Laporkan Masalah

Distribusi Spasial Embung Mikro Pertanian sebagai Habitat Ikan untuk Pencegahan Penyakit Tular Vektor di Perbukitan Selopamioro

ENI REJEKI, Prof. Dr. rer. nat Junun Sartohadi, M.Sc ; Dr. Ngadisih, M.Sc

2021 | Tesis | MAGISTER ILMU LINGKUNGAN

Embung mikro digunakan untuk mengatasi permasalahan kekeringan pada lahan pertanian. Distribusi spasial embung mikro memberikan informasi posisinya pada lahan, yang berkaitan dengan efektivitasnya sebagai penangkap aliran permukaan dan hujan. Genangan air yg tersimpan pada embung mikro dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan menimbulkan ancaman penyakit tular vektor. Pengurangan populasi nyamuk menggunakan ikan pemakan jentik pada embung mikro belum banyak diteliti. Tujuan penelitian ini adalah menyusun distribusi spasial embung mikro pertanian sebagai habitat ikan pemakan jentik untuk mencegah penyakit tular vektor. Penelitian diawali dengan perekaman foto udara perbukitan Selopamioro seluas 121,16 ha menggunakan UAV berjenis VTOL. Hasil perekaman diolah pada Agisoft Photoscan dengan menggunakan titik kontrol dari pengukuran GPS geodetik untuk menghasilkan orthophoto. DEM yang terbangun awal berupa DSM diturunkan menjadi bentuk DTM untuk menghasilkan ketelitian yang lebih baik. Orthopotho hasil pengolahan citra UAV diinterpretasi dengan berpedoman kunci interpretasi citra. Identifikasi lapangan dilakukan untuk validasi hasil interpretasi dan pengambilan data lapangan. Data lapangan yang diambil meliputi ukuran embung mikro, lingkungan (pH dan tekstur tanah) dan air (suhu, pH, oksigen terlarut/DO, kecerahan, ketersediaan pakan alami/ plankton). Kesesuaian embung mikro sebagai habitat ikan pemakan jentik dianalisis dengan penggabungan Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk penilaian dan pembobotan kesesuaian lingkungan dan air. Distribusi spasial embung mikro eksisting dan sebagian embung mikro yang dapat digunakan sebagai habitat ikan pemakan jentik dianalisis pada Sistem Informasi Geografi (SIG) dengan teknik Nearest Neighbour Analysis (NNA) dan pengelompokan berdasarkan elevasi, sudut lereng dan jarak pemukiman. Distribusi spasial keseluruhan embung mikro pada lokasi penelitian berpola cenderung mengelompok/ clustered pada penggunaan lahan tegalan. Posisi sebagian besar embung mikro berada pada sudut lereng yang sesuai untuk menangkap aliran permukaan (surface run off) dengan tekstur tanah yang dapat mempertahankan volume air tertampung. Embung mikro efektif untuk memenuhi 37,2 - 98,6 % kebutuhan irigasi pada lahan saat belum tercukupi dari air hujan. Jenis ikan pemakan jentik yang dapat dipelihara pada sebagian embung mikro sesuai prioritas kesesuaiannya adalah cupang (Betta splendens), gupi (Poecilia reticulata) dan sepat (Trichogaster trichopterus). Hanya 50 � 55% embung mikro dapat menjadi habitat ikan pemakan jentik dengan distribusi spasial berpola cenderung tersebar merata/ dispersed pada jarak terdekat dengan pemukiman.

Detention basin is one of drought mitigation in agricultural areas. The spatial distribution of detention basin illustrates its accuracy in land due to its effectiveness in catching surface runoff and rain. Water stored in detention basin is a pleasant breeding places for mosquitoes and pose a threat of vector-borne diseases. The reduction of mosquito populations using larvae-eating fish in detention basin has not been widely studied. The purpose of this study was to build the spatial distribution of the detention basin as fish habitat to prevent vector-borne diseases. The research was started by recording a 121,16 acres area of Selopamioro hills using a VTOL-type UAV. The results of the recording were processed on Agisoft Photoscan by using the control point from geodetic GPS measurements to produce an orthophoto. The DEM that was built early in the form of DSM was reduced to the DTM form to produce better accuracy. Orthopotho results of UAV image processing are interpreted based on the key image interpretation. Field identification was carried out to validate the results of interpretation and retrieval of field data. Field data taken includes the size of the detention basin, environment (pH and soil texture) and water (temperature, pH, dissolved oxygen / DO, brightness, availability of natural food / plankton). The suitability of the detention basin as a larva-eating fish habitat was analyzed by combining Geographic Information System (GIS) and Analytical Hierarchy Process (AHP) for assessing and weighting of environmental and water suitability. The spatial distribution of existing detention basins and which one can be used as larvae eating fish habitats are analyzed on the Geographic Information System (GIS) using Nearest Neighborhood Analysis (NNA) techniques and grouping based on elevation, slope and distance from settlement. The spatial distribution of detention basin at the research area was clustered in the dry land use types. Most of the detention basin was laid on a suitable slope for capturing surface run off with a suitable soil texture for holding and keeping the water. The detention basin was effective to meet 37,2 � 98,6% of irrigation water requirements. Types of larvae eating fish that can be reared in some detention basins according to their suitability priority are bettas (Betta splendens), guppies (Poecilia reticulata) and blue gouramis (Trichogaster trichopterus). Only 50 - 55% of detention basins can be used as habitats for larvae eating fish with a patterned spatial distribution that tends to be dispersed in the closest distance from the settlement.

Kata Kunci : distribusi spasial, embung mikro, pertanian, ikan, penyakit tular vektor, Selopamioro/ spatial distribution, detention basin, agriculture, fish, vector borne disease, Selopamioro

  1. S2-2021-449948-abstract.pdf.pdf  
  2. S2-2021-449948-bibliography.pdf.pdf  
  3. S2-2021-449948-tableofcontent.pdf.pdf  
  4. S2-2021-449948-title.pdf.pdf