Pengaruh perubahan struktur keluarga terhadap penyimpangan Harta Pusaka Tinggi di Minangkabau :: Studi tentang masyarakat yang melakukan praktek pagang gadai di Desa Air Santok Kabupaten Padang Pariaman
FITLAYENI, Rinel, Drs. Suharman, M.Si
2009 | Tesis | S2 SosiologiBeberapa tahun belakangan ini di Sumatera Barat intensitas konflik menyangkut kepemilikan tanah ulayat (harta pusaka tinggi) cukup tinggi. Bahkan konflik tersebut tidak jarang menimbulkan korban nyawa dan harta. Dalam adat Minangkabau tidak ada orang yang mau menggadaikan bahkan menjual hartanya terutama harta pusaka tinggi seperti : tanah, atau sawah, karena selain harta demikian merupakan milik bersama, hukum adat pun tidak membenarkannya. Seiring dengan perjalanan waktu telah terjadi perubahan sosial pada masyarakat Minangkabau terutama perubahan struktur keluarga yang berakibat pada terjadinya penyimpangan praktek pagang gadai. Gadai tidak lagi didasarkan pada syarat-syarat yang telah ditentukan oleh adat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh perubahan struktur keluarga terhadap praktek penyimpangan harta pusaka tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, Penelitian dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu individu, kelompok, lembaga atau gejala tertentu dengan daerah atau subyek yang sempit. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terlibat, serta wawancara terbuka dan mendalam. Informan penelitian dibagi menjadi dua bagian, yaitu informan kunci yang terdiri dari Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan informan biasa terdiri dari enam keluarga meliputi mamak, dan para pemilik harta pusaka tinggi. Hasil penelitian menunjukkan, terjadinya penyimpangan terhadap harta pusaka tinggi dipengaruhi oleh perubahan struktur keluarga. Perubahan struktur keluarga ini disebabkan oleh masuknya agama Islam, budaya merantau, modernisasi dan kapitalisme. Perubahan ini dapat dilihat dari 1) perubahan kepemimpinan dari mamak ke ayah, 2) perubahan terhadap fungsi dan tanggung jawab keluarga. Perubahan struktur keluarga memudahkan terjadinya penyimpangan terhadap harta pusaka tinggi (praktek pagang gadai) karena bergesernya otoritas mamak berakibat pada lemahnya kontrol sosial dan mekanisme kontrol sosial terhadap properti sebagai aturan yang mengatur prilaku para anggotanya. Aturan adat tanpa dikawal otoritas yang berwenang serta hukum (sanksi) yang tegas atas pelanggaran aturan adat akan menjadi sia-sia, sehingga penyimpangan akan terus terjadi. Adapun faktor utama terjadinya penyimpangan pagang gadai adalah 1) untuk membiayai kebutuhan hidup sehari, 2) menggelarkan perkawinan kemenakan, 3) membeli kuda (terutama kuda pacu), 4) keturunan habis, 5) biaya pendidikan anak mereka serta 6) modal usaha.
For the last several years in West Sumatera, the conflict of the ownerships relating to the inherited traditional land or property has been increased, which causes many people lose their life as well as property. In Minangkabau, the native people do not want to pawn or sell their inherited traditional wealth, such as the land or wet rice field, because the properties are collectively owned. Besides that, there are not allowed by the native customary law to be sold. However, the changes in the structure of family and social life in the people of Minangkabau cause divergence in pawning practice. The pawning process is not based on the criteria which are mentioned in customary law. The aim of this research is to see the influence of the change in family structure regarding the divergence practice on inherited traditional wealth. This research uses qualitative approach, by using case study method. This research is conducted intensively on individual, group, institution within the specific area or subject. The technique of collecting data is collected through direct observations as well as deep interview. The informant is categorized into two groups; the key informant consists of the Chief of Kerapatan Adat Nagari and ordinary informant consists of six families who consist of mother (Mamak) and the other owner of inherited traditional wealth. The finding of this research shows that the divergent on inherited traditional wealth has occurred because of the change within the structure of the family, influenced by Islam, the cultural of leaving outside the territory, and the influence of modernization and capitalism. The change can be seen from; (1) the change of leaderships of mother ( mamak ) to father, and (2) the change of the function and the responsibility of family. The change within family structure creates divergence on the inherited traditional wealth, occurred because of the transformation on the authority and leadership of the family. The transformation leads to the lack of the mechanism of social control on the properties as part of the rule to organise or regulate the behaviour of the members of the family. If the customary rules are not accompanied by a strong authority as well as traditional sanction on the divergence, then there is meaningless. As a result, the divergence can occur continuously. There are several factors which motivate the emerge of divergence; (1) fulfilling the necessity of daily life, (2) family’s wedding ceremony, (3) purchasing horse, specially race horse, (4) for the future descent’s saving, (5) children’s educational cost, and (6) private business.
Kata Kunci : Keluarga Luas, Harta Pusaka Tinggi, Extended Family, Inherited Traditional Wealth