Laporkan Masalah

Ritual Ahacu Alo :: Analisis makna ritual seratus hari pascakematian pada masyarakat Cia-Cia Burangasi Kabupaten Buton

JANU, La, Prof. Dr. Soehardi, M.A

2009 | Tesis | S2 Antropologi

Penelitian ini mengkaji ritual ahacu alo (ritual seratus hari pascakematian) sebagai salah satu unsur budaya masyarakat Cia-Cia Burangasi Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara spesifik, kajian ini berusaha menganalisis bagaimana makna ritual tersebut bagi masyarakat pendukungnya masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis etnografik. Ritual ahacu alo dilaksanakan sehubungan dengan tekanan bathin atau krisis mental akibat peristiwa kematian anggota keluarga mereka. Mereka khawatir terhadap keselamatan roh tersebut karena harus melewati perjalanan panjang dan penuh dengan berbagai tantangan atau marabahaya. Mereka percaya bahwa masa krisis dan penuh bahaya gaib tersebut tidak hanya menyangkut individu saja (orang yang meninggal), namun juga menyangkut keselamatan anggota keluarga (kerabat) dan bahkan keseluruhan masyarakat. Secara keseluruhan ritual ahacu alo bertujuan menormalisasi kondisi kehidupan keluarga atau kerabat yang labil akibat kematian dengan cara mendekonstruksikan kondisi kehidupan yang ada dan sekaligus merekonstruksikannya kembali sehingga menjadi baru (proses refleksi formatif). Dalam kondisi kehidupan yang baru tersebut, aktivitas hidup keseharian nampak berjalan normal dan harmonis tanpa adanya perasaan cemas, sedih, tertekan, dan sejenisnya. Ritual ahacu alo memiliki beberapa makna bagi kehidupan masyarakat pendukungnya masa kini. Di antara makna tersebut yaitu: makna religius, makna sosial, dan makna pewarisan nilai budaya. Secara religius, ritual ahacu alo merupakan sarana untuk menjalin hubungan atau berkomunikasi dengan Allah SWT maupun dengan makhluk-makhluk halus seperti halnya roh anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Melalui ritual, mereka meminta agar roh orang yang meninggal dunia dalam perjalanannya menuju keabadian (syurga) dapat memperoleh keselamatan atau perlindungan. Bagi keluarga atau kerabat yang ditinggalkan, diharapkan senantiasa stabil dan terhindar atau terpelihara dari segala macam gangguan yang disebabkan oleh roh tersebut. Dari sudut sosial, ritual ahacu alo merupakan sarana untuk mempererat kembali relasi-relasi sosial yang mungkin telah melemah dan berkurang karena berbagai rutinitas hidup keseharian atau karena batas geografis, dirajut kembali melalui peran dan aktivitas yang dimainkan dalam arena ritual tersebut. Sedangkan bila dilihat dari sudut pewarisan nilai budaya, ritual ahacu alo merupakan sarana pembelajaran bagi mereka-mereka yang belum berpengalaman. Keterlibatan masyarakat awam, kalangan remaja dan anak-anak dalam prosesi ritual, diharapkan dapat menjadi sarana untuk memahami nilai-nilai ataupun makna ritual tersebut dalam diri mereka, melaksanakan dan melestarikan unsur budaya tersebut.

This research examines of ahacu alo ritual (ritual 100 days after death) in Ciacia community Burangasi Buton, South East Celebes Province. This research is conducted to identify answers for the concerning problems described of its present the importance of ahacu alo ritual in even the whole community. This study use qualitative research method with participation observation and in depth interview as data collecting method. While data analysis, is done through ethnographic analysis technique. Ahacu alo ritual is carried out by reason of mental pressure or mental crisis caused by the death in family member. They concern about safety of spirit of the death given that the spirit has to experience a long and dangerous passage. They believe that this spiritually dangerous crisis time is not about the death only but cover up the whole family and even the whole community. In general, ahacu alo ritual has a purpose to normalize the unstable life condition of the relatives or family because of a death through deconstructing the existing life condition and reconstructing it into the brand new one at the same time (formative reflection process). In such condition of brand new life, daily activities seem harmonious and normal without any fears, distress, depressed and the like. Ahacu alo ritual contains several meanings for the life of its present supporting community. To name but a few there are religious meaning, social meaning, and cultural inheritance meaning. In religious perspective, ahacu alo ritual serves as a mean to establish contact or communicate with Allah SWT and spiritual creatures such as spirits of departed relatives. Through this ritual, they appeal a safe passage to eternity (heaven) for the death. Furthermore, it is hoped that the forsaken relatives are in stability and always protected from harms caused by the spirit of the death. From social viewpoint, ahacu alo ritual is a mean to reinforce the possibly deteriorated and reduced social relationship strength due to daily routine activities or geographic boundaries; it is rejuvenated through the function and activities during the ritual. As for the cultural inheritance, ahacu alo ritual is a learning hub for the inexperienced ones. Public participation, the youth, and also children during the ritual hopefully will serve them a way to understand the values as well as the ritual significance, to undertake and to preserve this cultural aspect.

Kata Kunci : Ritual,Ahacu Alo,Makna,


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.