Laporkan Masalah

Studi perbandingan proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan pada Lima Nagari di Kabupaten Tanah Datar

NUSIRWAN, Dr.Ir. Bondan Hermanislamet, MSc

2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Pada era otonomi daerah terjadi pergeseran sistem pemerintahan dari sistem pemerintahan desa ke sistem pemerintahan nagari di Kabupaten Tanah Datar. Implikasi dari pergeseran tersebut menyebabkan pergeseran paradigma pembangunan khususnya perenca naan dari atas (top down planning) menjadi perencanaan dari bawah (bottom up planning). Dengan demikian musyawarah pembangunan (musbang) nagari sebagai forum pengambilan keputusan tahap pertama dalam proses perencanaan pembangunan. Sejak dulu nagari memiliki otonomi dalam mengatur masyarakat dengan adat istiadat yang dimilikinya. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar memberikan kewenangan sepenuhnya kepada setiap nagari melakukan proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan. Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah 1) membandingkan proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pada lima nagari, 2) mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan pada lima nagari, dan 3) membandingkan dengan proses pengambilan keputusan di tingkat desa atau kelurahan dewasa ini. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian ini diambil lima nagari dari 75 nagari. Kelima nagari tersebut diambil secara purposif yaitu nagari dekat ibukota kabupaten (Nagari Limo Kaum), nagari yang berbatasan dengan kabupaten lain (Nagari Barulak dan Nagari Simawang), Nagari III Koto tetangga Nagari Simawang, dan Nagari Andaleh berada di pedalaman. Teknik analisis penelitian ini menggunakan analisis induktif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan dalam perencanaan di lima nagari melalui tahap pra musbang, musbang dan pasca musbang. Tahap pra musbang, kelima nagari melakukan perundingan informal sebagai otoritas dan tradisi pemuka masyarakat nagari serta dilakukan rapat jorong. Khusus Nagari Simawang dan Barulak melakukan rapat organisasi nagari, karena organisasi kedua nagari masih aktif sejak era orde baru. Setelah itu Nagari Barulak melakukan rapat pemuka masyarakat nagari. Rapat formal di lima nagari mengalami akulturasi. Contohnya adalah menggunakan beberapa langkah metode P3MD yang pelaksanaannya disesuaikan dengan tatacara musyawarah. Khusus Nagari Simawang, di samping menggunakan metode P3MD juga menggunakan metode ZOPP. Perumusan tujuan sebelum rencana ditetapkan tidak semua nagari melakukan. Perumusan tujuan tersebut hanya dilaksanakan di Nagari Simawang dan Barulak. Kelima nagari melakukan kegiatan mengenali masalah dan penyebabnya, menetapkan rencana kegiatan dan menetapkan potensi rencana fisik yang ditentukan oleh peran ninik mamak. Ketiga kegiatan tersebut merupakan tradisi kelima nagari. Tahap musbang nagari, kelima nagari mengalami akulturasi dengan bebe rapa langkah proses perencanaan yang ditetapkan kabupaten. Namun demikian pelaksanaannya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing nagari sehingga terjadi perbedaan pelaksanaan. Perbedaan tersebut meliputi tatacara pelaksanaan, pemrakarsa, personil ya ng terlibat, kegiatannya sendiri, pengambil keputusan, cara pengambilan keputusan dan jenjang peranserta masyarakat. Tahap pasca musbang, hasil musbang diumumkan kepada masyarakat luas sebagai tradisi kelima nagari. Khusus Nagari Simawang dan Barulak melakukan sidang BPRN (Badan Perwakilan Rakyat Nagari) sebelum diumumkan. Faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan di lima nagari disebabkan oleh faktor tradisi dan kondisi nagari yang bersangkutan. Perbedaan kondisi lima nagari dipengaruhi kuat-tidaknya resistensi kebersamaan masyarakat nagari terhadap dampak negatif sistem pemerintahan desa. Prinsip proses pengambilan keputusan perencanaan di lima nagari sesuai dengan prinsip proses perencanaan tingkat desa/kelurahan dalam perspektif otonomi daerah. Antara nagari dengan desa terdapat perbedaan pendekatan proses pengambilan keputusan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh sosial budaya masyarakat nagari.

Nowadays, in the atmosphere of Otonomi Daerah there is a change of governmental systems in Kabupaten Tanah Datar. The rural system has been replaced by the system of Nagari. The implication of this bears paradygma changing from the top-down planning to be the bottom-up planning. Therefore, Musbang of Nagari is the first step forum for decision making process of development planning. Nagari has the authonomy in conducting people within it’s culture. The government of Kabupaten Tanah Datar gives Nagari their own rules to make decision in the development planning. Referring the explanation above, the aims of this research are: 1) Comparing the process of decision making in five Nagaris, 2) Identification of the factor that influence the process of decision making, 3) Comparing the process of decision making between Nagari and the rural government. This research utilized the quality methods resembling the phenomenology. The choosen location were five Nagaris of 75 Nagaris. They were Limo Kaum; the nearest nagari from the capital of kabupaten, Barulak and Simawang which were close to another kabupaten, III Koto; close to Simawang and Andaleh; the hinterland of nagari. The analysis techniques were the inductive and comparative ones. The result of the research showed that the process of decision making of the development planning consist of pra musbang, musbang and pasca musbang stages. In the pra musbang stage, all nagaris conducted an informal meeting for community figures and a meeting called rapat jorong. Nagari Simawang and Nagari Barulak had a meeting named rapat organisasi nagari. This was a special nagari meeting and had been existed for a long time. There was also an extend one in Nagari Barulak. This was a formal meeting for the community figures. The formal meetings in five nagaris ha d acculturated. For instance, some of stages in P3MD methode were adjusted due to the customs & manners of musyawarah. Especially, Nagari Simawang also applied the ZOPP methode beside P3MD. Both, in Nagari Barula k and Simawang firstly there was still goals formulation before the plan was determined. The five nagaris conducted an activity for knowing problems & reasons, determining the plan of action and also the potensial of physical planning regarding the rule of Ninik Mamak. The three activities above were the traditional habit in those nagaris. In the musbang stage, these five nagaris had acculturated the musbang and some steps of process planning which were determined by kabupaten. Otherwise, these musbang were implemented variously in the five nagaris dealing with their own characters. There were some differences e.q. the procedures, the initiators, the persons, the activity, the decision making & methods and the steps of community participatory. The pasca musbang stage informed the musbang result on to people of the nagari. Either in Simawang or Barulak there was a session of BPRN (Badan Perwakilan Rakyat Nagari) before publishing. Factors in which influenced the process of decission making were the tradition and condition of the five nagari. The condition in each nagari was depended on the strong of the people resistance against the negative impact heritaged by the rural governmental system. Principally, the process of decision making of the plan in these nagaris was equal with the same process in the rural system in the perspective of Otonomi Daerah. There were distance approaches among nagari and rural government about the process of decision making. The causal factors were the sosio-culture of the people in those nagaris.

Kata Kunci : Perencanaan Pembangunan, Proses Pengambilan Keputusan, governmental systems, development planning


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.