Laporkan Masalah

KERAGAMAN MASKULINITAS DALAM NOVEL-NOVEL KARYA LIMA PEREMPUAN PENULIS INDONESIA

DANIAL HIDAYATULLAH, Prof. Dr. Juliasih, S.U; Dr. Wening Udasmoro, D.E.A

2020 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORA

Maskulinitas pada kaitannya dengan posisi subjek/objekdalam karya prosa yang ditulis oleh sastrawati menjadi penting dan menarik untuk diamati. Pada satu sisi prosaseperti Saman (1998), Ode Untuk Leopold Von Sacher-Masoch (2002), Menyusu Ayah (2004), Perempuan Berkalung Sorban (2001), dan Tarian Bumi (2002),sebagai gerakan kebangkitan perempuan penulis novel, memberikan perubahan pada konstelasi subjek/objek gender. Di sisi yang lain, dalam novel-novel tersebut, tokoh-tokoh perempuan yang muncul di dalamnya dapat dikatakan berperan dan bersuara sebagai self atau diri perempuan sendiri karena tokoh-tokoh tersebut diciptakan oleh pengarang perempuan dengan semua subjektivitasnya tetapi pada saat bersamaan juga menarasikan maskulinitas dan laki-laki. Permasalahan dari penelitian ini adalah apakah seks dan seksualitas juga merupakan elemen yang konstan dalam narasi novel-novel yang ditulis oleh empat perempuan penulis tersebut? Dalam pembacaan feminis terhadap novel-novel Indonesia, laki-laki sering kali 'dipersalahkan' oleh penggiat feminisme sebagai kategori gender yang monolitik yang menyebabkan keterpurukan perempuan.Dalam usaha-usahanya padapoin di atas, perempuan memfokuskan pada diri sendiri dengan pendekatan feminismenya terhadap analisis novel-novel Indonesia. Mungkinkah maskulinitas novel-novel Indonesia dilihat dari perspektif selain perspektif hegemonik? Secara konseptual, maskulinitas hegemonic berasal dari Barat sedangkan Indonesia memiliki konteks budaya dan sosiologis yang sangat berbeda lantas bagaimana nilai-nilai budaya dan agama bisa memengaruhi maskulinitas? Apakah maskulinitas yang digambarkan oleh para perempuan pengarang Indonesia dapat melepaskan diri sebagai konsep tunggal (monolitik)? Untuk menjawab permasalahan di atas penelitian ini menggunakan teori maskulinitas hegemonik dengan paradigma post-strukturalis untuk melihat perubahan konsep hegemoni, marginalisasi, subordinasi, dan komplisit ke konsep diskursus, kuasa, representasi, dan instabilitas. Sebagai penelitian tekstual, penelitian ini menggunakan metode naratologi untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan konsep-konsep di atas yang mewujud dalam praktik-praktik, citra, maupun tanda maskulinitas dalam teks. Sebagai analisis tekstual, penelitian ini berusaha meneliti bagaimana tokoh-tokoh dalam karya sastra tersebut menggambarkan potret perkembangan maskulinitas Indonesia. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa maskulinitas yang dinarasikan oleh perempuan ternyata cukup beragam. Meskipun demikian, cara penarasian maskulinitas tersebut memiliki kesamaan. Keragaman maskulinitas ini dapat dimaknai sebagai imajinasi pilihan hasrat perempuan atas maskulinitas yang lebih kompleks. Maskulinitas yang dinarasikan sekaligus diidealkan oleh perempuan dipengaruhi oleh faktor yang kompleks pula. Cara penarasian yang digunakan umumnya menggunakan memory, yang didalamnya banyak menceritakan trauma. Trauma tersebut mengarahkan pada kecenderungan emosi dan psikologis. Penarasian melalui memory ini digunakan oleh empat dari lima perempuam pengarang. Memory ini muncul dalam bentuk anakroni atau satelit yang menceritakan dari pada dalam plot utama. Kompleksitas ini menyebabkan Female gaze perempuan yang berbeda dari laki-laki. Melalui hal ini pula perempuan berusaha keluar dari struktur yang dirasa tidak menguntungkannamun secara tidak disadari hal ini terkadang membawa perempuan kedalam ambiguitas dan ambivalensi. Female masculinity dapat dipahami atau diterima sejauh berada dalam ranah seksulitas. Dalam ranah lain (sosio-ekonomi) female masculinity tidak diterima.

Masculinity, in relation to the position of the subject / object in fictions written by women becomes, is important and interesting object to observe. On the one hand, fictions such as Saman (1998), Ode untuk Leopold Von Sacher-Masoch [An Ode for Leopold Von Sacher-Masoch] (2002), Menyusu Ayah [Breastfeeding Father] (2004), Women Berkalung Sorban [A Woman in A Turban] (2001), and Tarian Bumi [Earth Dance] (2002), as a revival movement of women, novel writers, provide changes to the subject / object gender constellation. On the other hand, in these novels, the female characters can be said to play a role and speak as 'self' or women themselves because these characters were created by female authors with all their subjectivities but at the same time also they narrate masculinities and men. The problem with this research is whether sex and sexuality are also a constant element in the narratives of fictions written by the four women writers? In feminist readings of Indonesian fictions, men are often 'blamed' by feminist activists as a monolithic gender category that causes female deterioration. In their efforts in the above points, women focus on themselves with their feminist approach to the analysis of Indonesian fictions. Can the masculinities of Indonesian fictions be seen from a perspective other than the hegemonic perspective? Conceptually speaking, hegemonic masculinity originates from the West while Indonesia has very different cultural and sociological contexts, so how can cultural and religious values influence masculinity? Can the masculinity described by Indonesian women authors escape from the common single (monolithic) concept? To answer the above problems, this study uses the theory of hegemonic masculinity with the post-structuralist paradigm to see changes in the concepts of hegemony, marginalization, subordination, and complication to the concepts of discourse, power, representation, and instability. As a textual study, this study uses the method of narratology to identify and express the concepts above that manifest in practices, images, and signs of masculinities in the text. As a textual analysis, this study seeks to examine how the characters in the literary works portray a picture of the development of Indonesian masculinities. This research concludes that the masculinities narrated by women writers are quite diverse despite the fact that their narrative methods share similarities. These diversity of masculinities can be interpreted as the imaginations of the choice of women's desire for more complex traits of masculinities. Masculinities that are narrated and idealized by women are influenced by complex factors as well. The narrative methods that are used generally employ memory, which express traumas. The traumas lead to emotional and psychological tendencies. This memory retrieval is used by four out of five authors. These complexities causes female gaze to be different from males. Those memoryes are depicted through detailed anachronies or satelllite, instead of the main plot. With this women also try to get out of the structure that is considered unprofitable but this sometimes unconsciously leads women to ambiguity and ambivalence. Female masculinity can be understood or accepted as far as in the realm of sexuality. In other domains female masculinity is not accepted.

Kata Kunci : maskulinitas, perempuan penulis, naratif, gender, laki-laki

  1. S3-2020-389908-abstract.pdf  
  2. S3-2020-389908-bibliography.pdf  
  3. S3-2020-389908-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2020-389908-title.pdf