Laporkan Masalah

Pola aktivitas penghuni rumah susun Pekunden Semarang pada jalur pedestrian

ALMICAN, Isban, Dr.Ir. Budi Prayitno, M.Eng

2007 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Kota Semarang sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah dalam perkembangannya tidak lepas dari masalah-masalah permukiman kumuh, sebagaimana yang dialami oleh kota-kota besar lainnya yang ada di Indonesia, bahkan pernah menyandang atribut sebagai kota kumuh (Bernas, 12/3 1995 dalam Soesilo 1998). Rumah susun merupakan multi family housing, secara fisik berbeda dengan rumah di kampung yang merupakan single family housing, yang mana rumah susun mempunyai tiga karakter khusus, yaitu: a). unit rumah (hunian) tersusun secara vertikal; b) setiap unit rumah mempunyai batas empat sisi; c) inti rumah tidak dapat diperluas. Penelitian rumah susun Pekunden Semarang ini didasarkan pada penelitian-penelitian tentang rumah susun Pekunden sebelumnya yang sudah dilakukan oleh peneliti-peneliti lain dengan latarbelakang bidang ilmu yang bermacam-macam. Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan penelitian adalah, bagaimana pola aktivitas penghuni rumah susun Pekunden pada jalur pedestrian (sirkulasi) didalam maupun diluar bangunan rumah susun. Tujuan penelitian, mengetahui variasi perubahan yang terjadi pada seting fisik sebagai akibat pola aktivitas yang dilakukan penghuni pada jalur pedestrian (sirkulasi) baik di dalam maupun di luar bangunan, mengetahui dan menjelaskan komponen seting yang dikenai upaya perilaku penghuni terhadap jalur pedestrian, mengetahui seberapa jauh pengaruh sebuah desain jalur pedestrian (sirkulasi) pada rumah susun berpengaruh terhadap pola kehidupan penghuni, mengetahui seperti apakah seting sebuah jalur pedestrian (sirkulasi) yang layak bagi sebuah bangunan rumah susun. Analisis dilakukan dengan metode Place-centered dan Person-centered untuk mendapatkan pola aktivitas dan perilaku pejalan kaki (penghuni) rumah susun Pekunden. Analisis tersebut untuk mengaitkan karakteristik seting fisik dan seting aktivitas yang ada baik di dalam maupun di luar bangunan rumah susun dan di dukung oleh hasil observasi di lapangan dan wawancara dengan hasil akhir analisis dikaitkan dengan teori-teori yang menjadi acuan dalam penelitian ini yaitu teori-teori dasar mengenai jalur pedestrian. Kesimpulan penelitian ini adalah pola aktivitas (perilaku) pejalan kaki (penghuni) rumah susun Pekunden pada jalur pedestrian yang cenderung tidak didukung oleh seting fisik yang mana ruang komunal (ruang bersama) fasilitas publik untuk menampung aktivitas penghuni tidak dapat digunakan secara maksimal sehingga para penghuni melakukan aktivitas di jalur pedestrian (selasar/koridor). Selasar menjadi teritori rumah (outdorr personality) dan ruangruang tangga, selasar penghubung blok, menjadi alternatif seting bagi anak-anak bermain, menerima tamu, bekerja, warung dan acara keluarga, sementara warung kampung sekitar menjadi alternatif seting untuk berinteraksi. Oleh karena itu kebutuhan keamanan serta ruang gerak bagi penghuni menjadi terganggu dikarenakan kondisi seting fisik dan aktivitas mendorong penghuni untuk melakukan aktivitas pada jalur pedestrian tersebut sehingga mendekati konflik terhadap terhadap pengelolaan ruang dan penggunaan ruang.

Semarang as the capital city of middle Java province in its development can not liberated from vile settlement problems, as happened to the other big cities in Indonesia, more over,it named as the vile city (Bernas, 12/3 1995 in Soesilo, 1998). Flat is the multy family housing, each flat have three specific characters, which is : a) vertical stach house unit, b) each house unit have four side borders, c) un-expandable house gists. The research of Pekunden Semarang’s flat is based on recent research which studied Pekunden’s flat done by researcher with rations scientific background. Based on the previous background, the research problem is how the Pekunden’s flat resident activity pattern on the pedestrian (circulation) lane wether inside or outside the flat building. The aim of the research isto detect the variation’s change happened to physical setting as the consequence of the resident on the pedestrian (circulation) lane activity pattern inside or outside the building; to detect and clarify the component’s setting which struck by the resident behaviour effect to pedestrian (circulation) lane, to detect the effect of a pedestrian (circulation) lane is design to residence’s life pattern; to find out the proper pedestrian (circulation) lane’s design for a flat building. The analysis done with place centered’s method and person-centered method to get the activity pattern and pedestrian behaviour of the Pekunden’s flat resident. The analysis held to relate the obtain phisic’s setting characteristic and activity setting. Wether inside or outside the flat’s building and supported by the field observation result. The result of the analysis interrelated with the reference theories in this research which is based theories about pedestrian lane. The conclusion of this research i.e there is a tendency that activity pattern (behaviour) on the pedestrian lane is not endorsed by the physical setting. The public area of Pekunden’s flat is not maximum functioned, which cause the resident to do their activities on the pedestrian lane. The pedestrian lane become the home territory (outdoor personality) the stairs and the block connector veranda become alternatives setting for childrens playground, a place to except the guest, work place, stall and family gathering, on the other hand the stall next door become the alternative setting for interaction. All of that cause the interference for the resident’s security and space need because physical setting and the activities pushed the resident to do activities on the pedestrian lane and approach the conflict on space management and space utilizing.

Kata Kunci : Rumah Susun,Aktivitas Penghuni,Jalur Pedestrian


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.