Manajemen risiko penularan penyakit HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
LOLOK, Lelyana, Prof.dr. Hari Kusnanto J., DrPH
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatarbelakang: Meningkatnya prevalensi HIV/AIDS meningkatkan pula risiko tenaga kesehatan yang dapat tertular dari darah pasien yang terinfeksi HIV, khususnya bila kewaspadaan universal (UP) terhadap darah dan cairan tubuh tidak dilaksanakan terhadap semua pasien. Menerapkan kewaspadaan universal dan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di rumah sakit untuk meminimalkan terjadinya penularan dalam semua tindakan medis atau kesehatan merupakan salah satu dari kebijakan dasar yang terdapat di dalam peningkatan perawatan, dukungan dan pengobatan untuk ODHA dan Pencegahan HIV/AIDS di Indonesia. Di dalam kegiatan manajemen penyakit infeksi di tempat kerja ada dua kegiatan utama yang harus dilakukan secara simultan yakni manajemen kasus dan manajemen faktor risiko kesehatan masyarakat (tenaga kerja). Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui bagaimana manajemen risiko penularan penyakit HIV/AIDS dengan penerapan UP di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Metodologi: Jenis penelitian ini adalah penelitan kualitatif dengan menggunakan rancangan studi kasus eksploratif. Metode pengumpulan data yaitu melalui observasi (non-participant), wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian: Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta sudah menerapkan kebijakan khusus dalam perawatan dan pengelolaan pasien ODHA, dengan diterbitkan kebijakan pengelolaan pasien AIDS pada tanggal 03 Januari 2004. Kebijakan ini ditindaklanjuti dengan penerapan kewaspadaan universal (UP) dalam pengelolaan pasien HIV/AIDS untuk mencegah terjadinya penularan antara pasien dan perawat maupun terhadap setiap orang yang berada di lingkungan rumah sakit. Observasi terhadap 61 petugas kesehatan secara umum cukup baik, khususnya prosedur cuci tangan, tetapi ada beberapa petugas yang tidak mematuhi protap UP, misalnya masih ada petugas yang melakukan injeksi tanpa menggunakan sarung tangan. Diperoleh beberapa usulan dalam wawancara dan FGD tentang kebutuhan tenaga kesehatan terhadap pelatihan UP dan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD). Kesimpulan: Manajemen risiko penularan penyakit HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sudah dilaksanakan, khususnya pada tahun 2000an ketika terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS. Namun manajemen risiko ini perlu didukung oleh pengetahuan dan kepatuhan petugas tentang UP serta ketersediaan alat dan fasilitas pendukung
Background: Increasing prevalence of HIV/AIDS also increases risk of health staff to get infected from blood of patients infected with HIV, especially when universal precaution to blood and body fluid is not implemented to all patients. Implementing universal precaution and occupational health program in hospitals to minimize incidence of infection in all medical and health treatments is one of basic policies in the improvement of care, support and medication for People Living With HIV/AIDS (PWLHA) and prevention of HIV/AIDS in Indonesia. In managerial activities of infectious diseases in the work place, there are two major activities which have to be carried out simultaneously, i.e. case management and management of public health (health staff) risk factors. Objective: The objective of the study was to find out how universal precaution was implemented in risk management of HIV/AIDS infection at Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta. Method: This was a qualitative study which used explorative case study design. Data were obtained from observation (non participatory), interview and Focus Group Discussion (FGD). Results: Dr. Sardjito Hospital of Yogyakarta had implemented special policies in care and handling of patients with HIV/AIDS through the issuance of a policy on AIDS patient handling in 3rd January 2004. Such a policy was followed by the implementation of universal precaution in the handling of HIV/AIDS patients to prevent infection from patients to nurses and to anybody in the hospital environment. Observation to 61 health staff basically showed good result, especially procedure hands wash, however there were some staff who did not comply to procedure of universal precaution, for example giving injection without using gloves. There were some suggestions from interview and Focus Group Discussion (FGD) about need of universal precaution training for health staff and availability of self-protection equipments. Conclusion: Risk management of HIV/AIDS infection at Dr. Sardjito Hospital of Yogyakarta had been implemented since 2000 where there was increasing case of HIV/AIDS. However such risk management had to be supported by knowledge and compliance of staff to universal precaution and availability of supporting facilities.
Kata Kunci : Manajemen Layanan Kesehatan,Penularan HIV/AIDS,Tenaga Kesehatan, Risk Management, Universal Precautions, HIV/AIDS, Health Care Workers, PLWHA