Laporkan Masalah

KADAR FENOLAT, POLISAKARIDA TERLARUT DAN KETAHANAN TERHADAP JAMUR PADA KAYU JATI PLUS PERHUTANI DENGAN PERLAKUAN PENERESAN DARI KPH PEMALANG

DANI SAPUTRA, Prof. Dr. Ganis Lukmandaru, S.Hut., M.Agr.Sc.;Denny Irawati, S.Hut., M.Si., Ph.D.

2021 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Kayu jati merupakan salah satu jenis kayu penting karena reputasinya sebagai kayu yang berkualitas tinggi dan banyak masyarakat memanfaatkan karena kualitas kayunya yaitu sifat-sifat keawetan alami serta keindahan warna dan tekstur kayunya. Namun dengan meningkatnya permintaan produk kayu menyebabkan pasokan kayu jati semakin lama semakin berkurang. Hal tersebut mendorong Perum Perhutani menggembangkan jati unggul berupa Jati Plus Perhutani (JPP). Perlakuan peneresan dilakukan untuk meningkatkan kualitas kayu tetapi belum banyak diteliti pengaruhnya terhadap sifat ekstraktif kayu jati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor radial, aksial dan lama peneresan. Bahan pada penelitian ini berupa kayu JPP berumur 11 tahun dari KPH Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap fakorial dengan tiga faktor yaitu lama waktu peneresan (0 bulan, 9 bulan, dan 18 bulan), arah radial (gubal, teras luar dan teras dalam) serta arah longitudinal (pangkal, tengah, ujung) dengan 4 ulangan pohon. Pengujian kadar fenolat total diukur pada kadar ekstraktif toluena dan etanol. Kadar polisakarida diukur pada ekstraktif air panas. Pengujian ketahanan alami kayu berdasarkan persentase penurunan berat sampel setelah pengumpanan pada jamur Phanerochaete chrysosporium. Kadar fenolat total yang diperoleh dari ekstraktif toluena, etanol dan kadar fenolat total gabungan secara berturut-turut berkisar antara 53,99-92,61 GAE/g, 59,23-125,01 GAE/g, dan 137,25-205,27 GAE/g, serta kadar polisakarida sebesar 121,14-577,80 Glu/g. Faktor lama peneresan berpengaruh nyata terhadap kadar fenolat total gabungan. Faktor lama peneresan dan arah radial berpengaruh nyata terhadap kadar polisakarida. Faktor lama peneresan tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan berat sampel setelah pengumpanan jamur P. chrysosporium.

Teak wood is one of the important timbers with a high-quality reputation and is utilized because of hight natural durability, beatiful color and texture of the wood. As the increasing demand for wood products, however, the supply of teak wood is decreasing. This encourages Perum Perhutani to develop superior teak wood (JPP). The girdling treatment is done for improving the teak wood quality, however the effect on extractives remains unexplored. This study aimed to indetifu the effects of radial, axial and girdling duration. The materials in this study were 11-year-old JPP wood from Pemalang FMU, Central Java Province. This study used a factorial complete randomized design three factors, i.e. girdling duration (0 month, 9 months, and 18 months), radial direction (sapwood, outer heart wood, and inner heart wood) and the longitudinal direction (base section, 30 cm from the ground; middle section, 5 m from the ground; and the top, 9,5 m from the ground) with 4 tree replications. The examination of total phenolic contents was measured in the extract soluble in toluene and ethanol. Soluble polysaccharide contents were measured in hot-water soluble extract. Natural durability testing was based on percentage of the of the sample weight loss after the exposing to Phanerochaete chrysosporium fungi.

Kata Kunci : Jati Plus Perhutani, Phanerochaete chrysosporium, peneresan, arah radial, arah longitudinal

  1. S1-2021-345600-abstract.pdf  
  2. S1-2021-345600-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-345600-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-345600-title.pdf