Peran dan Jejaring Kepemimpinan dalam Menjaga Keberlangsungan Komunitas (Studi Kasus pada Masyarakat Hunian Liar, Ledhok Timoho Balerejo Yogyakarta)
ERMA SETYO WIENARI, Dr. Sukamdi, M.Sc dan Dr. Setiadi, M.Si
2020 | Tesis | MAGISTER KEPEMIMPINAN DAN INOVASI KEBIJAKANKeberadaan permukiman liar seringkali dianggap sebagai katup penyelamat bagi kaum miskin kota yang tidak memiliki akses tempat tinggal. Di sisi lain secara bersamaan kehadirannya juga dilihat sebagai sebuah masalah dalam pembangunan perkotaan. Berbagai upaya untuk mengurangi keberadaan permukiman liar dan penghuninya telah dilakukan dan terus mengalami kegagalan. Pada kenyatannya, masih ada beberapa komunitas masyarakat yang mendiami lahan illegal, salah satunya Komunitas Ledhok Timoho yang telah berdiri selama 20 tahun di Bantaran Sungai Gajahwong Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggali terkait cara komunitas ini dapat berlangsung dari perspektif peran dan jejaring kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pemimpin komunitas melakukan berbagai peran baik administratif maupun adaptif dalam menjaga keberlangsungan komunitas yang diwujudkan dalam bentuk penentuan visi dan misi, pengorganisasian wilayah, pembuatan sistem aturan, advokasi dan mediasi, serta penentuan cara interaksi; (2) Pemimpin komunitas memposisikan diri sebagai inisiator, fasilitator dan mediator dalam menjalankan peran-perannya; (3) Pemimpin komunitas membentuk jejaring sebagai upaya untuk mengartikulasikan tujuan dan memenuhi kebutuhan hidup komunitas; (3) Jejaring kepemimpinan dibentuk baik kepada lembaga formal atau informal; (4) Jejaring kepemimpinan di Komunitas Ledhok Timoho, mendorong dan memootivasi munculnya inovasi sebagai upaya pemimpin untuk menjaga jejaring lama dan menarik perhatian jejaring baru sehingga dapat membantu keberlangsungan komunitas.
The existence of squatter settlements is often seen as a rescuer for the urban poor who do not have access to housing. On the other hand, simultaneously squatter settlement is also seen as a problem in urban development. Various attempts to reduce the existence of squatter settlements and their inhabitants have been made but have not succeeded. In fact, there are still several communities who live in illegal land, one of which is the Ledhok Timoho Community which has been around for 20 years on the Gajahwong Riverbanks, Yogyakarta City. This study aims to explore how the community lives from the perspective of leadership roles and networks. This research uses a qualitative approach with case studies. The results of this study indicate that (1) Community leaders carry out various roles both administrative and adaptive in maintaining the sustainability of the community which is manifested in the form of determining the vision and mission, organizing the territory, making a system of rules, advocacy and mediation, and determining how to interact; (2) Community leaders position themselves as initiators, facilitators, and mediators in carrying out their roles; (3) Community leaders built networks as an effort to articulate goals and fulfill the needs of community life; (3) Leadership networks are built either too formal or informal institutions; (4) The leadership network in the Timoho Ledhok Community, encourages and motivates the emergence of innovation as a leader's effort to maintain the old network and attract the attention of the new network so that it can help the sustainability of the community.
Kata Kunci : Komunitas Hunian Liar, Kepemimpinan Komunitas, Jejaring, Inovasi/ Squatters, Community Leader, Networks, Inovation