Laporkan Masalah

Integrasi ilmu dan agama dalam perspektif filsafat Mulla Sadra

KUSWANJONO, Arqom, Promotor Prof. Dr. Damardjati Supadjar

2008 | Disertasi |

Persoalan hubungan antara ilmu dan agama muncul pertama kali di Barat pada Abad Pertengahan, ketika terjadi pertentangan pendapat antara ilmuwan dan agamawan (gereja) tentang pusat alam semesta. Ilmuwan berpandangan bahwa pusat alam semesta adalah matahari (heliosentris), sedangkan agamawan berpandangan bahwa pusat tersebut adalah bumi (geosentris). Peristiwa itu menandai babak baru berkembangnya wacana hubungan antara ilmu dan agama secara akademik. Problem epistemologi yang kemudian berkembang hingga saat ini adalah terkait dengan diterima atau tidaknya agama (baca: wahyu) sebagai sumber ilmu. Paling tidak ada tiga sikap terkait dengan hal ini, yaitu 1) upaya memisahkan ilmu dan agama yang dilakukan oleh sekularisme, 2). upaya menggantikan agama dengan ilmu yang dilakukan oleh saintisme, dan 3). upaya untuk menyatukan ilmu dan agama yang dilakukan oleh integralisme. Problem epistemlogis tersebut kemudian memunculkan pertanyaan ontologis tentang apa hakikat ’yang ada’ itu bersifat material atau imaterial, persoalan ini berimplikasi pada pertanyaan tentang keberadaan Tuhan. Pertanyaan aksiologis juga muncul yaitu berkenaan dengan apakah ilmu bebas nilai atau tidak, mengingat begitu banyak problem alam dan kemanusiaan yang diakibatkan dari berkembangnya ilmu dan teknologi tersebut. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan pokok, yaitu bagaimana hubungan antara ilmu dan agama, dan bagaimana konsep integrasi ilmu dan agama dalam perspektif Filsafat Mulla Sadra. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dengan menggunakan metode analitiko-sintesis, kesinambungan historis, komparasi, interpretasi dan heuristik. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah pertama, ilmu dan agama memiliki empat hubungan, meliputi: konflik, independen, dialog dan integrasi. Integrasi juga memiliki beberapa tipe, yaitu integrasi teologis (Ian Barbour), agama sebagai konfirmasi ilmu (John Haught), integration of knowledge (Oliver L. Reiser), Islamisasi ilmu (Naquib Al Attas dan Ismail Raji Al Faruqi), dan pengilmuan Islam (Kuntowijoyo). Kedua, konsep integrasi ilmu dan agama dalam perspektif Filsafat Mulla Sadra merupakan integrasi filosofis yang dibangun di atas landasan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Secara ontologis hubungan ilmu dan agama adalah integratif-interdependentif, yaitu ilmu dan agama saling bergantung satu sama lain. Tidak ada ilmu tanpa agama dan tidak ada agama tanpa ilmu. Secara epistemologis, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif- komplementer, yaitu seluruh metode yang diterapkan dalam ilmu dan agama (panca indera, rasio, intuisi dan wahyu) secara sinergis diterapkan dalam menemukan kebenaran. Secara aksiologis, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif-kualifikatif, artinya seluruh nilai (kebenaran, kebaikan, keindahan dan keilahian) saling mengkualifikasi satu dengan yang lain. Ilmu tidak bebas nilai, ilmu tidak hanya berhubungan dengan nilai kebenaran, tetapi juga dengan nilai kebaikan, keindahan dan keilahian.

The problem of relationship between science and religion emerged in the first time in the West at the Middle Ages, when the controversy about the center of the universe occurred between scientists and theologians. According to scientists the sun was the center of universe (heliocentric), while theologians stated that the center of universe was the earth (geocentric). It was the starting point of the discourse of relationship between science and religion academically. An epistemological problem which was raised from this problem was about religion (revelation) ought to be accepted or to refused as the source of science. There are, at least, three positions related to the matter, namely: 1) effort to dissociate science and religion which was done by secularism, 2) effort to replace religion with science which was done by scientism and 3) effort to unite science and religion which was done by integralism. This epistemological problem subsequently raising an ontological question about “is the essence of being material or immaterial?” This question, of course, will implicate on the problem of God existence. Axiological question also emerges from it, namely “is science value free or not?” with regard to many problems of nature and humanities are caused by the developing of science and technology. This research will answer two questions, i.e., how does the relationship between science and religion and how does the concept of integration between religion and science in philosophy of Mullâ Shadrâ perspective. This is a library research by using methods of analytic-synthetic, historical continuity, comparison, interpretation and heuristic. The results are: firstly, science and religion have four relations, namely: conflict, independent, dialogue and integration. Integration also has many types, which are: theological integration (Ian Barbour), religion as a confirmation of science (John Haught), integration of knowledge (Oliver L. Reiser), Islamization of science (Naquib Al Attas and Ismail Raji), and scientification of Islam (Kuntowijoyo). Secondly, the concept of integration between science and religion in philosophy of Mullâ Sadrâ perspective is a philosophical integration which is built upon the unity of ontology, epistemology and axiology. Ontologically, the relationship between science and religion is interdependent-integration, it means that science and religion dependent each other. There is no science without religion and there is no religion without science. Epistemologically, the relationship between science and religion is complementary-integration; it means that all methods which are applied in science and religion (sense experience, reason, intuition and revelation) synergically used to find out the truth. Axiologically, the relationship between science and religion is qualificative-integration, it means that all values (truth, goodness and Divineness) qualify each other. Science is not value free; science is not only related to the truth, but also to goodness, beauty and Divineness values.

Kata Kunci : Ilmu, Agama, Integrasi, Mulla Sadra, science, religion, integration, Mulla Shadra


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.