Laporkan Masalah

INTRODUKSI KELAPA SAWIT: PERTIMBANGAN EKOLOGI DAN EKONOMI DI KALANGAN PETANI DUSUN SENGKUANG DAOK, DESA KUALA BUAYAN, PROVINSI KALIMANTAN BARAT

GANGGAS PRAKOSA S W, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A

2021 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Ekspansi kelapa sawit oleh petani kecil terus meluas di Kalimantan Barat yang mana melampaui angka laju ekspansi kelapa sawit oleh perusahaan swasta. Di Sanggau, Sebelumnya warga merupakan petani ladang berpindah sebagai petani subsisten dan penoreh karet sebagai penghasilan sampingan. Pada tahun 1991 perusahaan kelapa sawit bernama PT BHD (Bina Harapan Desa) mengintroduksi komoditas baru berupa kelapa sawit dengan penawaran keuntungan ekonomi yang lebih tinggi, dan pembangunan infrastruktur. Warga pun tertarik dan menyerahkan lahan mereka melalui skema NES (Nucleus Estate Scheme) seluas 7,5 hektar dan mendapatkan kembalian lahan sawit plasma seluas 2 hektar dan lahan perumahan seluas 0,5 hektar. Dalam tulisan ini saya melakukan analisis pilihan-pilihan petani lokal dalam menerima introduksi kelapa sawit yang dibawa oleh perusahaan. Saya berargumen bahwa pilihan tersebut tidak hanya didasarkan pada keuntungan ekonomi dan pembangunan yang ditawarkan perusahaan tetapi juga menyangkut pengetahuan lokal petani terhadap agronomi tanaman budidaya antara kelapa sawit, karet, dan padi rawa dalam konteks keadaan lingkungan sekitar mereka. Pilihan untuk mengadopsi sawit juga dipengaruhi oleh dorongan-dorongan sosial untuk hidup layak di zaman baru yang muncul dari nilai-nilai kemakmuran dan kemajuan. Penelitian ini dilakukan di dusun Sengkuang Daok selama 2 bulan yaitu awal Februari hingga akhir April dalam rangka penelitian Tandem. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi berupa fotografi agar mendapatkan data yang bersifat kualitatif.

The expansion rate of palm oil cultivation by smallholders in West Kalimantan has been reported to exceed big companies. In the Sanggau Regency, local people were considered as shifting cultivators for subsistence needs and rubber tappers for side income. In 1991, a private palm oil company named PT BHD (Bina Harapan Desa) introduced palm oil as a new commodity with an offering that it would bring higher economic return and infrastructure development. Local people then interested and given up their land through the nucleus estate scheme (NES) with a landmass of 7.5 ha and in return, they received 2 ha of plasma plot and 0.5 ha for housing land. In this thesis, I will analyze local farmer's choices to accept the palm oil cultivation brought by the company. I argue that those choices are not solely for economic profit and infrastructure development brought by the company but also based on their knowledge about crop agronomic between palm oil, rubber, and swap rice in the context of the surrounding environment. The choice to adopt palm oil is also influenced by social urges to live a suitable life in the new modern world which came from the notion of "prosperous" and "developed". This research was conducted in Sengkuang Daok hamlet for two months started from early February until late April as part of the Tandem research program. The methodology used was observatory participation, in-depth interview, and photographic documentation to obtain qualitative data.

Kata Kunci : kelapa sawit, petani kecil, pengetahuan lingkungan, keuntungan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dorongan sosial

  1. S1-2021-399490-abstract.pdf  
  2. S1-2021-399490-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-399490-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-399490-title.pdf