Dampak perkembangan fisik ruang Kota Kendari
BUNGGASI, Tommy Putra Alamsyah, Ir. Gunung Radjiman, M.Sc
2006 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahKota Kendari merupakan Ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 295,89 Km2. Pertumbuhan penduduk menimbulkan konflik pemanfaatan ruang antara be rbagai kepentingan. Pertambahan penduduk berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan akan lahan yang semakin terbatas, dimana satu sisi potensial menimbulkan masalah lingkungan dan di sisi lain menuntut adanya perluasan wilayah. Dalam kurun waktu 25 tahun, perkembangan fisik ruang kota yang terjadi tentunya memberikan dampak spasial, yang berpengaruh terhadap kondisi tata ruang Kota Kendari saat ini. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kecenderungan arah perkembangan fisik keruangan Kota Kendari antara tahun 1980 – 2004 serta dampak spasial yang meliputi perubahan fungsi dan luas penggunaan lahan yang terjadi akibat perkembangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deduktif kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Metode penelitian rasionalistik ini menggunakan variabel dan indikator teoritis yang digunakan dalam mengkaji perkembangan fisik kota. Analisis terhadap arah perkembangan dan pola fisik keruangan kota menggunakan teknik rekonstruksi peta (serial reconstruction map) yaitu dengan melakukan tumpang susun (over lay) peta tiap periode waktu, untuk mengetahui dampak perkembangan yang terjadi analisis dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data primer (hasil wawancara dan observasi lapangan) dan pengolahan data sekunder (overlay peta dan data statistik). Berdasarkan hasil penelitian di ketahui bahwa : (1) periode 1980-1985 terjadi pergeseran arah area terbangun dari kawasan Kota Lama ke Kawasan Mandonga, periode 1985-1990 terjadi penetrasi terhadap kawasan hutan untuk kegiatan permukiman di wilayah Kecamatan Kendari, periode 1990-1995 terjadi perubahan fungsi area terbangun dari permukiman menjadi pertokoan di sekitar Mandonga, periode 1995-2000 terjadi perkembangan permukiman di Kecamatan Poasia dan Kecamatan Baruga, periode 2000-2004 terjadi penjalaran kawasan perdagangan dari kawasan Mandonga ke kawasan Wua-wua, (2) Perkembangan Kota Kendari berbentuk konsentris, linier dan melompat. Periode 1980-1990, Pola konsentris terjadi pada bagian tengah Kecamatan Mandonga, pola linier terjadi pada Kecamatan Kendari, sedangkan pola melompat terjadi pada Kecamatan Baruga & Poasia. Pada periode 1990-2004, Pada periode 1990-2004, pola konsentris terjadi pada Kawasan Mandonga. Pola lin ier terjadi pada jalan-jalan utama dan jalan bypass. (3) Dampak perkembangan yang teridentifikasi adalah adanya konversi lahan yang terjadi atas kawasan hutan Tahura Murhum dan Hutan Nanga-nanga, pemanfaatan lahan sepanjang sempadan sungai Wanggu dan sungai–sungai kecil lainnya, pemanfaatan lahan daerah resapan untuk kegiatan perdagangan baik langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi yang besar pada proses pendangkalan teluk Kendari.
Kendari is the capital of Southeast Sulawesi sitting on a territory of 295.89 km2. The population growth has created land use conflicts among different interests. It increases the needs for land, which is in fact decreasing in its availability. On one side, it is potential to raise problem, while on the other side it requires expansion of space. Within 25 years, the urban spatial physical development bring spatial impacts that affects the present condition of Kendari city planning. The research aims to investigate the tendency of the direction of Kendari city physical development in the periods between 1980 -2004 and the spatial impacts which cover the change of land function and size resulting from the change. The research uses method of deductive qualitative research and applies rationalistic approach. It uses theoretical variables and indicators to analyze the urban physical development. The analysis on the direction of physical development and the pattern of urban space uses the serial reconstruction map technique, that is, map over-lay for each period in order to identify the impact of development. The analysis is conducted based on the results of primary data (interview and field observation findings) processing as well as secondary data (map over-lay and statistical data) processing. The research presents the following results: (1) the periods of 1980-1985 experience a shift of built area from Kota Lama to Mandonga area; the periods of 1985-1990 experience a penetration into forest area for settlement activities around Kendari sub-district; the periods of 1990-1995 experience a change of built area from housing into shopping around Mandonga; the periods of 1995-2000 experience an expansion of settlement in Poasia and Baruga sub -districts; the periods of 2000-2004 experience expansion of trading area from Mandonga area into Wua-wua area. (2) The development of Kendari city is following concentric, linear, and leapfrog pattern. In the periods of 1980-1990, the concentric pattern exists in the central part of Mandonga Sub-district, the linear pattern exists in Kendari sub-district, and the leapfrog pattern exists in Baruga and Poasia sub -districts. In the periods of 1990- 2004, the concentric pattern exists in Mandonga area, linear pattern in the main streets and by-pass. (3) The identified impacts of development are land conversion on Tahura Murhum forest and Nanga -nanga forest areas, using of land along Wanggu riverbank and other smaller rivers, using of land along the catchment area for trading activity which both directly or indirectly gives big contributions to the sedimentation process in Kendari bay
Kata Kunci : Perkembangan Fisik uang Kota,Dampak Spasial