Laporkan Masalah

Anak dan Kejahatan dalam kurung Praktik dan Kekerasan Simbolik Pada Anak Berkonflik dengan Hukum di Sumatera Selatan tutup kurung

DIANA DEWI SARTIKA, Dr. Muhamad Supraja; Dr. Oki Rahadianto Sutopo

2021 | Disertasi | DOKTOR SOSIOLOGI

Fenomena anak sebagai pelaku kejahatan (Anak Berkonflik dengan Hukum/ABH) menunjukkan bahwa kejahatan tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. ABH yang berada dalam posisi subordinat sangat rentan mengalami tindak kekerasan, termasuk pula kekerasan simbolik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi praktik tindak kejahatan yang dilakukan ABH dan kekerasan simbolik yang dialami ABH dalam arena kejahatan. Guna mencapai tujuan tersebut, kerangka teoritik yang digunakan yaitu Teori Praktik melalui relasi dialektik antara habitus, kapital dan arena, serta konsep kekerasan simbolik dari Bourdieu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Informan utama dalam penelitian ini adalah ABH di LPKA Palembang dan ABH di Lapas Kayuagung. Sementara informan pendukung yaitu petugas LPKA Palembang, petugas Lapas Kayuagung, tokoh masyarakat dan juga wali ABH. Analisis data dilakukan secara berjenjang. Setelah data terkumpul, data kemudian diolah melalui proses kategorisasi dan pemilahan data, kemudian disajikan hingga sampai kepada proses merumuskan kesimpulan. Guna mendapatkan kualitas data yang dapat dipertanggungjawabkan kajian ini juga melakukan triangulasi data. Selama Tahun 2020, rata-rata jumlah ABH di Provinsi Sumatera Selatan merupakan yang tertinggi di Indonesia, dan kasus pencurian merupakan kasus terbanyak yang menjerat ABH. Mayoritas ABH berasal dari Kota Palembang, dan jika dilihat berdasarkan gender, keberadaan ABH perempuan sangat jarang ditemui. Adapun, latar belakang keluarga, kondisi perekonomian, latar belakang pendidikan, dan lingkungan sosial serta pertemanan ABH kurang mendukung ABH untuk mengembangkan kapasitas refleksif yang mumpuni untuk menghadapi arena perjuangan yang penuh risiko, termasuk risiko tergelincir ke dalam arena kejahatan. ABH dibesarkan dengan tawaran-tawaran pilihan tindakan, akan tetapi ABH lebih memilih untuk melakukan tindak kejahatan, baik secara individual maupun berkelompok. Kapital sosial yang dimiliki ABH dalam melakukan tindak kejahatan yaitu berjejaring dan mendapatkan kepercayaan dengan sejumlah pelaku tindak kejahatan. Pengetahuan akan seluk beluk kejahatan merupakan kapital budaya. Sementara, keinginan untuk menjadi bandi besar dan perasaan ingin dihargai dan juga disegani merupakan motif untuk meraih kapital simbolik. Kapital ekonomi tidak banyak berperan dalam praktik tindak kejahatan, karena sebagian besar ABH berasal dari kelas sosial menengah ke bawah. Hasil penelitian juga menunjukkan, posisi sebagai anak seringkali menyebabkan ABH secara tidak sadar mengalami kekerasan simbolik, seperti diperalat dan juga dimanipulasi hingga akhirnya terjebak melakukan tindak kejahatan. Kekerasan simbolik dilakukan oleh agen yang lebih senior dengan kepemilikan kapital yang lebih dominan. Penelitian ini menyumbangkan wawasan baru dan mengisi ruang kosong terkait tindak kejahatan dalam perspektif Teori Praktik dan juga kekerasan simbolik pada ABH.

The phenomenon of children as perpetrators of crimes (Children in Conflict with the Law/ABH) shows that crimes are not only committed by adults, but also children. ABH who are in a subordinate position are very vulnerable to violence, including symbolic violence. Therefore, this study aims to explore the practice of crimes committed by ABHs and the symbolic violence experienced by ABHs in the crime arena. In order to achieve this goal, the theoretical framework used is the theory of practice through the dialectical relationship between habitus, capital and arena, as well as the concept of symbolic violence from Bourdieu. This research is a qualitative research with a phenomenological method. Data collection was carried out through observation, in-depth interviews and documentation. The main informant in this study was ABH at LPKA Palembang and in Lapas Kayuagung. Meanwhile, the supporting informants were LPKA Palembang officers, Kayuagung prison officers, community leaders and ABH parents. Data analysis was carried out in stages. After the data is collected, the data is then processed through a process of categorizing and sorting the data, then it is presented up to the process of formulating conclusions. In order to obtain accountable data quality, this study also conducts data triangulation. During 2020, the average number of ABHs in South Sumatra Province was the highest in Indonesia, and theft cases were the most cases that ensnared ABHs. The majority of ABH comes from Palembang City, and when viewed by gender, the presence of female ABH is very rare. Meanwhile, ABH's family background, economic condition, educational background, and social environment and friendships do not support ABH to develop a qualified reflexive capacity to face the field of struggle that is full of risks, including the risk of slipping into the arena of crime. ABH grew up with offers of choice of action, but ABH prefers to commit crimes, either individually or in groups. The social capital owned by ABH in committing crimes is networking and gaining trust with a number of criminals. Knowledge of the ins and outs of crime is cultural capital. Meanwhile, the desire to become a big bandit, and the feeling of wanting to be respected and respected are the motives for achieving symbolic capital. Economic capital does not play much of a role in the practice of crime, because most ABHs come from the lower middle social class. The results of the study also show that the position as a child often causes ABH to unconsciously experience symbolic violence, such as being 'used up' and also 'manipulated' until finally trapped in committing a crime. Symbolic violence is committed by senior agents with more dominant capital ownership. This research contributes new insights and fills the gaps related to crime in the perspective of Theory of Practice as well as symbolic violence in ABH

Kata Kunci : anak, kejahatan, praktik, Bourdieu, kekerasan simbolik

  1. S3-2021-405376-abstract.pdf  
  2. S3-2021-405376-bibliography.pdf  
  3. S3-2021-405376-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2021-405376-title.pdf