Laporkan Masalah

MENUANGKAN MEMORI DALAM TEATER (STUDI TENTANG PEMENTASAN TEATER TAMARA SEBAGAI WAHANA PERGERAKAN ADVOKASI KEMANUSIAAN)

HANAFI FARIS FAUZI, Milda Longgeita Br. Pinem, S.Sos., M.A., Ph.D.

2020 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S dengan pemberitaan mengenai enam jendral dan satu perwira angkatan darat yang diculik lalu dibunuh yang kemudian mengakibatkan situasi yang tidak kondusif. Terjadi kejadian saling tunjuk kambing hitam dari peristiwa pembunuhan tersebut, hingga PKI tertuduh sebagai lembaga di belakang insiden G30S. Istilah ini kemudian didogmatisasi dari generasi ke generasi dengan terma tragedi G30S/PKI. Narasi mengenai �G30S/PKI� semakin mencuat, mengakibatkan penangkapan, penahanan dan bahkan pembunuhan tanpa proses peradilan kepada mereka yang dicurigai sebagai PKI termasuk lembaga underbow PKI. Kekerasan fisik, psikis dan seksual dialami oleh mereka yang ditangkap terutama para tahanan politik (tapol) perempuan selama dalam masa penahanan. Mereka menjadi korban atas peristiwa yang selama ini sama sekali mereka tidak terlibat di dalamnya. Kekerasanpun tetap terjadi pasca tapol perempuan keluar dari penjara mereka mendapat stigma negatif dari lingkungannya, terampas hak-hak sipilnya, hingga pemiskinan yang dilakukan secara terstruktur oleh negara. Para eks tapol ini kemudian disebut sebagai penyintas 1965. Selama masa keluar dari penjara para penyintas berusaha mandiri mengembalikan harga dirinya, bertahan hidup dengan cara-cara yang ada, dan terus bergerak untuk terus diterima oleh masyarakat. Penelitian ini membahas mengenai para penyintas perempuan yang berkarya dengan menuangkan memori kolektif mereka ke dalam pementasan teater untuk mengadvokasi diri mereka sendiri dan generasi-genarasi setelah mereka, para perempuan tangguh ini menyebut dirinya sebagai Teater Tamara. Penelitian ini menggunakan Teori Dramaturgi dari Erving Goffman dan memakai konsep Memori Kolektif dari Barbara Miztal, konsep Gerakan dari Sydney Tarrow dan konsep Advokasi dari Ritu Sharma. Metodologi mini etnografi digunakan untuk menangkap data-data yang beredar dan terlintas. Penulusuran data dengan observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan studi pustaka digunakan untuk menghimpun data. Penentuan informan dengan purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 10 orang yang terdiri dari dua sutradara, satu produser, satu koordinator Kipper, dua pendamping Kipper dari Fopperham, dan empat aktor utama dari Teater Tamara. Unit analis dalam penelitian ini adalah Teater Tamara dengan pementasan-pementasannya. Penyajian data dengan meletakan teks dalam konteks menjadi fokus kehati-hatian penulis dalam menyampaikan data yang penuh makna, oleh karena itu triangulasi sumber data menjadi penting dalam memastikan kebenaran data-data yang bertebaran. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa Teater Tamara bukan lagi menempatkan posisi teater sebagai wahana yang bergerak stagnan dan sebatas bahan hiburan. Lebih dari itu Tamara menjelma dan terus merekonstruksi dirinya menjadikan wahana teater menjadi wahana yang ramah zaman. Teater menjadi wahana yang produktif sebagai alat penyalur advokasi kemanusiaan, Tamara mengubah wujudnya pula menjadi satu entitas yang dapat menghadirkan pengalaman peristiwa secara langsung dibandingkan dengan ranah kesenian lain. Pengolahan pesan advokatif yang bersumber dari memori kolektif para penyintas 1965 sebagai saksi sejarah merupakan kekuatan tersendiri bagi perjalanan pementasan yang dramatik.

Post event of the infamous September 30th1965or G30S with news of six generals and one kidnapped army officer and killed resulted in an unconducive situation. There was a scapegoats occurrence of the murder, until the PKI was accused of being the institution behind the G30S incident. The term is then dogmatisation from generation to generation with the terms of the tragedy G30S/PKI. The narrative of the ' G30S/PKI ' is increasingly sticking, resulting in arrest, detention and even murder without judicial proceedings to those suspected as the PKI including the PKI Underbow. Physical, psychic and sexual violence are experienced by those arrested especially women's political prisoners (Tapol) during the detention period. They are victimized for events that have not been at all involved in it. However, the incidence of female post-Tapol came out of their jail for a negative stigma from its environment, deprived of its rights, to the depletion structured by the state. The former Tapol is then referred to as the 1965 survivor. During the time out of prison the survivors tried to restore self-esteem, survive in the ways that exist, and continue to move to continue to be accepted by the community. This study discusses women survivors who worked by pouring their collective memory into theatrical performances to advocate for themselves and for generations after them, these formidable women call themselves the Tamara Theatre. The study used theory from Erving Goffman, the theory is front stage and backstage theory and the concept of collective memory by Barbara Miztal, movement by the Sydney Tarrow and advocacy byRitu Sharma. Mini Ethnographic methodology is used to capture data. Data collected by observations, in-depth interviews, documentation studies, and library studies. Purposive sampling was used to determine the informants which were 10 in total, consisting of two directors, one producer, one coordinator of Kipper, two Kipper escorts from Fopperham, and four main actors from Tamara Theatre. The analyst unit in this research was Tamara Theatre with their performances. Presentation of data by put the text in context become focus of the author's prudence in delivering meaningful data, therefore the triangulation of the data source becomes important in ensuring the truth of the data scattered. This study resulted in the findings that Tamara Theatre is no longer placing the theatre position as a stagnant and limited-material attraction. More than that Tamara was transformed and continues to reconstruct itself into a time-friendly attraction. The theatre has become a productive vehicle to serve as a humanitarian advocacy tool, Tamara transformed itself into a single entity that can bring live event experience compared with other arts. The advocative message processing derived from the collective memory of the 1965 survivors as a witness is a force of it owne for dramatic staging trips

Kata Kunci : Teater Tamara, Perempuan Penyintas 1965, Advokasi Kemanusiaan / Tamara Theater, Women�s Survivor 1965, Humanitarian Advocacy

  1. S1-2020-38427-abstract.pdf  
  2. S1-2020-38427-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-38427-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-38427-title.pdf