Laporkan Masalah

Pusat Festival dengan Pendekatan Manajemen Pengunjung di Yogyakarta

MUKTITIKA HANDAYANI, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D.

2019 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Julukan Kota Pariwisata, Kota Budaya, hingga Kota Pelajar, sudah melekat erat sebagai cap Yogyakarta. Dengan budaya, sejarah dan kearifan lokalnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai Kesultanan Yogyakarta, Kota Yogyakarta memiliki identitas dan keistimewaan yang kuat. Ekspresi dari sejarah dan kearifan lokal sebagai identitas Kota Yogyakarta tercerminkan pada kegiatan-kegiatan masyarakat yang menjadi daya tarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. British Council Indonesia mendorong adanya inovasi dalam promosi seni dan budaya Indonesia. Berbagai festival unggulan Kota Yogyakarta telah bergabung sejak Juni 2014 untuk mengembangkan konsep promosi dan pemasaran agar dapat dibawa ke level internasional dengan harapan untuk membangun citra Kota Festival bagi Yogyakarta. Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) juga memberikan dukungan penuh untuk menjadikan kota Yogyakarta sebagai Kota Festival dengan mengadakan rapat koordinasi dengan Jogja Festivals pada 31 Mei 2018 lalu. Pelaksanaan festival dinilai akan memberi dampak terhadap capaian kinerja ekonomi kreatif. Berdasarkan Calender of Events 2018 yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, pelaksanaan perhelatan festival di Yogyakarta dapat mencapat 159 acara per tahun. Saat ini, belum ada sebuah tempat yang mampu mewadahi kegiatan festival-festival di Yogyakarta sebagai bentuk pelestarian budaya, serta peningkatan minat pariwisata Yogyakarta sendiri. Pusat Festival di Yogyakarta diperlukan sebagai tempat pembelajaran, serta berkegiatan seni dan budaya dalam bentuk festival, dengan pendekatan Manajemen Pengunjung dinilai mampu mengatasi masalah sirkulasi mengingat sebuah festival merupakan acara yang melibatkan massa yang berjumlah masif.

The name City of Tourism, City of Culture, City of Education, has been firmly attached to the branding of Yogyakarta. With its culture, history and local wisdom that upholds the values of the Sultan Yogyakarta, Yogyakarta has a strong identity and privilege. The expression of history and local wisdom as the identity of Yogyakarta is reflected in community activities that attract tourists, both domestic and foreign. British Council Indonesia encourages innovation in the promotion of Indonesian arts and culture. Various best festivals in Yogyakarta City have joined since June 2014 to develop promotional and marketing concepts so that they can be brought to the international level in hopes of building the image of the "City of Festivals" for Yogyakarta. Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) also provides full support to make Yogyakarta the Festival City by holding a coordination meeting with Jogja Festivals on 31 May 2018. The implementation of the festival is considered to have an impact on the achievement of creative economic performance. Based on 2018 Calender of Events published by the Yogyakarta Special Region Tourism Office, the number of festival events in Yogyakarta can get up to 180 events in a year. But, in a city that has many festival events, there's still no place that can accommodate the activities of festivals in Yogyakarta as a form of cultural preservation, as well as an effort to increase Yogyakarta tourism attractions. The Festival Center in Yogyakarta is needed as a place of learning, as well as art and cultural activities in the form of festivals, with the Visitor Management approach considered to be able to overcome circulation and space problems considering that a festival is an event involving massive number of visitors.

Kata Kunci : pusat, festival, manajemen, pengunjung

  1. S1-2019-384794-abstract.pdf  
  2. S1-2019-384794-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-384794-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-384794-title.pdf