Laporkan Masalah

Keberlanjutan Usahatani Bawang Putih (Kasus: Desa Petarangan, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung)

LATIFAH ASRI M, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc

2020 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Pembangunan pertanian harus sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Usahatani berjalan secara dinamis tergantung pada fenomena yang terjadi yang bahkan mampu mengubah kondisi keberlanjutan. Penelitian ini dilakukan pada sentra bawang putih Kabupaten Temanggung yaitu di Desa Petarangan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan usahatani bawang putih oleh karena adanya suatu fenomena, yaitu pemberian subsidi kepada petani bawang putih untuk mewujudkan target Indonesia swasembada bawang putih. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari instansi terkait dan data primer yang dikumpulkan dari petani bawang putih di Desa Petarangan dengan purposive sampling yaitu dengan mengumpulkan data petani yang telah menerima subsidi selama tiga tahun berturut-turut sehingga hanya didapat dua kelompok tani yang memenuhi kriteria. Sampel dari dua kelompok tani tersebut didapat dengan Simple Random Sampling sehingga didapat 50 orang petani. Data disajikan dalam bentuk tabel, peta, dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kondisi keberlanjutan usahatani bawang putih di Petarangan sebelum dan sesudah adanya subsidi. Kondisi keberlanjutan dimensi ekonomis di Desa Petarangan adalah kondisi paling ideal ketidakberlanjutan hanya pada indikator produktivitas lahan. Permasalahan keberlanjutan utama dalam dimensi ekologikal usahatani bawang putih di Desa Petarangan adalah terkait penggunaan pestisida. Permasalahan utama pada keberlanjutan dimensi sosial baik itu sebelum adanya subsidi maupun sesudah adanya subsidi adalah terkait kelayakan upah buruh. Kondisi keberlanjutan tersebut belum mengalami perubahan yang signifikan karena praktik pertanian sebelum adanya subsidi maupun sesudah adanya subsidi mempunyai dampak positif dan negatif tersendiri baik itu terhadap manusia maupun terhadap lingkungan. Permasalahan-permasalahan pada dimensi sosial dan dimensi Ekologikal menunjukkan bahwa usahatani bawang putih di Desa Petarangan masih berorientasi pada manfaat yang diterima petani dan kurang memperhatikan dampak merugikan terhadap lingkungan sosial, lingkungan binaan manusia, maupun terhadap lingkungan alami.

Agricultural development must be completed along with the aim of sustainable development. Farming runs dynamically depending on the phenomena that occur that can change sustainability conditions.This research in conducted in Petarangan as the center of Garlic in Temanggung. This study aims to compare the economic, social, and environmental sustainability of garlic farming due to a phenomena, namely the provision of subsidies to garlic farmers to achieve Indonesia's target of self-sufficiency in garlic. This study uses a survey method using quantitative descriptive approach. The data used are secondary data from related agencies and primary data collected from garlic farmers in Petarangan with purposive sampling method by collecting the data of farming groups who have received subsidies for three years and only two groups meet the criteria. Farmer samples were obtained with Simple Random Sampling method and get 50 farmer as samples. Data is presented in tables, maps and diagrams. The results showed that there were differences in the sustainability of garlic farming in Petarangan Village between before and after the subsidies. Condition. The condition of the sustainability of the economic dimension in Petarangan is the most ideal condition compared to the social dimension and the ecological dimension. Unsustainable condition in the economic dimension is only found in land productivity indicator. The main sustainability problem in the ecological dimension on garlic farming in Petarangan is related to the use of pesticides. The main problem in the sustainability of a good social dimension prior to the existence of subsidies also exists in subsidies related to the eligibility of labor wages.. These sustainability conditions have not undergone significant changes due to agricultural practices before subsidies or after subsidies have had their own positive and negative impacts on both humans and the environment. Problems in the social and ecological dimensions show that garlic farming in Petarangan Village is still oriented towards benefits received by farmers and less attention to the adverse effects on the social environment, non-natural environment, as well as on the natural environment.

Kata Kunci : Keberlanjutan, Bawang Putih, Usahatani

  1. S1-2020-393527-abstract.pdf  
  2. S1-2020-393527-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-393527-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-393527-title.pdf