Laporkan Masalah

Kajian Spesies Unggul dan Percepatan Metamorfosis Pseudodiaptomus spp.

RINA PUJI ASTUTI, Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc; Dr. Rarastoeti Pratiwi, M.Sc; Prof. Dr. Suwarno Hadisusanto, S.U.

2022 | Disertasi | DOKTOR BIOLOGI

Kopepoda merupakan zooplankton yang dapat berfungsi sebagai pakan alami yang berkualitas tinggi untuk larva ikan. Salah satu genus zooplankton tersebut adalah Pseudodiaptomus yang merupakan subclass Copepoda dari ordo Calanoid. Kopepoda berperan sebagai pakan awal yang dapat meningkatkan keberhasilan pemeliharaan larva ikan laut terutama pada larva ikan laut yang sulit dipelihara, seperti ikan tuna dan kerapu sunu. Pseudodiaptomus banyak ditemukan di perairan estuari di daerah tropis dan sub tropis, dengan kisaran salinitas yang luas. Oleh karena itu spesies dari genus Pseudodiaptomus memiliki prospek yang tinggi untuk dikembangkan. Beberapa spesies Pseudodiaptomus telah ditemukan di Indonesia, namun belum diketahui karakternya. Informasi mengenai karakter suatu spesies pakan alami diperlukan untuk memilih spesies pakan alami yang akan didibudidayakan, sehingga perlu dilakukan karakterisasi pada Pseudodiaptomus. Tujuan penelitian ini untuk menemukan spesies unggul dari genus Pseudodiaptomus untuk pakan alami dan budidaya, dan mengetahui pengaruh 20E dan kolesterol terhadap percepatan metamorfosis spesies unggul Pseudodiaptomus sp. Studi dikerjakan dengan mengeksplorasi spesies Pseudodiaptomus diperairan Bali dan Yogyakarta. Identifikasi spesies dikerjakan secara morfologi dan molekuler dengan DNA barcode menggunakan gen COI. Pemilihan spesies unggul dilakukan dengan uji profil kandungan asam amino dan asam lemak, serta uji aktivitas enzim protease. Uji deteksi gen reseptor ecdysone (EcR) dilakukan sebelum uji percepatan metamorfosis. Pada spesies unggul dilakukan uji percepatan metamorfosis dilakukan dengan menggunakan 20E dan kolesterol, serta dilakukan analisis ekspresi gen vitellogenin (vg). Hasil menunjukkan bahwa terdapat dua spesies Pseudodiaptomus yang diperoleh dari perairan Bali dan Yogyakarta, dengan kode P61, dan P71. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa P61 merupakan spesies baru dengan nama yang diusulkan yaitu Pseudodiaptomus kulonproensis sp. nov., dan P71 sebagai Pseudodiaptomus trihamatus. P. kulonprogoensis secara morfologi dan molekuler berbeda dengan P. srinui dan P. nansei, sedangkan P. trihamatus secara morfologi teridentifikasi masuk dalam group Hyalinus, sub group Trihamatus. Morfologi kaki-V, genital somite ganda dan urosome digunakan sebagai bagian tubuh yang diobservasi perbedaannya. Pada studi ini diketahui bahwa gen EcR terdeteksi pada spesies P. kulonprogoensis, namun tidak terdeteksi pada P. trihamatus, selain itu berdasarkan hasil analisis profil nutrisi dan pengukuran aktivitas protease diketahui bahwa P. kulonprogoensis dipilih sebagai spesies unggul, oleh karena mampu mensintesis asam lemak esensial yang lebih bervariasi dari pada P. trihamatus, terutama karena keberadaan arachidonic acid, linoleic acid, eicosapentaenoic acid dan decosahexaenoic acid. Hal lain yang memperkuat P. kulonprogoensis sebagai spesies unggul, yaitu karena spesies ini lebih mampu beradaptasi pada pakan yang berbeda, sehingga memiliki peluang yang lebih besar untuk dibudidayakan. Berkaitan dengan pakan yang diberikan, diketahui bahwa kandungan asam amino maupun asam lemak Pseudodiaptomus dipengaruhi oleh spesies dan jenis pakan yang diberikan. Pada studi ini juga diketahui bahwa penambahan kolesterol mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam percepatan perkembangan dari pada penambahan 20E, dan keduanya dapat mempercepat metamorfosis. Hal ini berarti pakan dengan kandungan kolesterol yang mencukupi perlu disediakan dalam budidaya Pseudodiaptomus. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dasar dalam membudidayakan kopepoda khususnya spesies genus Pseudodiaptomus, sekaligus memperkaya khasanah ilmu di bidang taksonomi, serta sebagai informasi tambahan mengenai keragaman kopepoda dari perairan Indonesia. Penemuan spesies P. kulonprogoensis dengan profil nutrisi yang unggul, dan memiliki kemampuan hidup dengan pakan yang berbeda, serta dapat dipercepat metamorfosisnya merupakan spesies penting yang dapat dikembangkan sebagai pakan alami larva ikan laut, sehingga keberadaan spesies ini dapat menjadi salah satu kunci sukses dalam pembenihan ikan laut.

