Laporkan Masalah

PENENTUAN TINGKAT KERAWANAN SAMBARAN PETIR DENGAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

MARISSA TANIA TUFAHATI, Harry Prabowo, S.T., M.T.; Enas Dhuhri Kusuma, S.T., M.Eng.

2020 | Skripsi | S1 TEKNIK ELEKTRO

Indonesia sebagai negara kepulauan dan beriklim tropis. Selain itu Indonesia juga memiliki curah hujan yang tinggi. Selama hujan berlangsung, sering terjadi fenomena sambaran petir di sekitar wilayah tersebut. Namun, masyarakat masih banyak yang belum memahami bahaya sambaran petir. Selama ini penanganan ancaman sambaran petir hanya fokus pada kegiatan tanggap darurat dan kegiatan pasca bencana,sedangkan kegiatan pra bencana kadang tidak diperhatikan. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah dengan curah hujan tinggi dibarengi petir sangat membutuhkan manajemen pra bencana. Akibat masih banyak masyarakat yang kurang waspada dengan bahaya sambaran petir, maka diperlukan penelitian untuk menganalisa tingkat kerawanan sambaran petir untuk membantu mencegah dan menurunkan angka korban beserta kerusakan yang timbul akibat bencana sambaran petir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat ancaman, tingkat kerentanan dan tingkat kerawanan sambaran petir pada tiap kecamatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan untuk menganalisa tingkat kerawanan sambaran petir adalah metode Simple Additive Weighting (SAW) dengan memperhatikan faktor ancaman yaitu kejadian petir di wilayah Daerah Isitmewa Yogyakarta dan faktor kerentanan yaitu data kepadatan penduduk dan penggunaan lahan untuk rumah serta sawah. Melalui penelitian ini diperoleh kesimpulan dari 78 kecamatan yang terdapat di Daerah Isitimewa Yogyakarta, 5 kecamatan di Kota Yogyakarta mendominasi warna merah. Warna merah memandakan tingkat kerawanan petir yang sangat tinggi. Kecamatan Ngampilan memiliki tingkat kerawanan paling tertinggi yaitu 0,87.

Indonesia known as an archipelago and tropical country. Moreover, Indonesia has high amount of rainfall. During a rainy day, a phenomenon of lightning commonly occurs around the raining area. However, there are still many people who is not aware about the dangers of the lightning strike. These days, to handle the threat of lightning strikes only focusing on emergency response activities and post-disaster activities, whereas the pre-disaster activities are sometimes not considered. Special Region of Yogyakarta as an area with high amount of rainfall followed by lightning needs to consider about the pre-disaster management. Due to public�s lack of awareness on the dangers of the lightning strikes, a research needs to be done to analyse the lightning strikes vulnerability in prevent and reduce the number of victims along with the damage cause by the lightning strikes. The purpose of this research was to determine the level of threat, the level of vulnerability and the level of lightning strikes in each district of Special Region of Yogyakarta. The method that being used to analyse the level of lightning strikes is the Simple Additive Weighting (SAW) method and considering the threat factors of lightning phenomenon in the Special Region of Yogyakarta region and vulnerability factors such as population density data and land use for houses and rice fields. The result from this research showed that among 78 districts in the Special Region of Yogyakarta, there are 5 districts dominated with the red colour in the city of Yogyakarta. The red colour represents a very high level of lightning vulnerability. District Ngampil has the highest level of lightning vulnerability, with the vulnerability level that is 0.87.

Kata Kunci : Sambaran petir, Simple Additive Weighting, Tingkat kerawanan

  1. S1-2020-363665-abstract.pdf  
  2. S1-2020-363665-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-363665-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-363665-title.pdf