Laporkan Masalah

Analisis Longitudinal Mengenai Asosiasi antara Kondisi Stunting pada Usia 0-23 Bulan dan Kemampuan Kognisi pada Usia 8 Tahun

PANJI PUTRANTO N, Amelia Maika, MA, M.Sc., Ph.D.

2022 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Latar Belakang : Hingga saat ini stunting merupakan fenomena yang masih menjadi perhatian dunia. Fenomena stunting di Indonesia masih tergolong sangat tinggi jika dibanding dengan negara di kawasan Asia lainnya. Anak yang tergolong ke dalam stunting akan mendapatkan efek jangka pendek dan jangka panjang, salah satunya adalah penurunan kemampuan kognisi pada usia-usia produktif. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji determinan yang berasosiasi dengan fenomena stunting serta bagaimana asosiasi status stunting pada balita usia 0-23 bulan dengan kemampuan kognisi pada usia sekolah atau 8 tahun. Metode : Penelitian ini hadir dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode analisis data sekunder. Data sekunder didapatkan dari Indonesia Family Life Survei (IFLS) atau SAKETI gelombang ke empat dan ke lima. Responden dari penelitian ini adalah balita usia 0-23 bulan pada tahun 2007 dan mereka yang menyelesaikan tes pengukuran kemampuan kognisi pada tahun 2014/2015 ketika berusia 8 tahun. Jumlah total responden akhir dalam penelitian ini adalah 1.100. Teknik analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis deskriptif-inferensial. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan data karakteristik rumah tangga, orangtua, dan anak termasuk status malnutrisi serta kemampuan kognisi mereka. Selanjutnya teknik analisis inferensial digunakan untuk mengetahui beberapa faktor yang berasosiasi dengan stunting dan kemampuan kognisi anak. Model analisis regresi logistik dan regresi linear digunakan di dalam penelitian ini untuk melihat peluang dan asosiasi antara variabel dependen dengan varibel independen. Hasil : Pertama, terdapat asosiasi yang signifikan antara jenis kelamin dengan status stunting dan skor kognisi. Kedua, terdapat asosiasi yang signifikan antara SSE rumah tangga dengan status stunting. Semakin tinggi status sosial ekonomi rumah tangga maka peluang stunting akan semakin kecil dan skor kognisi anak akan semakin tinggi. Ketiga, terdapat asosiasi yang signifikan antara lokasi rumah tangga dengan status stunting. Rumah tangga yang tinggal di pedesaan berpeluang besar untuk menjadi stunting dan skor kognisinya jauh lebih rendah. Keempat, tidak terdapat asosiasi yang signifikan antara sumber air minum utama dengan status stunting. Kelima, terdapat asosiasi yang signifikan antara akses sanitasi dengan status stunting. Rumah tangga yang tidak memiliki akses sanitasi lebih berpeluang menjadi stunting dan skor kognisinya lebih rendah dibandingkan dengan rumah tangga yang memiliki akses sanitasi. Keenam, terdapat asosiasi yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status stunting. Anak yang memiliki ibu dengan kelompok pendidikan tinggi memiliki skor kognisi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok lainnya. Ketujuh, terdapat asosiasi antara riwayat stunting dengan skor kognisi anak pada saat memasuki usia sekolah. Anak yang memiliki riwayat stunting memiliki skor kognisi yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak memiliki riwayat stunting. Kesimpulan : Melalui berbagai uji statistik pada variabel yang digunakan di dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemiskinan atau status sosial ekonomi rumah tangga berasosiasi sangat besar dengan peluang terjadinya stunting pada balita serta kemampuan kognisi anak. Rumah tangga miskin kesulitan dalam mengakses berbagai macam fasilitas dan pemenuhan hak yang seharusnya mereka dapatkan. Minimnya akses layanan pendidikan, kesehatan, dan kerentanan pangan akan selalu menjadi jurang penyebab permasalahan gizi dan ketimpangan kognisi.

Background : Until now stunting is a phenomenon that is still a concern of the world. The phenomenon of stunting in Indonesia is still relatively high when compared to other countries in the Asian region. Children who are classified as stunting will get short-term and long-term effects, one of which is a decrease in cognitive abilities in productive ages. This study seeks to examine the determinants associated with the stunting phenomenon and how the association of stunting status in toddlers aged 0-23 months with cognitive abilities at school age or 8 years. Methods : This study uses a quantitative approach through secondary data analysis methods. Secondary data was obtained from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) or the fourth and fifth batches of SAKETI. The respondents of this study were children aged 0-23 months in 2007 and those who completed the cognitive ability measurement test in 2014/2015 when they were 8 years old. The total number of final respondents in this study was 1,100. The data analysis technique used in this research is descriptive-inferential analysis technique. Descriptive analysis technique was used to describe data on household characteristics, parents, and children including their malnutrition status and cognitive abilities. Furthermore, the inferential analysis technique was used to determine several factors associated with stunting and children's cognitive abilities. Logistic regression analysis models and linear regression were used in this study to see the probabilities and associations between the dependent variable and the independent variable. Results : First, there is a significant association between gender with stunting status and cognitive scores. Second, there is a significant association between household SSE and stunting status. The higher the socioeconomic status of the household, the smaller the chance of stunting and the higher the child's cognitive score. Third, there is a significant association between household location and stunting status. Households living in rural areas have a greater chance of being stunted and their cognitive scores are much lower. Fourth, there is no significant association between the main drinking water sources and stunting status. Fifth, there is a significant association between access to sanitation and stunting status. Households that do not have access to sanitation are more likely to be stunted and have lower cognitive scores than households that have access to sanitation. Sixth, there is a significant association between maternal education and stunting status. Children who have mothers with higher education groups have higher cognitive scores when compared to other groups. Seventh, there is an association between a history of stunting and a child's cognitive score at school age. Children who have a history of stunting have a lower cognitive score than children who do not have a history of stunting. Conclusion : Through various statistical tests on the variables used in this study, it can be concluded that poverty or household socioeconomic status is highly associated with the chance of stunting in toddlers and children's cognitive abilities. Poor households have difficulty in accessing various kinds of facilities and fulfilling the rights they should get. The lack of access to education, health and food insecurity will always be the cause of nutritional problems and cognition inequality.

Kata Kunci : Stunting, Kemampuan Kognisi, Determinan Stunting, Dampak Stunting, Studi Longitudinal.

  1. S1-2022-430846-abstract.pdf  
  2. S1-2022-430846-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-430846-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-430846-title.pdf