Laporkan Masalah

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BEHAVIORAL INTENTION MAHASISWA UNTUK MENGIKUTI PERKULIAHAN TATAP MUKA DALAM MASA PANDEMI COVID-19

LUSIA ESTIHITO E, Ir. I Gusti Bagus Budi Dharma, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.

2021 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI

Dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama Empat Menteri tahun 2020 yang diikuti oleh terbitnya Surat Edaran Nomor 4 dan 6 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 menyebutkan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi mulai bulan Januari 2021 dapat diselenggarakan secara campuran, yaitu tatap muka dan dalam jaringan (hybrid learning) telah menimbulkan berbagai tanggapan. Hingga penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021, banyak perguruan tinggi di Indonesia yang belum mau untuk menyelenggarakan perkuliahan tatap muka. Dilihat dari data statistik tingkat minat mahasiswa terhadap bentuk pembelajaran di masa pandemi, dapat diketahui bahwa mayoritas mahasiswa menginginkan bentuk blended learning, walaupun persentase mahasiswa yang menginginkan perkuliahan daring atau perkuliahan luring seluruhnya juga layak dipertimbangkan. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi behavioral intention mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan empat variabel prediktor, yaitu Attitude Towards Behavior (ATB), Effort Expectancy (EE), Performance Expectancy (PE), dan Coronavirus Anxiety Level (CAL) untuk menjelaskan Behavioral Intention (BI). Penelitian menggunakan metode Partial Least Square-Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan jumlah sampel 400 responden yang tersebar di seluruh Indonesia. Analisis tambahan menggunakan Partial Least Square Multigroup Analysis (PLS-MGA) dilakukan untuk menguji efek moderasi dari gender dan perbedaan domisili terhadap hubungan keempat variabel prediktor dengan BI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ATB, EE, dan PE berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap BI, sedangkan CAL berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap BI. Diketahui pula bahwa gender dan perbedaan domisili menguatkan secara positif dan signifikan hubungan antara ATB, EE, dan PE dengan BI, namun tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap hubungan CAL dengan BI. Kelompok gender laki-laki memiliki pengaruh lebih besar dengan perbedaan signifikan dari kelompok gender perempuan terhadap hubungan PE dengan BI, sedangkan kelompok gender perempuan memiliki pengaruh lebih besar terhadap hubungan ATB dan EE dengan BI walau tidak terdapat perbedaan signifikan dengan kelompok gender laki-laki. Ditemukan pula bahwa kelompok mahasiswa/i dengan domisili sama dengan kampus memiliki pengaruh lebih besar terhadap hubungan ATB dengan BI, sedangkan kelompok domisili beda memiliki pengaruh lebih besar terhadap hubungan EE dan PE dengan BI. Namun demikian, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok domisili sama dan domisili beda dalam mempengaruhi hubungan ATB, EE, dan PE dengan BI.

The issuance of Surat Keputusan Bersama Empat Menteri tahun 2020 which was followed by the issuance of Surat Edaran Nomor 4 dan 6 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 stated that learning in universities starting in January 2021 can be held in a blended system, namely face-to-face and in the network (hybrid learning) has given rise to various responses. Until this research was carried out in July 2021, many universities in Indonesia were not willing to hold face-to-face lectures. If viewed from the statistical data on the level of student interest in learning forms during the pandemic, it can be seen that the majority of students want a form of blended learning, although the percentage of students who only want online lectures or offline lectures is also worth considering. Therefore, this study was conducted to determine the factors that influence the behavioral intention of students to attend face-to-face lectures in the midst of the Covid-19 pandemic. This study uses four predictor variables, namely Attitude Towards Behavior (ATB), Effort Expectancy (EE), Performance Expectancy (PE), and Coronavirus Anxiety Level (CAL) to explain Behavioral Intention (BI). The study used the Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method with a sample of 400 respondents spread throughout Indonesia. Additional analysis using Partial Least Square Multigroup Analysis (PLS-MGA) was conducted to examine the moderating effect of gender and domicile differences on the relationship of the four predictor variables with BI. The results showed that ATB, EE, and PE had a positive and significant effect on BI, while CAL had a negative and insignificant effect on BI. It is also known that gender and domicile differences positively and significantly strengthen the relationship between ATB, EE, and PE with BI, but do not have a significant effect on the relationship between CAL and BI. The male gender group has a greater influence with significant differences than the female gender group on the relationship between PE and BI, while the female gender group has a greater influence on the relationship between ATB and EE with BI although there is no significant difference with the male gender group. It was also found that groups of students with the same domicile as the campus had a greater influence on the relationship between ATB and BI, while groups with different domiciles had a greater influence on the relationship between EE and PE with BI. However, there was no significant difference between groups of the same domicile and different domiciles in influencing the relationship between ATB, EE, and PE with BI.

Kata Kunci : behavioral intention, coronavirus anxiety, face-to-face lectures, PLS-SEM, PLS-MGA

  1. S1-2021-410286-abstract.pdf  
  2. S1-2021-410286-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-410286-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-410286-title.pdf