Laporkan Masalah

REKABARU TUMPANGSARI KAYUPUTIH MELALUI EFISIENSI PENGGUNAAN RUANG TUMBUH

IRFAI, Dr. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P.; Prof. Dr. Ir. Sumardi, M.ForSc.; Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P.

2020 | Disertasi | DOKTOR ILMU KEHUTANAN

Tumpangsari berbasis tanaman kayuputih sebagai bentuk sistem agroforestri, bersifat �¢ï¿½ï¿½permanen�¢ï¿½ï¿½ karena petani bisa melakukan aktivitas penanaman tanaman semusim sepanjang daur. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman semusim, kayuputih maupun kondisi tapak dalam jangka panjang. Sistem agroforestri sebagai perpaduan ekosistem pertanian dan ekosistem kehutanan, dengan demikian warisan ekologi dari kedua ekosistem tersebut seharusnya masih tergambar dalam ekosistem tumpangsari yang baru. Fakta di lapangan menunjukkan pada umumnya petani lebih mementingkan komponen tanaman semusim, dan cenderung mengabaikan tanaman pokok kayuputih maupun tapak. Untuk itu diperlukan perbaikan sistem tumpangsari kayuputih yang prospektif melalui pendekatan efisiensi ruang tumbuh secara spasial dan temporal. Penelitian bertujuan untuk: 1). Mengembangkan model-model penggunaan ruang spasial dan temporal komponen tanaman semusim, 2). Mengevaluasi model introduksi komponen pembenah tapak, 3). Mengevaluasi respon kayuputih terhadap alternatif teknik pemangkasan, dan 4). Menyusun formulasi rekabaru tumpangsari prospektif berdasar kaidah pewarisan ekologi. Penelitian dilakukan di petak ukur sementara (PUS) hutan tanaman kayuputih sistem tumpangsari pada Petak 83, RPH Menggoran, BDH Playen KPH Yogyakarta selama kurun waktu 2015-2016. Hasil penelitian menunjukkan: 1). perbaikan produktivitas tanaman semusim dapat dilakukan melalui perbaikan tata kelola tanam sehingga diperoleh pemendekan rotasi dan penambahan daur produktif, 2). Perbaikan kualitas tapak dapat ditingkatkan melalui perbaikan sistem tanam, input bahan organik dan introduksi penutup tanah, 3). Sistem �¢ï¿½ï¿½pangkas klacir�¢ï¿½ï¿½ dapat meningkatkan produksi biomassa kayuputih dibanding sistem pangkas total/konvensional, 4). Formulasi rekabaru tumpangsari kayuputih menjadi 3 level: intensif �¢ï¿½ï¿½ semi �¢ï¿½ï¿½ konvensional plus, dengan memerhatikan prasyarat pemungkin sesuai kapasitas yang dimiliki oleh pengelola (petani).

Tumpangsari of kayuputih is a unique �¢ï¿½ï¿½permanent agroforestry systems�¢ï¿½ï¿½ because farmers can continuously carry out farming activities on the land. As a results, it leads to a decline productivity. As an agroforestry system which combine of agricultural ecosystems and forest ecosystems, the new combine ecosystem should be bring the ecological legacy of both characteristics. However, the fact shows that the farmer generally prioritizing on crops and ignore kayuputih productivity. For this reason, some efforts to improve more prospective intercropping systems are needed through a more integrated approach based on spatial and temporal efficiency of growth space. The study aims to: 1). Develop models of spatial and temporal use of components of crop, 2). Evaluate the model of site improvement, 3). Evaluate kayuputih responses to alternative pruning techniques, and 4). Formulate prospective management of intercropping based on the principles of ecological legacy on kayuputih. The study was carried out in Plot 83 kayuputih plantations managed in intercropping system in the RPH Menggoran, BDH Playen, KPH Yogyakarta, during 2015-2016 period. The resuls show thar: 1). Improvements in annual crop productivity can be reached through the planting season approach combined with the environmental manipulation and growth facilitation, 2). Improved site quality by improving planting systems, input of organic materials and introduction of legume cover crop, 3). �¢ï¿½ï¿½Klacir�¢ï¿½ï¿½ pruning systems, can increase the leaf and twigh of kayuputih biomass production to be higher than conventional pruning systems, 4). With the improvement of these three aspects, it can be formulated the 3 new level of kayuputih intercropping regimes, i.e.: intensify �¢ï¿½ï¿½ medium �¢ï¿½ï¿½ and conventional (+), with enabling condition owned by the farmer.

Kata Kunci : intercropping systems, kayuputih, productivity, efficiency, ecological legacy, new innovation

  1. S3-2020-354673-abstract .pdf  
  2. S3-2020-354673-bibliography .pdf  
  3. s3-2020-354673-tableofcontent.pdf  
  4. s3-2020-354673-title.pdf