Laporkan Masalah

Perbandingan angka kejadian nyeri tenggorokan pasca operasi dengan menggunakan sungkup laring dan pipa trakea

ASLAMTO, Bambang, Dr. Bambang Suryono S, SpAn.KIC.KNA.M.Kes

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinik

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan angka kejadian nyeri tenggorokan pascaoperasi dengan sungkup laring dan pipa trakea, dengan menggunakan desain uji klinik acak terbuka. Ruang lingkup penelitian adalah pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum di GBST RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Subyek berjumlah 128 pasien terdiri dari laki-laki dan perempuan, umur 18-50 tahun, status fisik ASA I dan II. Subyek dibagi dua kelompok, masingmasing kelompok terdiri dari 64 pasien. Kelompok A adalah kelompok yang menggunakan pipa trakea dan kelompok B adalah kelompok yang menggunakan sungkup laring, dengan pengukuran utama nyeri tenggorokan setelah pasien sadar penuh dan 24 jam pasca ekstubasi. Karena adanya kejadian drop out pada subyek penelitian, maka yang dapat melanjutkan penelitian berjumlah 123 pasien. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian nyeri tenggorokan setelah sadar penuh dan nyeri tenggorokan 24 jam pascaoperasi pada kedua kelompok ada perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Untuk nyeri tenggorokan setelah sadar penuh pada kelompok A yaitu dari 61 pasien 38 (62,3%) pasien yang mengalami nyeri tenggorokan. Sedangkan kelompok B lebih sedikit yang mengalami nyeri tenggorokan yaitu dari 62 pasien 8 (12,9%) pasien. Angka kejadian nyeri tenggorokan 24 jam pascaoperasi untuk kelompok A, dari 61 pasien 22 (36,1%) pasien yang mengalami nyeri tenggorokan, sedangkan kelompok B lebih sedikit yaitu dari 62 pasien 3 (4,8%) pasien yang mengalami nyeri tenggorokan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah angka kejadian nyeri tenggorokan pascaoperasi dengan anestesi umum pada penggunaan sungkup laring lebih kecil daripada pipa trakea, baik pada nyeri tenggorokan setelah sadar penuh maupun pada nyeri tenggorokan 24 jam pascaoperasi.

The objective of this research is to compare the incidence of sore throat post surgery with laryngeal mask airway and tracheal tube, using the design of double-blind randomized control trial. The scope of this research is patients who underwent elective surgery with general anesthesia in GBST RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. A hundred and twenty eight patients, female and male, age 18-50 years, ASA physical status I and II were enrolled in this study. They were divided into two groups, each group consisted of 64 patients. Group A used endotracheal intubation and group B laryngeal mask airway. Sore throat is recorded after the patien fully conscious and 24 hours post extubation. Since there were drop out events, the number of samples is decreased to 123 patients. The research shows that sore throat incidence is greater in endotracheal intubation group than laryngeal mask airway group significantly (p<0.05), at both time, fully conscious and 24 hours post extubation. At time of fully consious, the sore throat incidencies in group A are 62.3% (38 patients) and group B are 12.9% (8 patients). At 24 hours post extubation time, the sore throat incidence also lower in group A than B (36.1% vs 4.8%). The conclusion is the incidence of sore throat in general anesthesia using laryngeal mask airway higher than endotracheal tube.

Kata Kunci : Pipa trakea,Sungkup laring,Nyeri tenggorokan, endotracheal tube, laryngeal mask airway, sore throat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.