Copepods as high-quality live feed for fish larvae. Pseudodiaptomus was a Calanoid order of Copepoda group. Copepods act as an initial feed that can increase the maintenance of marine fish larvae, especially in marine fish larvae that were difficult for rearings, such as tuna and sunu-grouper. Pseudodiaptomus was commonly found in estuary and coastal waters in tropical and subtropical areas, with a large salinity range. Therefore, species of the genus Pseudodiaptomus have high prospects for development. Several species of Pseudodiaptomus have been found in Indonesia, but their character is not yet known. Information about the character of a natural species is needed to select live feed species to be cultivated, so it is necessary to characterize Pseudodiaptomus. The purpose of this study was to find superior species of the genus Pseudodiaptomus for cultivation and to determine the effect of 20E and cholesterol on the acceleration of metamorphosis of superior species of Pseudodiaptomus sp. The study was carried out by exploring Pseudodiaptomus species in the waters of Bali and Yogyakarta. Species identification was carried out morphologically and molecularly with DNA barcodes using the COI gene. The superior choice was carried out by assaying the profile of amino acids and fatty acids, as well as assaying the protease activity. The ecdysone receptor gene (EcR) detection test was carried out before the metamorphosis acceleration assay. In superior species, an analysis of the acceleration of metamorphosis was carried out using 20E and cholesterol, as well as the expression of the vitellogenin (vg) gene. The results showed that there were two species of Pseudodiaptomus obtained from Bali and Yogyakarta waters, with codes P61 and P71. The results showed that P61 was a new species with the proposed name Pseudodiaptomus kulonproensis sp. nov., and P71 as Pseudodiaptomus trihamatus. P. kulonprogoensis was morphologically and molecularly different from P. srinui and P. nansei, while P. trihamatus is morphologically included in the Hyalinus group, Trihamatus sub group. The morphology of leg-V, genital double somite, and urosomee was used as body parts to observe the differences. In this study, it was found that the EcR gene was detected in P. kulonprogoensis species, but was not detected in P. trihamatus. In addition, based on the results of nutritional profile analysis and measurement of protease activity, it was known that P. kulonprogoensis was chosen as a superior species, because it was able to synthesize essential fatty acids which more variable than P. trihamatus, mainly due to the presence of arachidonic acid, linoleic acid, eicosapentaenoic acid, and docosahexaenoic acid. Another thing that strengthens P. kulonprogoensis as a superior species is that it was better in adapt to different feeds, so it has a greater chance of being cultivated. Regarding the feed given, it was known that the amino acid and fatty acid content of Pseudodiaptomus was influenced by the species and type of feed given. In this study, it was also known that the addition of cholesterol had a greater effect on development than the addition of 20E, and both they were promoting of metamorphosis. Its means that the feed with excess content was needed for Pseudodiaptomus cultivation. The results of this study can be used as a source of basic information in cultivating copepods, especially for the Pseudodiaptomus genus, as well as knowledge in the field of taxonomy, as well as additional information regarding the diversity of copepods from Indonesian waters. The discovery of P. kulonprogoensis species with superior nutritional profile, and having the ability to live with different feeds, and accelerated metamorphosis were an important species that can be developed as natural feed for marine fish larvae, so the presence of this species could be one of the keys to success in marine fish hatcheries.

Kata Kunci : COI, fatty acids, enzymes, cholesterol, 20-Hydroxyecdysone

  1. S3-2022-405175-abstract.pdf  
  2. S3-2022-405175-Bibliography.pdf  
  3. S3-2022-405175-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2022-405175-title.pdf