Laporkan Masalah

PERTIMBANGAN PETANI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENEBANGAN POHON DI UNIT MANAJEMEN HUTAN RAKYAT (UMHR) WONO REJO KABUPATEN BANTUL

INDAH T S P, Dr. Rohman, S.Hut., M.P

2021 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Penebangan yang dilakukan di UMHR Wono Rejo didasarkan pada kebutuhan dan kondisi petani hutan rakyat tanpa mempertimbangkan umur pohon sehingga, informasi mengenai umur tebang tidak tersedia. Penentuan umur tebang oleh petani hutan rakyat sangat bervariatif dan dipengaruhi berbagai faktor menjadi dasar penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk (1) mendeskripsikan pertimbangan atau alasan petani dalam pengambilan keputusan penebangan di hutan rakyat UMHR Wono Rejo (2) menghitung umur tebang yang diterapkan di UMHR Wono Rejo. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan memilih responden anggota UMHR Wono Rejo yang masih aktif dan melakukan penebangan selama dua tahun terakhir. Pengambilan data dilakukan dengan sensus terhadap 38 responden petani. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif yaitu menjelaskan hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi petani dengan umur tebang yang diterapkan. Untuk penentuan umur tebang dilakukan dengan perhitungan rerata umur tebang dari jenis dominan yaitu jati, mahoni, dan akasia. Berdasarkan hasil penelitian, pertimbangan petani hutan rakyat UMHR Wono Rejo dalam melakukan penebangan pohon semata-mata didasarkan pada kebutuhan. Kebutuhan petani antara lain untuk kebutuhan pendidikan, kegiatan sehari-hari, bangunan, membeli lahan dan kebutuhan lain-lain sebanyak masing-masing secara berurutan 34%, 26%, 24%, 11%, dan 5%. Rerata umur tebang pohon di UMHR Wono Rejo untuk kebutuhan pendidikan 20 tahun, untuk kegiatan sehari-hari 18 tahun, untuk bangunan 16 tahun, untuk membeli lahan 21 tahun dan kegiatan lainnya 19 tahun. Rerata umur tebang pohon untuk setiap jenis jati, mahoni, akasia berturut-turut sebesar 22; 16; 13 tahun. Rerata umur tebang tersebut merupakan umur tebang pohon untuk pemenuhan kebutuhan atau dapat dikatakan sebagai "daur butuh".

Harvesting carried out in Community Forest Unit Management (UMHR) Wono Rejo based on the needs and living conditions of forest farmers without considering the age of the trees. This causes a lack of information available regarding the tree cutting age. This research driven based on factors that influenced farmers to determine the various tree cutting age. The purpose of this study is to (1) examine the reasons and factors that influence farmers on making decision regarding harvesting in the community forest of UMHR Wono Rejo (2) determine the applied cutting age in UMHR Wono Rejo. This research used a survey method that was done by choosing members from UMHR Wono Rejo that were still active. A census of 38 respondents who were still actively harvesting over the past two years was conducted. Data analysis was carried out by descriptive analysis to explain the relationship between farmers' socioeconomic with the applied cutting age. Cutting age was calculated from cutting age averages of teak, mahogany, and acacia. Results showed that forest farmers of UMHR Wono Rejo performed selective harvesting based on their needs. These needs include educational fares (34%), daily activities (26%), building constructions (24%), buying land (11%), and others (5%). The average tree cutting age was 20 years for educational fare, 18 years for daily activities, 16 years for building construction, 21 years for buying land, and 19 years for other needs. The average tree cutting age for each type of teak, mahogany, acacia was 22, 16, and 13 years. Those were the averages of cutting age needed to fulfill farmers' needs, or could be determined as "daur butuh".

Kata Kunci : hutan rakyat, umur tebang, tebang butuh, daur butuh, UMHR / community forest, selective harvesting, daur butuh, cutting age, UMHR

  1. S1-2021-366511-Abstract.pdf  
  2. S1-2021-366511-Bibliography.pdf  
  3. S1-2021-366511-Tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-366511-Title.pdf