Laporkan Masalah

KONSEP PEREMPUAN IDEAL DALAM MENJAGA PERDAMAIAN MENURUT MASYARAKAT MALUKU: STUDI FILSAFAT KEBUDAYAAN ERNST CASSIRER

YULIA ROSDIANA PUTRI, Dr. Sartini

2021 | Skripsi | S1 FILSAFAT

Penelitian yang berjudul Konsep Perempuan Ideal dalam Menjaga Perdamaian Menurut Masyarakat Maluku: Studi Filsafat Kebudayaan Ernst Cassirer dilatarbelakangi oleh keberadaan konsep perempuan ideal Maluku yang dipengaruhi secara kuat oleh sistem patrilineal yang dipertemukan dengan peran perempuan Maluku dalam proses perdamaian dari konflik Maluku 1999. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk simbolik konsep perempuan ideal Maluku, menganalisis bentuk-bentuk simbolik tersebut, dan memaparkan kontribusinya dalam menjaga perdamaian di Maluku. Penelitian ini merupakan penelitian sistematis reflektif yang menggunakan data-data kualitatif yang diperoleh melalui studi pustaka. Data-data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik interpretasi, kesinambungan historis, heuristika, bahasa inklusif dan analogi, serta deskripsi. Hasil dari penelitian adalah pertama, konsep perempuan ideal masyarakat Maluku terdapat pada mitos Nusaina, cerita rakyat Nen Te Idar, tarian Cakalele, kisah Martha Christina Tiahahu, dan tradisi Amoi. Kedua, setiap bentuk simbolik mengandung makna yang khas berupa karakter, posisi, dan peran ideal yang seharusnya dimiliki oleh perempuan dalam masyarakat Maluku. Makna simbolik ina menunjukkan perempuan Maluku sebagai ciptaan pertama, makna simbolik Nen Te Idar menunjukkan perempuan Maluku sebagai sosok yang mulia, makna simbolik mai-mai menunjukkan perempuan Maluku sebagai pemberi restu dan doa, makna simbolik kabaresii menunjukkan perempuan Maluku sebagai pejuang, dan makna simbolik pengantin yang cerdas menunjukkan perempuan Maluku sebagai sosok perempuan yang menikah. Ketiga, peran-peran ideal yang seharusnya dimiliki oleh perempuan Maluku memiliki keterkaitan satu sama lain dan dapat memberikan kontribusi dalam menjaga perdamaian di Maluku. Kontribusi tersebut dapat dimplementasikan melalui dua jenis peran, yaitu peran sebagai ibu dan peran sebagai non ibu. Peran sebagai ibu ditunjukkan melalui makna simbolik ina, Nen Te Idar, mai-mai, dan pengantin yang cerdas yang sesuai dengan karakter kasih sayang dan anti kekerasan sebagai agen perdamaian. Sedangkan peran sebagai non ibu dapat ditunjukkan melalui makna simbolik kabaresii yang sesuai dengan karakter dialogis, dapat menangani konflik, dan dapat menciptakan perdamaian. Secara singkat, bagi masyarakat Maluku, perempuan dianggap ideal jika memberikan kontribusi dalam menjaga perdamaian.

The research entitled Konsep Perempuan Ideal dalam Menjaga Perdamaian Menurut Masyarakat Maluku: Studi Filsafat Kebudayaan Ernst Cassirer was motivated by the existence of the concept of the ideal women of Maluku which was strongly influenced by the patrilineal system that is met by the role of women of Maluku in the peace process from the Maluku conflict 1999. The purpose of this research was to describe the symbolic forms of the concepts of the ideal women of Maluku, analyze those symbolic forms, and explain their contributions in maintaining peace in Maluku. This research is systematic reflective research that uses qualitative data obtained through library studies. The data obtained were analyzed using techniques of interpretation, historical continuity, heuristic, inclusive language and analogy, and description. The result of the research is first, the concepts of ideal women according to the society of Maluku are found in the myth of Nusaina, folklore of Nen Te Idar, Cakalele dance, the story of Martha Christina Tiahahu, and Amoi tradition. Second, every symbolic form has a distinctive meaning in the form of character, position, and ideal role that should be owned by women in Maluku society. The symbolic meaning of ina shows the woman of Maluku as the first creation, the symbolic meaning of Nen Te Idar shows the woman of Maluku as a noble figure, the symbolic meaning of mai-mai shows the woman of Maluku as the giver of blessings and prayers, the symbolic meaning of kabaresii shows the woman of Maluku as a fighter, and the symbolic meaning of pengantin yang cerdas shows the woman of Maluku as a married woman. Third, the ideal roles that women of Maluku should have are related to each other and can contribute to maintaine peace in Maluku. These contributions can be implemented through two types of roles, that are as motherhood and non-motherhood roles. Motherhood roles is shown through the symbolic meanings of ina, Nen Te Idar, mai-mai, and pengantin yang cerdas which suit the character of affection and anti-violence as agents of peace. While the role of non-motehrhood is shown through the symbolic meaning of kabaresii which suits the character of dialogist, can handle conflicts, and can create peace. Shortly, fot the society of Maluku, women are considered be ideal if they contributed in maintaining peace.

Kata Kunci : perempuan ideal Maluku, bentuk simbolik, perdamaian

  1. S1-2021-412008-abstract.pdf  
  2. S1-2021-412008-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-412008-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-412008-title.pdf