Laporkan Masalah

Analisis Skema Insentif Finansial untuk Menunjang Keberlanjutan Retailer Mikro di Perkotaan

SALSAHELA MUTIARA CLARIZA, Ir. Budhi Sholeh Wibowo, S.T., M.T., PD.Eng., IPM., ASEAN.Eng.

2021 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI

Toko kelontong merupakan sebuah ritel tradisional yang mengoperasikan usahanya dibawah keterbatasan dana. Penambahan persediaan pada toko kelontong dipengaruhi oleh ketersediaan on hand cash pada setiap harinya. Ketersediaan on hand cash dapat terkendala jika banyak pelanggan yang melakukan pembayaran secara berhutang. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini memberikan dua alternatifskenario, yaitu kredit perdagangan dan kredit bank untuk mempertahankan working capital dari toko kelontong. Dengan adanya dua skenario tersebut, toko kelontong dapat memenuhi permintaan pelanggan sehingga dapat meningkatkan penjualan. Simulasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh masing-masing skenario terhadap peningkatan kekayaan bersih serta bagaimana perbandingannya dengan skenario dasar, yaitu tanpa kredit. Hasil dari uji statistik menunjukkan bahwa skenario terbaik adalah dengan menggunakan kredit perdagangan dengan menghasilkan peningkatan kekayaan bersih yang paling tinggi. Kredit perdagangan hanya diperlukan sampai periode tertentu saat penjualan toko kelontong sudah mulai meningkat sehingga tidak memerlukan lagi kredit dari supplier. Kredit bank dapat digunakan sebagai alternatif jika supplier tidak memperbolehkan diberlakukannya kredit perdagangan. Analisis sensitivitas juga dilakukan pada penelitian ini, hasilnya menunjukkan bahwa skenario tanpa kredit tepat digunakan saat fraksi pembayaran tunai pelanggan tinggi sedangkan skenario kredit perdagangan dapat digunakan saat rata-rata permintaan lebih dari sama dengan target persediaan. Selain itu, analisis sensitivitas pada parameter fraksi hutang pelanggan yang tidak dibayarkan dan parameter persentase target monthly salary level menunjukkan kredit perdagangan lebih unggul pada seluruh kondisi.

Nanostore is a traditional retailer which operates their business under cash constrained conditions. Inventory replenishment of nanostore is affected by the availability of on hand cash. The on-hand cash is limited if many customers pay in debt. To deal with this problem, this study presents two alternative scenarios, trade credit and bank credit, to maintain the working capital of the nanostore. With these two scenarios, the nanostore could fulfill customer demand and increase the sales. Simulation is executed to determine the increase in net wealth for each scenario and how it compares to without credit scenario. Statistical test results indicate that the trade credit scenario produced the highest increase in net wealth. Trade credit is only needed until a period when sales from the nanostore have increase so that they do not need more credit from the supplier. Bank credit can be used as an alternative when the supplier does not allow trade credit. Sensitivity analysis shows that the without credit scenario is appropriate when the fraction of fulfilled customers’ demand paid immediately is high. In contrast, trade credit scenario is suitable when average demand is more than or equal to the inventory level. Moreover, sensitivity analysis shows that trade credit is superior in all conditions based on the fraction of customers’ loans that are never paid back and percentage of target monthly salary level parameter.

Kata Kunci : Tanpa Kredit, Kredit Perdagangan, Kredit Bank, Toko Kelontong, Kekayaan Bersih, Keterbatasan Working Capital, Hutang Pelanggan, Simulasi

  1. S1-2021-413693-abstract.pdf  
  2. S1-2021-413693-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-413693-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-413693-title.pdf