Dilema petani sawah antara tanaman komersil atau padi :: Studi di Desa Konga Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur
HURINT, Paskalis X, Drs. Purwanto, M.Phil
2005 | Tesis | S2 SosiologiHarga produk tanaman komersil berupa bawang, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai serta sayur-sayuran lebih menjanjikan secara ekonomi. Namun petani di desa Konga, kecamatan Titehena, kabupaten Flores Timur, NTT bersikap resisten terhadap jenis tanaman komersil untuk ditanam di areal persawahan mereka. Kendala yang melatarbelakangi mereka adalah pertama, bila terjadi perbedaan jenis tanaman dimana ada petani yang menanam padi dan ada petani yang mengusahakan jenis tanaman komersil maka perbedaan ini akan melahirkan konflik antara mereka dalam hal pengaturan siklus air. Konflik ini pada akhirnya akan bermuara pada adanya sanksi sosial terhadap petani yang mengusahakan jenis tanaman komersil, karena dia dinilai sebagai orang yang tidak menunjang usaha petani yang menanam padi. Kedua, tanaman padi tetap dipertahankan mengingat beras telah dijadikan sebagai komoditi untuk menjawab semua kebutuhan termasuk kebutuhan sosial. Ketiga, perubahan pola pertanian akan mengakibatkan kehilangan lapangan kerja bagi petani yang selalu menyewakan tenaganya. Keempat, ulah para tengkulak mengakibatkan kehilangan rasa percaya dalam diri para petani terhadap mereka, karena para tengkulak mengembangkan sistem bisnis yang tidak fair. Dengan berbagai latar belakang ini maka para petani mengambil sikap untuk tetap mempertahankan tanaman padi. Dengan pola pertanian mereka yang tetap mempertahankan tanaman padi dapat dikatakan bahwa pertama, pemilihan petani untuk menanam padi merupakan sebuah pilihan yang terlahir dari adanya sebuah dilema antara keinginan untuk mendapatkan profit keuntungan ekonomi dan tetap mempertahankan nilai-nilai. Kedua, pola pertanian mereka mencerminkan ungkapan persaudaraan dan kekeluargaan sebagai nilai yang tetap dijunjung. Nilai-nilai ini lebih diprioritaskan oleh para petani dari pada hanya mengejar keuntungan ekonomi. Ketiga, institusi lokal berperan sangat strategis dalam menjaga eksistensi nilai-nilai dan kelangsungan hidup sosial. Keempat, dengan memilih menanam padi para petani berupaya untuk menghindari risiko, tidak hanya risiko ekonomi tetapi juga risiko sosial yang bakal dialami. Kelima, pola pertanian ini bukanlah berarti para petani tidak berorientasi ke masa depan. Masa depan justru dibangun bukan hanya dengan mengejar profit ekonomi melainkan harus pula mempertimbangkan sendi-sendi kehidupan sosial, yakni norma dan nilai-nilai. Ikatan sosial yang hanya dibangun di atas keuntungan ekonomi akan sangat mudah goyah.
Price of commercial plant product such as onion, peanut, mung bean, soybean and vegetables is more promised economically. However, farmer ini Konga is resistant to the commercial plant to be planted in their farm. Obstacle faced in field are : first, when different plant type is planted where a part of farmer plant rice and other plant commercial plant, then the difference will lead to conflict of water circle management. The conflict eventually will result in social sanction for farmer cultivating commercial plant, because they are not support farmer planting rice. Second, rice is still defended because rice is a commodity to address all need including social need. Third, change of agricultural pattern will lead to loss of employment for landless farmer. Fourth, action of middlemen cause farmer losing its self-confidence, because the middleman run unfair business system. With the above reason, the farmer decide to still plant rice. By agricultural pattern still defending rice plant, it can be said, first, the peasant choosing for plant rice as the choosing rise for a dilemma among need for the economy profit or defend values. Second, that their agricultural system reflects brotherhood and family atmosphere as value still held. The values are more prioritized by farmer than only pursue economic profit. Third, the local institution decide to still the value. Fourth, by choosing to plant rice the farmer tried to avoid risk, not only economic risk but also social risk that would occur. Fiveth, the agricultural pattern is not meant that farmer is not oriented toward. The future is built not only by pursuing economic profit but also should considering social live element, that is, norm and value. Social bond that only is built on economic profit will be vulnerable
Kata Kunci : Sosiologi Pembangunan, Petani, Pola Pertanian, farmer, commercial plant, dilemma.