Networking dalam Yogyakarta Emergency Service 118 (YES 118)
WIDIASTUTI, Ana, Dr. Ambar Widaningrum, MA
2009 | Tesis | S2 Magister Administrasi PublikSeiring dengan berkembangnya pendekatan governance dalam pengelolaan masalah publik yang melibatkan unsur pemerintah, swasta dan masyarakat, kompleksitas pengelolaan muncul karena masing-masing pihak mempunyai otonomi dan relasi yang terbentuk merupakan hubungan horizontal. Dengan relasi bersifat horizontal, pendekatan secara hirarkhis tidak sesuai lagi. Fenomena demikian terjadi dalam pengelolaan layanan publik Yogyakarta Emergency Services (YES) 118 yang merupakan jaringan kerjasama antara pemerintah,masyarakat dan swasta dalam layanan kegawatdaruratan medis yang terjadi di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui networking (jaringan kerjasama) yang terjadi dalam YES 118 dengan tujuan khusus mengetahui pola relasi, saling ketergantungan (interdependensi) dan pengelolaan jaringan kerjasama dalam upaya memberikan layanan yang cepat dan tepat atas kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi di masyarakat. Untuk mendapatkan gambaran tentang jaringan kerjasama (networking) dalam YES 118 dalam penelitian ini dilakukan penelitian di 9 rumah sakit, PMI Cabang Kota Yogyakarta serta Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Data diperoleh dengan teknik wawancara, studi dokumen, pengamatan serta diskusi kelompok terarah yang diikuti para pihak yang terlibat dalam jaringan kerjasama. Informan dalam penelitian ini meliputi pimpinan institusi yang terlibat dalam jaringan kerjasama, para koordinator YES 118 masing-masing institusi, petugas UGD rumah sakit, pasien UGD rumah sakit serta relawan PMI. Data yang terkumpul dianalisa dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa di Kota Yogyakarta pemerintah, swasta dan masyarakat yang memiliki peran dalam layanan gawat darurat medis dengan tata cara dan prosedur masing-masing, bekerjasama memberikan layanan terpadu dengan nama Yogyakarta Emerrgency Services 118 (YES 118). Relasi yang terjadi, baik berupa komunikasi maupun koordinasi secara normatif telah diatur sejak awal dengan penyusunan peraturan formal, akan tetapi pada tahap operasional lebih banyak terjadi proses negosiasi dan kompromi. Saling ketergantungan yang terjadi berupa ketergantungan terhadap sumberdaya yang dimiliki masing-masing institusi untuk pemberian layanan gawat darurat. Pengelolaan yang dilakukan dalam jaringan kerjasama yang mengedepankan relasi horizontal dan menjamin otonomi masing-masing institusi melibatkan institusi kesehatan saja pada tahap operasional menyisakan masalah masih adanya kasus gawat darurat yang tidak tertangani, perbedaan persepsi diantara para pihak yang terlibat serta minimnya partisipasi salah satu pihak (rumah sakit) dalam layanan pre-hospital. Strategi kebijakan yang bisa disarankan adalah melibatkan aktor baru dalam layanan, terutama dari kepolisian dan pemadam kebakaran, mengubah persepsi bahwa perlu sistem terpadu untuk melayani semua panggilan gawat darurat baik ke call center 118 maupun panggilan ke rumah sakit serta mengubah kebijakan pemilihan tim ambulans tidak hanya berdasarkan kedekatan namun juga ketersediaan layanan.
Along with the development of the governance approach in the management of public problems which involves government, private sector and society, the management complexity emerges because each party has its own autonomy and relation which is formed horizontally. This horizontal relation makes hierarchical relation is no longer appropriate. That phenomenon happened in the management of public service in Yogyakarta Emergency Service (YES) 118, a networking among the government, private sector and also society in serving medical emergency in Yogyakarta. This research is aimed to know about YES 118 networking, while the special purpose is to know the pattern of relation, interdependence, and networking management in order to give proper and fast service for medical emergency in the society. To get a clear description about YES 118 networking, the research is done in 9 hospitals, Indonesia Red Cross branch in Yogyakarta, and also District Health Office in Yogyakarta. The data is collected by doing interview, document studies, observations, and also group discussion followed by some parties involved in the networking. The informants in this research are the heads of institutions involved in the networking, YES 118 coordinators from each institution, Emergency Unit officers from hospital, the patient of Emergency Unit, and volunteers of Indonesia Red Cross. All data is collected by using qualitative approach. From the research we can get description that in Yogyakarta, the government, private sector and also society have roles in medical emergency service by using their own ways and procedures. Realizing that there are some limitations in each party, they cooperate to give united service called Yogyakarta Emergency Services 118 (YES 118). The existed relation, either in normative communication or coordination, has been arranged from the beginning by using formal regulations. However, in operational level there are more negotiation and compromise process. The interdependence in that networking is interdependent on sources of each institution to give medical emergency services. The management in the networking that put forward horizontal relation and guarantee the autonomy of each institution which only involves health institution on the operational level, leave some unhandled medical emergency, different interpretations among the involved parties, and also minimum participation of one party (hospital) in prehospital service. It is necessary to involve other safety agent like police and fireman in this collective action, make a new perception that need united system to give emergency service for all emergency call either 118 call or hospital number call. It is also necessary to send ambulance team not only based on closeness but also the ability of service.
Kata Kunci : Networking,Emergency service,Relasi,Interdependensi