Laporkan Masalah

Problematika Mainstreaming Gender diranah Politik

DESTIA EKASARI, Drs. Soeprapto, S.U.

2022 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Tingkat keterwakilan perempuan dalam politik Indonesia tidak lepas dari beberapa problem. Problem yang dimaksud berasal dari faktor eksternal maupun faktor internal dari sosok perempuan itu sendiri. Penelitian ini memaparkan beberapa problem yang dihadapi oleh kaum perempuan begitu juga oleh partai politik dengan kaitannya pemenuhan representasi perempuan diparlemen. Keterwakilan perempuan di tingkat Kabupaten Sleman ini menjadi sebuah angka tertinggi diantara kabupaten lainnya di Provinsi Yogyakarta yakni dengan total kursi 13 kursi atau setara dengan 26% dari total 50 kursi parlemen. Peneliti menggunakan metode fenomenologi dengan teknik pengumpulan data observasi mandiri dan wawancara oleh beberapa narasumber. Dimana dalam penelitian ini, peneliti melihat bahwa meski kursi parlemen teruntuk perempuan di Kabupaten Sleman ini terus meningkat, akan tetapi peningkatannya tidak signifikan dikarenakan oleh beberapa faktor eksternal ataupun internyal perempuan itu sendiri. Sehingga hal ini mengakibatkan belum optimalnya kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen. Analisis Pathway C digunakan oleh peneliti untuk menganalisis penelitian ini. Dimana disebutkan bahwa kesetaraan gender dapat diukur berdasarkan 4 aspek, yaitu: Akses, Partisipasi, Kontrol dan Manfaat. Peneliti melihat bahwa, meski sistem politik dalam pemilu sudah terdapat kebijakan kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen dan menyediakan afirmasi bagi perempuan, praktiknya masih terdapat beberapa permasalahan dihadapi oleh perempuan yang membuat perempuan tidak memungkinkan memperoleh suara yang lebih banyak dibanding laki � laki.

The level of women's representation in Indonesian politics can�t be separated from several problems. Problems intended are from external factors and internal factors of the woman itself. This study explains several problems faced by women and political parties related to the fulfillment of women's representation in the parliament. Women's representation in Sleman Regency becomes the highest score among other regencies in Yogyakarta Province, in which there are 13 positions or equivalent to 26% of the total 50 parliamentary positions. The researcher used the phenomenology method. The data were collected by self-observation and interviews with several informants. In this study, the researcher found that although the parliamentary position for women in Sleman Regency is increasing, the increase is not significant, which was caused by several external factors or internal factors of the women. Thus, this causes less optimal for the 30% quota of the women's representation in the parliament. Pathway C Analysis was used by the researcher to analyze this study. It is stated that gender equality can be measured according to 4 aspects: Access, Participation, Control, and Benefit. The researcher found that even though the political system in a general election already has a policy for a 30% quota of women's representation in the parliament and provide affirmation for women, in its practice, there are several problems faced by women, which makes women impossible to obtain more votes than men.

Kata Kunci : Perempuan Politik, Keterwakilan Perempuan, Problematika Perempuan Politik

  1. S1-2021-394663-abstract.pdf  
  2. S1-2021-394663-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-394663-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-394663-title.pdf