Laporkan Masalah

KONFLIK AGRARIA DAN GERAKAN SOSIAL PEREMPUAN DI TAPANULI UTARA MASA ORDE BARU, 1971-1990AN

LASRON P. SINURAT, Dr. Agus Suwignyo, M.A.

2022 | Tesis | MAGISTER SEJARAH

Perlawanan sosial di pedesaan merupakan wujud dari akumulasi kemarahan masyarakat terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh negara. Di era pemerintahan Orde Baru, perlawanan sosial di pedesaan tumbuh secara sporadis dalam rangka mempertahankan hak atas tanahnya. Dalam periode ini, kebijakan politik agraria bertujuan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi nasional. Pemanfaatan dan pengelolaan hutan sebagai sumber agraria yang digunakan untuk mencapai tujuan negara tersebut mengakibatkan konflik agraria di Tapanuli Utara. Tesis ini membahas tentang konflik agraria dan gerakan sosial perempuan dalam kurun waktu 1971-1990an. Konflik agraria merupakan konsekuensi dari implementasi kebijakan agraria dan gerakan sosial perempuan sebagai respon terhadap kebijakan agraria Orde Baru mengancam keberadaan dan kepemilikan hak adat atas tanah masyarakat. Dalam tesis ini, perempuan yang dimaksud adalah para ina atau kaum ibu-ibu. Penelitian ini menggunakan metode penulisan sejarah dengan studi pustaka dan wawancara. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, asal mula konflik agraria di Tapanuli Utara adalah pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Kedua, bangkitnya perlawanan perempuan tidak terlepas dari advokasi sosial Gereja, baik Katolik maupun Protestan, dan juga kaum intelektual gereja. Ketiga, perempuan atau kaum ibu tidak mau melepaskan hak atas tanah yang diperoleh dari suami karena tanah merupakan sumber pencaharian utama. Keempat, pendekatan budaya penting digunakan pemerintah dalam penyelesaian konflik agraria, khususnya di Tapanuli Utara.

Social resistance in rural areas is an accumulation of people's anger at the injustices committed by the state. In the new order era, rural social resistance grows sporadically to defend their land rights. In this period, the agrarian political policy aims to enhance national economy income. Forestry management as an agrarian source used to accomplish the country's purpose is causing the agrarian conflict in Northern Tapanuli. This Thesis deal with agrarian conflict and woman's social movement over the 1971-1990s. Agrarian conflict is a consequence of the implementation of agrarian policies and women's social movement have emerged in response to the new order agrarian policy that threatens the existence and ownership of indigenous land. In this thesis, the women were known as ina or mothers. The study used the method of writing history with literary studies and oral history. This study led to several discoveries. First, the origin of the agrarian in Northern Tapanuli is the 1967 bills on forest term. Second, the rise in women's resistance is not independent of the church's social advocacy, both catholic and protestant, as well as the church's intellectual community. Third, ina or mothers refuse to relinquish rights to the land acquired from their husbands because it is the main source of employment. Fourth, important cultural approaches are used to rule in the agrarian conflict settlement, especially in Northern Tapanuli.

Kata Kunci : Konflik Agraria, Gerakan Sosial Perempuan, Orde Baru, Hutan, Tanah Adat, Tapanuli Utara.

  1. S2-2022-434553-abstract.pdf  
  2. S2-2022-434553-bibliography.pdf  
  3. S2-2022-434553-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2022-434553-title.pdf