PRAKTIK PEMAKNAAN PEMUSTAKA DIGITAL NATIVES ATAS RUANG PERPUSTAKAAN
ENDANG FATMAWATI, Dr. Wening Udasmoro, DEA, M.Hum;Dr. Ratna Noviani, SIP., M.Si
2018 | Disertasi | DOKTOR KAJIAN BUDAYA DAN MEDIATujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran yang komprehensif sekaligus melakukan analisis kritis terhadap representasi ruang perpustakaan dan praktik konsumsi oleh pemustaka digital natives atas ruang perpustakaan. Metode penelitian menggunakan etnografi, dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Informan kunci berjumlah 6 (enam) orang dengan karakteristik pemustaka digital natives dan dipilih secara purposif. Informan tambahan berasal dari pegawai internal di Perpustakaan UGM. Hasil penelitian menunjukkan representasi ruang menjadi dominan karena reformulasi konstruksi ruang perpustakaan awalnya adalah mengarahkan pemustaka digital natives. Ruang perpustakaan sebagai ruang paradoks. Ada regulasi yang bias mayoritas dan efisien yang tidak efisien. Ruang perpustakaan menjadi ruang produksi tetapi maknanya berbeda. Pemustaka digital natives menggunakan ruang Perpustakaan UGM dan beragam fasilitas yang disediakan oleh konseptor ruang untuk kepentingan pribadi dalam konteks menggunakan transaksi yang bersifat ekonomi. Kapitalisasi perpustakaan menjadi dominan. Logika industrial dipakai oleh perpustakaan sehingga ada dominasi dalam hal mengatur ruang perpustakaan. Mediatisasi juga terjadi dalam konteks perpustakaan. Penerapan teknologisasi di perpustakaan memunculkan irasionalitas dan dehumanisasi sehingga mengurangi relasi sosial. Dalam praktik sosial, pemustaka digital natives memiliki agency tersendiri dalam mengkonsumsi ruang perpustakaan. Ruang perpustakaan menjadi ruang yang bisa ditembus, artinya sebagai ruang yang menghapuskan sekat antara kerja dan non kerja. Beberapa aktivitas ketika pemustaka digital natives menjadikan ruang perpustakaan sebagai ruang leisure, yaitu: mendapatkan kebebasan dari tekanan sosial, lingkungan, dan domestik; mencari hiburan karena menggunakan ruang tidak untuk memproduksi ide tetapi untuk kesenangan yang lain; sebagai ruang katarsis, yaitu sebagai bentuk pelarian diri dari space yang tidak nyaman maupun dari berbagai struktur formal. Ruang perpustakaan tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan dengan label birokrasi yang sulit, namun telah bergeser menjadi ruang publik yang dinamis dan cair. Ruang perpustakaan juga sebagai ruang alternatif untuk mencari kebebasan bagi pemustaka digital natives dalam melakukan aktivitas. Pemustaka digital natives menggunakan ruang perpustakaan untuk lifestyle yaitu sebagai ruang untuk menunjukkan siapa mereka, artinya menjadi ruang display untuk membangun distingsi dan gaya hidupnya. Distingsi yang dibangun antarmahasiswa dan sesama pemustaka dilakukan melalui perilaku yang berbeda, pilihan ruang, pilihan konsumsi minuman, kepemilikan gawai, maupun melalui aktivitas. Pemustaka digital natives cenderung men-display kapital-kapital yang dipunyainya. Dalam praktik sosial ruang perpustakaan juga merupakan ruang community hub untuk membentuk identitas kolektif pemustaka digital natives.
The purpose of this study is to get a comprehensive picture while conducting a critical analysis of the representation of library space and consumption practices by digital native users of the library space. The research method uses ethnography, with data collection techniques using participant observation, interviews, and documentation. Key informants numbered six people with digital native users characteristics and were selected purposively. Additional informants come from internal employees at the UGM Library. The results showed that space representation became dominant because the reformulation of the construction of the library space initially was to direct digital native users. The library space is also a paradox space. There are regulations that are majority deviation and efficient that are inefficient. The library space becomes a production space but the meaning is different. Digital native users using the UGM Library space and various facilities provided by the space concept for personal interests in the context of using economic transactions. Library capitalization becomes dominant. Logic industrial is used by libraries so that there is dominance in terms of regulating library space. Mediation also occurs in the context of the library. The application of technologization in libraries raises irrationality and dehumanization so as to reduce social relations. In its social practice, digital native users have their own agency in consuming library space. The library space has now become an impenetrable space, meaning that it is a space that eliminates bulkhead between work and non-work. There are several activities when digital native users make library space a leisure space, such as: to get freedom from social, environmental and domestic pressures; looking for entertainment because it uses space not to produce ideas but for other pleasures; as a cathartic space, as a form of escape from uncomfortable space and from various formal structures. The library space is no longer a frightening space with difficult bureaucratic label, but has shifted into a dynamic and fluid public space. The library space is also an alternative space to find freedom for digital native users in carrying out activities. Digital native users using library space for lifestyle as a space to show who they are, meaning to be a display space for building distinctions and lifestyles. The distinction built between students and fellow visitors is done through different behaviors, choice of space, choice of beverage consumption, ownership of the device, and through activities. Digital natives users tend to display the capital they have. In social practices the library space is also a community hub space to form the collective identity of digital native users.
Kata Kunci : representasi ruang, praktik sosial, ruang perpustakaan, pemustaka digital natives