Laporkan Masalah

Implementasi Pengendalian Bahaya terhadap Insiden pada Pekerjaan Di Ketinggian di Proyek Konstruksi PT Y

PROMISETYANINGRUM FN, Dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA ; Vena Jaladara, S.K.M, MPH

2021 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar belakang: Sektor konstruksi telah menjadi bagian penting dalam proses pembangunan suatu negara. Pada dekade terakhir, perkembangan infrastruktur menunjukkan pertumbuhan yang pesat secara global. Industri konstruksi antara lain pekerjaan pembangunan, perubahan, dan perbaikan yang dalam pekerjaannya berisiko terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Di antara berbagai jenis kecelakaan, jatuh dari ketinggian dikenal sebagai penyebab utama cedera (injuries) dan korban jiwa (fatalities) dalam konstruksi. Insiden pekerjaan di ketinggian terjadi selama proses proyek PT Y seperti tergelincir dan tersandung dan nyaris meleset seperti robohnya tulangan besi kolom. Tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman diidentifikasikan sebagai faktor penyebab terjadinya nyaris celaka, insiden, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pengendalian bahaya pada insiden pekerjaan pada ketinggian pada proyek konstruksi PT Y. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, telaah dokumen, dan triangulasi data. Informan ditentukan melalui purposive sampling yang terdiri dari 6 informan yang terdiri dari 2 pekerja struktural di ketinggian, 1 mandor, 1 safety officer, 1 kepala divisi keselamatan, dan 1 manajer proyek. Hasil penelitian: Insiden dan near miss di ketinggian yang terjadi di PT Y antara lain terpeleset, tersandung, dan hampir tertimbun besi kolom yang disebabkan oleh unsafe act berupa pekerja tidak menggunakan helm, pekerja tidak menggunakan body harness, pekerja tidak mengaitkan body harness ke lifeline, dan pekerja tidak mengikuti instruksi kerja yang dipengaruhi oleh unsafe condition yaitu tidak tersedianya lifeline dan anchor point, tidak tersedianya safety net di tepi bangunan ataupun void, dan housekeeping yang belum berjalan maksimal. Implementasi program pengawasan sudah berjalan baik meskipun ada beberapa kendala yaitu kurangnya safety officer dan sulitnya dokumentasi temuan. Implementasi program pengendalian sudah berjalan baik namun terkendala pada koordinasi saat pemasangan alat pelindung kerja berupa lifeline dan anchor point serta ketidaknyamanan pekerja saat menggunakan alat pelindung diri. Kesimpulan: Tindakan tidak aman berkontribusi pada insiden dan kejadian near miss dalam proyek PT Y. Hambatan dalam program pengawasan seperti kurangnya petugas keamanan dan kesulitan dalam mendokumentasikan temuan. Untuk program pengendalian, koordinasi saat memasang alat pelindung berupa tali pengaman dan anchor point serta ketidaknyamanan pekerja saat menggunakan alat pelindung diri menjadi kendala utama dalam pelaksanaannya.

Background: The construction sector has become an important part of a country's development process. It consists of activities such as construction, alterations, and/or repairs which in the process include a risk of accidents. Among the various types of accidents, falls from a height are recognized as the leading cause of injuries and fatalities in construction. Work at height incidents occurred during PT Y's project process such as slipping and tripping and near miss such as collapse of the column reinforcement. Unsafe act and unsafe condition are identifying as factor contributing to near miss, incidents, and accidents. This study aims to determine hazard control implementation for work at height incidents in the construction project of PT Y. Methods: A qualitative descriptive study with a case study design through observation, in-depth interviews, documents review, and data triangulation. Informants are determined through purposive sampling which consist of 6 informants consisting of 2 structural workers at height, 1 structural sector foremen, 1 safety officer, 1 head of the safety division, and 1 project manager. Results: Incidents at height that occurred are slipping and tripping and near miss such as collapse of the column reinforcement caused by unsafe acts in the form of workers not wearing helmets, workers not using body harnesses, workers not attaching body harnesses to the lifeline, and workers not following instructions. Working that is influenced by unsafe conditions, namely unavailability of lifelines and anchor points, unavailability of safety nets on the edges of buildings or voids and housekeeping has not been running optimally. The implementation of the supervisory program has gone well despite several obstacles, namely the lack of safety officers and difficulty in documenting findings. The implementation of the control program has gone well but it is constrained by coordination when installing protective equipment in the form of lifelines and anchor points as well as workers' discomfort when using personal protective equipment. Conclusion: Unsafe act contributes to incidents and near miss in PT Y projects. There are barriers to supervisory program such as the lack of safety officers and difficulty in documenting findings. For control program, coordination when installing protective equipment in the form of lifelines and anchor points and worker's discomfort when using personal protective equipment are main obstacle in its implementation.

Kata Kunci : bekerja di ketinggian, insiden, near miss, pengendalian bahaya, inspeksi, unsafe act, konstruksi / work at height, incidents, near miss, hazard control, supervision, unsafe act, construction

  1. S2-2021-433526-abstract.pdf  
  2. S2-2021-433526-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-433526-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-433526-title.pdf