for cases and 78 for control. The independent variables of the study were occupancy density, immunization status, social economic status of the family, mobility and behavior whereas the dependent variable was the incidence of diphtheria. Data analysis used chi square and logistic regression technique. Result: There were 46 cases of diphtheria at Surabaya City in 2010. The result of multivariate analysis showed that status of immunization (p value=0.010 & OR=0.230 95% CI 0.075-0.700) and behavior of using eating/drinking utensils in turn without washing/cleaning (p value=0.009 & OR=2.459, 95% CI 1,251-4.831) were risk factors of diphtheria at Surabaya City. Conclusion: Behavior of using eating/drinking utensils in turn without washing was the most dominant risk factor for the incidence of diphtheria at Surabaya City after the control of the impact of variable of immunization status.
Kata Kunci : Faktor risiko, difteri, Surabaya