Dampak ekonomi penyakit gangguan reproduksi pada sapi betina produktif di Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat tahun 2007
WARVIS, Varia, Dr. Catur Sugiyanto, M.A
2008 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya tingkat kerugian ekonomi yang dialami oleh peternak akibat penyakit gangguan reproduksi pada ternak peliharaannya dan untuk mengetahui kelayakan usaha pemeliharaan sapi potong bibit yang mengalami penyakit gangguan reproduksi. Untuk menghitung tingkat kerugian ekonomi yang disebabkan oleh penyakit gangguan reproduksi pada sapi potong bibit dilakukan pembatasan-pembatasan masalah yang disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu dengan pendekatan kuantitatif sebagai penunjang interpretasi data yang sederhana dengan menampilkan tabel-tabel berisi data nominal sampel berdasakan lokasi pengambilan sampel, kasus gangguan reproduksi dan lamanya waktu pemeliharaan beserta kondisi yang menyertainya. Untuk melihat kelayakan usaha pemeliharaan sapi potong bibit berdasarkan lamanya masa pemeliharaan dan kasus penyakit reproduksi yang ditemukan dilakukan dengan Analisa Manfaat dan Biaya (Benefit–Cost Analisis). Kriteria yang digunakan adalah Benefit – Cost Ratio (B/C Ratio) dengan pendekatan perhitungan privat. Hasil penelitian menunjukan bahwa total kerugian yang harus ditanggung oleh seluruh peternak akibat penyakit gangguan reproduksi adalah sebesar Rp1.122.718.750,-. Sumber kerugian berasal dari biaya tenaga kerja sebesar Rp682.818.750,- atau 60,82 persen, peluang keunt ungan dari kelahiran anak sebesar Rp. 371.500.000,- atau 33,09 persen, biaya pengobatan saat pemeriksaan sebesar Rp34.125.000,- atau 3,04 persen, biaya pengobatan selama pemeliharaan sebesar Rp30.500.000,- atau 2,72 persen dan bia ya Inseminasi Buatan sebesar Rp3.775.000,- atau 0,34 persen. Perhitungan B/C Ratio pada sapi-sapi yang mengalami gangguan reproduksi memberikan nilai lebih kecil dari satu yang menandakan ‘no go’ artinya usaha tersebut tidak layak untuk diteruskan. Dari berbagai alternatif pemeliharaan sapi potong bibit sesuai dengan tujuan pemeliharaannya maka sapi potong bibit harus memiliki anak pada tahun pertama pemeliharaannya. Kemudian pemeliharaan sapi potong bibit yang dilakukan secara berkelompok dengan jumlah tiga, empat dan enam ekor memberikan nilai B/C Ratio besar dari satu pada tahun keempat pemeliharaannya.
Objective of this research was to study economic loss level experienced by farmers due to reproduction disturbance disease on their cattle and to study feasibility of rearing stock beef cattle undergoing reproduction disturbance disease. Calculation of economic loss level due to reproduction disturbance disease on stock beef cattle was done with problem limitation that is adjusted to condition in research location. Analytical tool used in this research was descriptive analysis with quantitative approach to support simple data interpretation by presenting tables of sample nominal data based on sample taking location, reproduction disturbance case, rearing duration, and rearing condition. Feasibility analysis of business of rearing stock beef cattle based on rearing duration and reproduction disease case was done with Benefit-Cost Analysis. Criteria used were Benefit-Cost Ratio (B/C Ratio) with private calculation. Results of the research indicated that total loss assumed by all farmers due to reproduction disturbance disease was Rp1,122,718,750. The loss resulted from labor cost Rp628,818,750,- or 60.82 percent, lost opportunity of gain from calving Rp371,500,000,- or 33.09 percent, medical cost at examination Rp 34,125,000,- or 3.04 percent, medical cost at rearing Rp30,500,000,- or 2.72 percent and artificial insemination cost Rp3,775,000,- or 0.34 percent. Calculation of B/C ratio on cows experiencing reproduction disturbance provided score of less than one indicating ‘no go’ that means the business is not feasible to continue. Of some alternatives of rearing stock beef cattle according to its objectives, the beef cattle should have calf in first year of rearing. Then, rearing stock beef cattle done in group with three, four and six cows give more-than-one B/C ratio in fourth year.
Kata Kunci : Penyakit gangguan reproduksi,Analisa manfaat dan biaya,reproduction disturbance disease,benefit-cost analysis