Laporkan Masalah

Pengembangan pengisian (Infill Development) :: Studi kasus Kota Yogyakarta

SURADI, Ir. Bakti Setiawan, MA.,PhD

2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Perkembangan perkotaan di Indonesia pada umumnya diawali dengan pengembangan perumahan di wilayah pinggiran kota yang berpola sprawl sambil menciptakan efek negative antara lain: menjauhkan penduduk dari tempat kerja, polusi, dan konversi lahan pertanian di pinggiran. Pola pengembangan yang baru sangat diperlukan untuk mengarahkan perkembangan kota yang lebih efisien termasuk juga melalui cara infill development. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan menganalisa infill development di Kota Yogyakarta mengenai pola perkembangannya, motivasi pengembagannya, dan pengaruhnya pada perkembangan kota. Penelitian ini berlokasi di Kota Yogyakarta, khususnya di kawasan Timoho, Jalan Jambon, dan Suryodiningratan, area dimana infill development terjadi di kota ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplorasi yaitu dengan menganalisa data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dari lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infill development yang terjadi di lapangan mempunyai karakteristik sebagai berikut: (1) merupakan perumahan menegah dan mewah; (2) rumah dengan 1-2 lantai; (3) berkepadatan sedang; (4) sebagian besar lahan yang dipakai adalah lahan kosong. Penelitian ini juga menemukan bahwa pemerintah tidak terlibat dalam infill development yang terjadi di lapangan. Dengan kata lain infill development yang terjadi di lapangan merupakan respon terhadap pasaran kebutuhan rumah. Motivasi konsumen yang utama adalah aksesibilitas. Pola pengembangan perumahan yang semacam itu bisa memberikan beberapa implikasi positif antara lain: (1) effisiensi lahan; (2) perkembangan kota yang lebik kompak; (3) meningkatkan suplai perumahan; dan (4) meningkatkan aktivitas ekonomi pada wilayah tersebut. Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah seharusnya mendukung pola pengembangan infill development terutama melalui cara insentiv dan disinsentiv.

Urban growth in Indonesia generally is characterized by suburban housing development in a sprawling pattern creating negative effect for example : distance from workplace, pollution, and conversion of suburban farm land. New pattern of urban growth is needed to direct urban development which is more efficient including infill development. This research aims to document and analize infill development in Yogyakarta including pattern of growth, motivation, and its impact on city. This research is conducted in Yogyakarta City, particularly in Timoho, Jalan Jambon, and Suryodiningratan, areas where infill development is happened in the city. The method employed in this research is explorative one, using quantitative and qualitative data compiled in the field. The research showed that infill development in the area is characterized by: (1) luxurious and good housing; (2) mostly 1-2 floor; (3) medium density housing; (4) most of the site are vacant land. The research also found that the government was not intervere infill development happened in the study area. In other words, infill development happened in the study area as a respon of the market to housing need. The main motivation of the consumer is accessibility. Such pattern of housing development creates several positive impacts including: (1) land efficiency; (2) more compact urban growth; (3) increasing housing supply ; and (4) increasing economic activity in the area. This study recommendes that government should support infill development pattern particularly by giving incentives and disincentives means.

Kata Kunci : Perkembangan Kota, Infill Development, Housing, infill


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.