Produksi dan reproduksi simbolik :: Memaknai konstruksi fisik dan ideologis Kota Palembang dari kolonial ke pascakolonial, 1930-1960-an
SANTUN, Dedi Irwanto Muhammad, Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A
2009 | Tesis | S2 SejarahKota, sebagai sebuah pemukiman manusia memiliki sejarah yang panjang, bertransformasi dalam gelombang perkembangan dan perubahan warganya. Perkembangan dan perubahan sebuah kota, secara fisik mempengaruhi tatanan kota dan warganya. Namun, secara batiniah, ideologis, terutama pandangan warganya, perkembangan tersebut belum tentu mengalami perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud melihat perubahan keruangan kota, Kota Palembang, terutama menghadirkan realitas sehari-hari warganya, artinya, kajian ini bukan saja melihat realitas sejarah pembentukan dan penciptaan simbol, tetapi diharapkan mampu membuat tafsir atas realitasnya secara komparatif, zaman kolonial dan pascakolonial. Dari sini akan terlihat bagaimana mereka memandang perubahan kotanya yang sedang bergolak adalah tujuan tulisan ini. Penelitian ini menggunakan metode histories. Selain menggunakan metode penyelidikan histories, ditambah juga metode penyelidikan observasi, pengamatan dan wawancara untuk pendalaman pemahaman, verstehen. Dalam penelitian ini penulis membuat suatu tulisan sejarah kota menyangkut pendeskripsian tentang pemaknaan suatu simbol dalam memahami identitas kotanya. Oleh karena itu, selain ilmu sejarah, digunakan juga ilmu-ilmu sosial lainnya sebagai pendekatannya yang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan kecermatan dalam mengamati fakta sejarah yang digunakan. Pada masa kolonial, terjadi perubahan konstruksi fisik yang sangat berbeda dengan masa sebelumnya, masa Kesultanan Palembang, kota air masa kesultanan berubah menjadi kota daratan masa kolonial. Simbol-simbol fisik dibangun dan sungai-sungai ditimbun untuk dijadikan jalan daratan. Namun jauh di atas konstruksi fisik seperti itu, ada sebuah semesta simbolik dari konstruksi ideologisnya bahwa kota ini merupakan sebuah kota dagang tradisional dari masa sebelumnya yang sedang berevolusi menjadi sebuah kota dagang modern. Bagaimana warga kotanya memaknai ini, maka yang terlihat adalah suatu pergulatan sehari-hari, siapa yang siap dengan kata modern, ia akan muncul menjadi pemenangnya, sebaliknya yang tidak siap akan menjadi pecundangnya. Ketika kota ini masuk ke alam pascakolonial, melalui “perjuangan†panjang atas pusat, hadir sebuah simbol kota yang memiliki dan memancarkan sinergi luar biasa, dalam bentuk Jembatan Ampera. Bagi pemerintah pusat, yang hadir dalam fisik dan rohnya Soekarno, sang penciptanya, jembatan ini merupakan pengindonesiaan dalam bentuk sebuah kota. pemaknaan sama terjadi dalam pemerintah kota, Jembatan Ampera adalah sebagai sebuah amanah, sebuah warisan dari penciptanya, yang perlu dijaga dan tetap dihidupkan, maka pemaknaan atas jembatan ini mirip dengan pemerintah pusat, ia adalah penciptaan Palembang baru. Konstruksi fisik ini pada ujungnya akan membentuk suatu konstruksi ideologis yang memiliki berbagai varian dan berakhir pada sebuah semesta simbolik, ia adalah muara modernisasi kota. Berdasarkan itu, maka sebuah produksi atas konstruksi fisik kota telah terjadi di pascakolonial dari masa sebelumnya, masa kolonial, dengan hadirnya Jembatan Ampera, yang dimaknai sebagai perlambang Palembang “baruâ€. Tetapi bersamaan dengan hal itu, maka sebuah reproduksi atas konstruksi ideologis, dengan semesta simbolik, sebagai kota modern, tengah bekerja kembali pada masa pascakolonial yang mirip dengan masa kolonial sebelumnya. Tampaknya di sini, yang memikul tanggung jawab dan berpartisipasi atas kota, kembali dipegang penguasa, para pejabat kota. Sementara penduduk kota, para warganya, karena ketidaksiapannya atas semesta simbolik ini, kembali meringkuk sebagai pecundang.
City as a settlement of humanbeing has long history, is transforming with the development and the tranformation of its society. However, in the frame of spritual and idealogy, in the its societies’ point of views, it does not undergo significant change. Therefore, considering the change of the structure of city space, Palembang city, this research not only observes the reality of symbol formation and its creation but also interprets the reallity and compares two orders: collonial and postcollonial era. The purpose of this reaserch is to present how the society remark their city tranformation. This reasearch uses historical method. Besides that this also uses observory method and deep interview, verstehen. In this research the writer writes about the history of city regarding the discription of symbol interpretation which is aimed to aknowledge the identity of the city. Furthurmore, this reasearch uses both historical science and some others social sciences as an approach to improve the understanding and the accuracy in observing the used historical facts. In the collonial periode, the physical contruction was different from that of which Palembang Sultanate. The city of water which existed in the Palembang Sultanate changed to be the city of land in collonial periode. The physical symbols were established and the rivers were piled made as streets. Above all, it is implied behind the physical contructions a symbolic universe from the ideological contruction which is meant this traditional trade city from the earlier periode was evolving being a modern trade city. How the society of the city interprete this, that it visiable in their daily interaction. People who are ready with term modern will become the winner otherwise those who are not ready will be losers. Through long strugle the society of this city in poscollonnial achieved to build an exraordinary symbol; Ampera bridge. For the central government, represented by Sukarno physicall and spritually, this brigde constituted the indonesiation the city. The same interpretation undergone by the local government, this bridge constituted a trust, heritage from the creator, which was should be kept and everlasted. Both central government and the local one interpreted this bridge as a New Palembang. This physical contruction in last will form idealogy contruction having several variation that finally become symbolic universe. Ampera bridge was the gate of the city modernization. Based on that, so the production on the physical contruction had occured in post-collonial periode from the earlier periode, collonial periode. Since that periode Ampera bridge became a symbol of New Palembang. As a result of this, a reproduction on ideological contruction, with symbolic universe, as modern city, existed again in the post-collonial period which was similiar to that in th eearlier collonial period. It appears that the responsible of the city and who has participation is the local government. While most of the citizens ar e not ready they become losers anymore.
Kata Kunci : Produksi,Reproduksi,Dekolonisasi,Simbolik, Production, Reproduction, Decollonialization, Symbol, Symbolic