Laporkan Masalah

Membangun Solidaritas Sosial Keagamaan untuk Optimalisasi Pengelolaan Sampah di Bantul

INDRIA HARTIKA R, Dr. Samsul Maarif; Fatimah Husein, MA., Ph.D

2021 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYA

Penelitian ini memaparkan korelasi krisis sampah dan kegandrungan masyarakat terhadap agama. Penelusuran mengenai korelasi ini penting untuk melihat sejauh mana masyarakat memahami muatan ajaran agama untuk mencintai alam semesta. Dalam konteks ini, religiusitas diukur dari tindakan pengelolaan sampah sebagai wujud kepedulian terhadap alam. Terkait timbulan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kabupaten Bantul memiliki jumlah timbulan sampah terkecil. Oleh sebab itu, tesis ini berfokus pada penelusuran berbagai upaya gerakan sosial masyarakat untuk mengatasi masalah sampah di Bantul. Pembahasan difokuskan pada beberapa pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkontribusi dalam pengurangan timbulan sampah di Bantul. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan pengambilan data lapangan di kantor tempat pemrosesan akhir (TPA) Piyungan, DLH Bantul, dan lima kelompok pengelolaan sampah di Bantul. Selain itu, data pendukung lainnya diperoleh dari laporan-laporan data persampahan dari media online melalui website resmi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Yogyakarta dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta. Penelitian ini menemukan bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat Bantul berkontribusi untuk pengurangan timbulan sampah sebesar 61,16%. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya kontribusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang terdiri dari instansi pendidikan berbasis agama, kelompok masyarakat, dan komunitas pemuda sehingga Bantul memiliki potensi dalam pengembangan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang lebih aktif. Penelitian ini memilih lima kelompok pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dianalisis dengan menggunakan teori agama yang menekankan relasi antar pribadi/subyek dengan tiga prinsip utama: tanggung-jawab, etis, dan resiprokal dalam melihat perilaku atau relasi pada pengelolaan sampah. Kelima kelompok ini menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat religius yang signifikan, khususnya dalam relasinya dengan alam, tetapi rendah dalam konteks relasi antara pengelola sampah. Peningkatan religiusitas dengan demikian diperlukan untuk pengurangan timbulan sampah di Bantul.

This study describes the correlation between the waste crisis and people's love for religion. The search for this correlation is important to see how people understand the content of religious teachings to love the universe. In this context, religiosity measure from waste management actions as a form of concern for nature. Regarding waste generation in the Special Region of Yogyakarta, Bantul Regency has the lowest level of waste generation. Therefore, this thesis focuses on tracing the efforts of various community social movements to overcome the waste problem in Bantul. The discussion focused on several community-based waste management that contributes to reducing waste generation in Bantul. This study uses interviews and field data collection at the Piyungan TPA office, DLH Bantul, and five waste management groups in Bantul. In addition, other supporting data obtain from waste data reports from online media through the official website of the Yogyakarta Environment and Forestry Service (DLHK) and the Sleman, Bantul, and Yogyakarta Municipality Environmental Service (DLH). This study found that the waste management carried out by the Bantul community contributed to the reduction of waste generation by 61.16%. It is motivated by the contribution of community-based waste management consisting of religious-based educational institutions, community groups, and youth communities so that Bantul has the potential to develop more active community-based waste management. This study selected five community-based waste management groups analyzed using the religious theory that emphasizes interpersonal/subject relationships with three main principles: responsibility, ethics, and reciprocity in viewing behavior or relationships in waste management. These five groups indicate that they have a significant religious level, especially concerning nature, but low in the relationship between waste management. Increasing religiosity is thus needed to reduce waste generation in Bantul.

Kata Kunci : krisis sampah, religiusitas, pengelolaan sampah

  1. S2-2021-449878-abstract.pdf  
  2. S2-2021-449878-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-449878-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-449878-title.pdf