Laporkan Masalah

Buruh Gendong dan Kesejahteraan: Strategi Yasanti Melawan Patriarki di Kalangan Pekerja Informal di Yogyakarta

FELISITAS FRISKA D P, Amalinda Savirani, S.IP., M.A.. P.hD

2022 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Tulisan ini menganalisis upaya Yasanti, organisasi masyarakat sipil di Yogyakarta, dalam meningkatkan pemberdayaan guna mereduksi budaya patriarki pada kelompok Buruh Gendong Perempuan Pasar Beringharjo dalam konteks pandemi. Artikel ini menjawab pertanyaan bagaimana pandemi menghantam perekonomian buruh gendong perempuan, dimana terdapat penurunan upah akibat penutupan pasar. Juga minimnya proteksi yang diperoleh pekerja informal. Kajian ini menjadi penting untuk melihat realita pekerja informal di masa pandemi, khususnya buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo yang menjadi pusat ekonomi pariwisata Yogyakarta. Buruh gendong merupakan kelompok pekerja informal yang tidak memiliki proteksi sosial seperti jaminan upah standar, jaminan kesehatan dan hari tua. Hal ini menghadirkan permasalahan ekonomi yang memengaruhi kesejahteraan hidup buruh gendong perempuan. Para buruh gendong ini juga berperan ganda yakni menjalankan peran ekonomi dan memegang tanggung jawab atas urusan domestik. Paguyuban buruh gendong yang diinisasi Yasanti menjadi penguat solidaritas untuk buruh gendong dalam menjaga kesejahteraan yang tidak didapat dari pemerintah. Pengkajian strategi Yasanti dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus untuk dapat memberi menjawab rumusan masalah. Maka, kajian topik ini mampu menjadi pembuka bahasan secara lebih lanjut mengenai perlindungan kerja untuk kesejahteraan hidup pekerja informal. Pun soal manifestasi kesenjangan upah yang diperoleh kelompok Buruh Gendong Pasar Beringharjo di Yogyakarta di masa pandemi.

This paper analyzes the efforts of Yasanti, a civil society organization in Yogyakarta, in increasing empowerment in order to reduce the patriarchal culture of the Beringharjo Market Carrying Women Workers group in the context of a pandemic. This article answers the question of how the pandemic hit the economy of women carrying workers, where there was a decline in wages due to market closures. Also the lack of protection obtained by informal workers. This study is important to see the reality of informal workers during the pandemic, especially women carrying women in Beringharjo Market, which is the center of Yogyakarta's tourism economy. Carrying workers are a group of informal workers who do not have social protection such as standard wage insurance, health insurance and old age insurance. This presents economic problems that affect the welfare of women carrying women. These carrying workers also play a dual role, namely carrying out economic roles and holding responsibility for domestic affairs. The carrying workers' association, which was initiated by Yasanti, has become a solidarity for carrying workers in maintaining the welfare that the government does not get. The study of Yasanti's strategy was carried out using qualitative methods with case studies to be able to provide answers to the formulation of the problem. Thus, the study of this topic is able to open a further discussion regarding work protection for the welfare of informal workers. The issue of the manifestation of the wage gap obtained by the Beringharjo Market Labor group in Yogyakarta during the pandemic.

Kata Kunci : Yasanti, patriarki, buruh gendong perempuan, kesejahteraan, kesenjangan upah

  1. S1-2022-424715-abstract.pdf  
  2. S1-2022-424715-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-424715-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-424715-title.pdf