Laporkan Masalah

PENGARUH TEKNIK PEMANGKASAN TERHADAP KEMAMPUAN BERTUNAS TANAMAN KAYU PUTIH DAN PRODUKSI JAGUNG PADA SISTEM AGROFORESTRI KAYU PUTIH-JAGUNG (STUDI KASUS DI RPH GROGOL, BDH PALIYAN, KPH YOGYAKARTA)

LINA DWI LESTARI, Dr. Budiadi, S.Hut., M.Agr.Sc.,;Ir. Adriana, M.P.,

2021 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Melaleuca cajuputi adalah salah satu spesies penghasil minyak atsiri yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Penerapan teknik silvikultur yang tepat diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kayu putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik pemangkasan kayu putih terhadap kemampuan bertunas kayu putih dan produksi jagung dalam sistem agroforestri. Penelitian dilakukan di lahan KPH Yogyakarta dengan tiga petak ukur seluas 15 m x 20 m dengan tiga sub - plot berukuran 5 m x 20 m. Teknik pemangkasan yang digunakan yaitu teknik pangkas cabang, teknik klacir, dan teknik rimbas. Jagung ditanam dengan jarak tanam 75 cm x 20 cm dengan jarak 50 cm dari tanaman kayu putih. Pertumbuhan tunas kayu putih diamati selama enam bulan. Produksi jagung diukur berdasarkan berat biji jagung dan berat biomassa lainnya. Data dianalisis dengan time series analysis dan uji ANOVA dengan Uji Lanjut Tukey HSD. Pangkas cabang memberikan respon terbaik dengan rata-rata jumlah tunas (106 tunas per pohon), panjang (36,1 cm), diameter (0,40 cm), jumlah daun (46 daun per tunas), dan ranting (7 ranting per tunas) pada bulan keenam. Penerapan tiga teknik pemangkasan secara umum memberikan pengaruh nyata terhadap produksi biji jagung, namun nyata terhadap produksi biomassa jagung lainnya. Produksi biji jagung kurang lebih 8,64-9,23 ton per hektar (SD = 0,594; F = 1,107; sig. > 0,05) dan produksi biomassa lainnya kurang lebih 7,02-7,57 ton per hektar (SD = 0,336; F = 6,564; sig. < 0,01).

Melaleuca cajuputi is one of the essential oil-producing species that have a great demand in Indonesia. It is necessary to apply the appropriate silvicultural techniques to increase kayu putih productivities. This study aims to see the effect of kayu putih harvesting techniques on shoots growth and maize productions in the agroforestry system. The research was conducted in KPH Yogyakarta land with three measuring plots of 15 m x 20 m with three subplots measuring of 5 m x 20 m. The harvesting techniques used were pangkas cabang, klacir, and rimbas. Maize were planted at a spacing of 75 cm x 20 cm and a distance of 50 cm from the kayu putih tree. The growth of kayu putih shoots was observed for six months. Maize productions were measured based on weight of maize grain and weight of other biomass. Data were analyzed using time series analysis and ANOVA test followed by Tukey HSD test. Pangkas cabang technique showed the best response on shoot growth with average number of shoots (106 shoots per tree), length (36.1 cm), diameter (0.40 cm), number of leaves (46 leaves per shoot), and the number of twigs (7 twigs per shoot). In general, the application of those three harvesting techniques did not have a significant effect on maize grain production, but did a significant affect on other biomass production. Maize grain production approximately 8,64-9,23 tonnes per hectare (SD = 0,594; F = 1,107; P value > 0,05) and other biomass production approximately 7,02-7,57 tonnes per hectare (SD = 0,336; F = 6,465; P value < 0,01).

Kata Kunci : agroforestri, pemangkasan, kayu putih, tunas, jagung

  1. S1-2021-398337-abstract.pdf  
  2. S1-2021-398337-Bibliography.pdf  
  3. S1-2021-398337-Tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-398337-Title.pdf