Laporkan Masalah

Tingkat Kepuasan Penyandang Disabilitas Daksa dan Netra terhadap Aksesibilitas Ruang Terbuka Publik (Kasus Alun-Alun Wonosari)

ALFIANI HAKIKI, Retno Widodo Dwi Pramono, S.T., M.Sc., Ph.D.;Sri Tuntung Pandangwati, S.T., MUP.

2022 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Penyediaan Ruang terbuka publik (RTP) yang dapat diakses oleh semua orang termasuk penyandang disabilitas adalah hal yang penting untuk menegakkan keadilan spasial. Penyandang disabilitas netra dan daksa sebagai contoh entitas yang rentan terdiskriminasi dalam ruang seharusnya dapat diberikan kesempatan untuk memberikan pandangan terhadap aksesibilitas ruang terbuka publik salah satunya melalui penilaian tingkat kepuasan. Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah penyandang disabilitas terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki Alun-Alun Wonosari sebagai RTP yang signifikan sehingga dapat menjadi representasi yang menarik untuk dikaji. Maka, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengukur tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap komponen pembentuk aksesibilitas Alun-Alun Wonosari, (2) menjelaskan faktor yang berhubungan dengan tingkat kepuasan penyandang disabilitas terhadap komponen pembentuk aksesibilitas Alun-Alun Wonosari, (3) menjelaskan faktor yang menentukan ketepatan pemenuhan aksesibilitas Alun-Alun Wonosari bagi penyandang disabilitas .Tujuan penelitian pertama dan kedua dijawab dengan metode kuantitatif menggunakan Importance Performance Analysis (IPA) dan korelasi. Kemudian, tujuan penelitian ketiga dijawab dengan menggunakan analisis kualitatif tematik dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum penyandang disabilitas memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap komponen pembentuk aksesibilitas Alun-Alun Wonosari. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya persentase kepuasan terhadap komponen pembentuk aksesibilitas menuju maupun dalam Alun-Alun Wonosari . Namun, ketika komponen pembentuk aksesibilitas tersebut dijabarkan dalam 4 kuadran IPA, masih terdapat 2 komponen dengan aksesibilitas yang kurang menurut penyandang disabilitas yaitu jalur pedestrian menuju RTP dan ramp dalam RTP. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa area parkir dan rambu-rambu di dalam RTP yang dianggap tidak signifikan/berlebihan oleh penyandang disabilitas. Hal ini berhubungan dengan kualitas aksesibilitas komponen yang diukur melalui observasi. Adapun temuan dalam penelitian ini juga menghasilkan faktor-faktor yang menentukan ketepatan pemenuhan aksesibilitas ruang terbuka publik bagi penyandang disabilitas. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor dari sisi desain dan pengelolaan/manajemen. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, strategi yang dapat diusulkan untuk dapat mewujudkan ruang terbuka publik yang aksesibel adalah proses desain partisipatori dengan melibatkan penyandang disabilitas. Hal ini dapat diperhitungkan dalam merancang RTP yang dapat diakses bagi penyandang disabilitas dalam konteks sosial budaya yang serupa

Providing accessible public open space (POS) for everyone, including people with disabilities (PWDs), is critical for establishing spatial justice. PWDs such as vision and physical disability who are vulnerable to spatial discrimination should be allowed to provide their views on the accessibility of POS through an assessment of the level of satisfaction. Gunungkidul, regency with the highest number of PWDs in the Special Region of Yogyakarta; Indonesia, has Alun-Alun Wonosari as an significant POS. So, the main objectives of this study are (1) measuring the level of PWDs satisfaction with the accessibility components of Alun-Alun Wonosari and (2) explaining the factors related to the level of satisfaction of PWDs with the accessibility components of Alun-Alun Wonosari, (3) explain the factors that determine the accuracy of fulfillment accessibility of Alun-Alun Wonosari for PWDs. The first and second research objectives are answered by quantitative methods using Importance Performance Analysis and correlation. Then the third research objective is answered using thematic analysis and data triangulation. The findings indicate that in general, PWDs have a high level of satisfaction with the accessibility components of Alun-Alun Wonosari. This is indicated by the high percentage of satisfaction with the components that support the ease of getting to Alun-Alun Wonosari and enable them to do activities inside Alun-Alun. However, when the accessibility components are described in 4 IPA quadrants, there are still 2 components with low accessibility according to PWDs regarding pedestrian paths to Alun-Alun and ramps inside Alun-Alun. In addition, this study also reveals that the parking areas and signs inside POS are perceived as insignificant/excessive by PWDs. These relate to the quality of accessibility as measured by observation. The findings also produce factors that determine the accuracy of fulfilling the accessibility of POS for PWDs. These factors include design and management factors. Based on these findings, a strategy that can be proposed to create accessible POS is a participatory design process involving PWDs. This must be taken into account in designing disability-sensitive POS in similar socio-cultural contexts.

Kata Kunci : aksesibilitas,penyandang disabilitas,ruang terbuka publik,tingkat kepuasan