Laporkan Masalah

REDESIGN TAMAN WISATA KALKHOTE: CULTURAL CENTER DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR REGIONALISME SENTANI, PAPUA

Mesabia Pramudhita Modouw, Labdo Pranowo, S.T, M.Sc

2019 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Papua disebut sebagai mutiara hitam dari timur; ia adalah salah satu pulau paling indah dan paling potensial sebagai objek pariwisata di Indonesia. Taman Wisata Kalkhote terletak di pinggir Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Terlepas dari kondisi alamnya yang indah dan penggunannya sebagai lokasi tahunan Festival Danau Sentani, Taman Wisata Kalkhote tampak mati tidak digunakan dalam 53 minggu diluar FDS. Sarat akan nilai sejarah dan potensi pariwisata serta ekonomi, sebuah cultural center merupakan salah satu upaya terbaik untuk menghidupkan kembali Taman Wisata Kalkhote. Pendekatan Arsitektur Regionalisme digunakan untuk tetap menjaga pondasi desain mengakar kepada lokalitas masyarakat adat suku Sentani, suku yang mendiami wilayah sekitar Kalkhote. Ukiran dan lukisan kulit kayu adalah ciri khas dari suku ini. Identitas budaya ini menjadi modal yang baik dalam transformasi ekletik dari pendekatan Arsitektur Regionalisme yang ingin diterapkan pada desain. Sebuah keharmonisan antar manusia, alam dengan Tuhan adalah prinsip kehidupan Sentani yang menjadi solusi ketidakterhubungan masyarakat dengan bangunan eksisting yang sudah ada. Membuat bentuk yang familiar dengan rumah adat dan pakem-pakem ukiran serta lukisan kulit kayu diterapkan pada desain untuk memberikan rasa memiliki pada site, serta memberikan kesan yang khas. Selain itu sebuah sculpture penanda wilayah juga digunakan untuk melengkapi fungsi edukasi, ekonomi, kuliner dan rekreasi di dalam site, sebagai suatu elemen pengingat dan kilas balik.

Papua is often called as the black pearl from the east; which means that it is one of the most beautiful and most potential islands as an object of tourism in Indonesia. Kalkhote Tourism Park is located on the edge of Lake Sentani, Jayapura Regency, Papua. Apart from its beautiful natural conditions and its use as the annual location of the Lake Sentani Festival, Kalkhote Tourism Park seems deserted for not being used in other 53 weeks after Festival. Loaded with historical values and tourism and economic potential, a cultural center is one of the best efforts to revive Kalkhote Tourism Park. Regional Architectural approaced is used to keep the roots of the desain lies in the locality of the Sentani tribe, a tribe that inhabits the area around Kalkhote. Carving and painting bark is a characteristic of this tribe. This cultural heritage is a valauable for the eclectic transformation of the regionalism approach that wants to be applied in the design. A harmony between humans, nature and Universe is the principle of Sentani's life. This harmony become the solution to the community's unconnected feeling to the existing buildings. Making shapes that are familiar with traditional houses and pattern as seen in carving features and bark paintings are applied to the design to give a sense of belonging to the site, and give a distinctive impression. In addition, a memorial area was also designed to complement the educational, economic, culinary and recreational functions within the site.

Kata Kunci : Papua, Cultural Center, Arsitektur Regional, Arsitektur Vernakular

  1. S1-2019-381330-abstract.pdf  
  2. S1-2019-381330-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-381330-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-381330-title.pdf