PERILAKU BERISIKO PEMANDU LAGU TERHADAP KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DI KABUPATEN WONOSOBO
APRILIANA DANY S, Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang. Kasus infeksi menular seksual (IMS) pada wanita pekerja seksual (WPS) mencapai 20% dari keseluruhan jumlah kejadian IMS di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2016. WPS yang dapat dijangkau oleh LSM Wonosobo Youth Center (WYC)termasuk pada jenis wanita pekerja seks tidak langsung (WPSTL), yaitu WPS yang bekerja di tempat hiburan yang tidak secara terang - terangan menyediakan servis seks untuk pelanggan, yaitu pemandu lagu di karaoke. Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB)yang meliputi sikap, norma subjektif dan perceived control. Tujuan Penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan perilaku berisiko pemandu lagu (PL) dilihat dari sikap, norma subjektif dan perceived control terhadap kejadian IMS di Kabupaten Wonosobo. Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Jumlah informan sebanyak 10 orang PL. Triangulasi data dilakukan kepada 4 pengguna PL, 1 pihak manajemen karaoke, 1 pegawai DKK Wonosobo dan 1 anggota LSM WYC. Hasil. Dari 10 informan, 5 orang selain sebagai PL juga melakukan hubungan seksual dengan pelanggan, sisanya melakukan hubungan seksual dengan pacar mereka. Sebagian mempunyai pengetahuan yang baik mengenai IMS namun sikap para informan mengarah kepada perilaku yang dapat menyebabkan IMS seperti ketidakmampuan menolak keinginan pelanggan untuk tidak menggunakan kondom dan mengonsumsi alkohol. Sembilan dari 10 informan melakukan vaginal douching karena merasakan manfaatnya. Norma subjektif yang mempengaruhi perilaku pemandu lagu yaitu teman seprofesi, pihak management, TV, media sosial dan pelanggan. Waku yang sedikit menjadi faktor penghambat para PL untuk tidak melakukan vaginal douching,. Usia, kondisi kesehatan dan hamil menjadi alasan para PL tidak mengonsumsi alkohol, sedangkan harga alkohol dan produk pembersih vagina yang terjangkau serta mudah didapatkan menjadi faktor pendukung praktik vaginal douching dan konsumsi alkohol. Kesimpulan Sikap, norma subjektif, faktor penghambat dan pendorong mempengaruhi niat PL untuk melakukan suatu perilaku yang berisiko terhadap kejadian IMS. Perlu adanya kerja sama lintas sektor untuk mengatasi kejadian IMS pada PL.
Background. The case of sexual transmitted infections (STI) in sex workers women reaches 20% of the total number of STI cases in Wonosobo District on 2016. WSW who can reachable by Wonosobo Youth Center (WYC) is included the indirect sex worker women that is a woman who working in entertainment areas with unblatantly providing service providers for unannounced travelers in karaoke This study used Theory of Planned Behavior (TPB) which encompasses, objectively and perceived control. Research purposes. This study aimed to describe the risky behaviour as seen from attitude, subjective norm, objective and perceived control of STI occurrences in Wonosobo District. Research methods. This research used a qualitative method with case study design. The methods used were interviews within the observation. Informants were ten ladies escort. The triangulation were four users, one party management karaoke, one employee of Wonosobo Public Health Office dan one member of WYC NGO. Results. Out of ten informants, five peoples except to be an LC, they also engaged in sexual relationships with customers, and the others had sexual relationships with their boyfriends. Some of them have good knowledge of STIs but the attitude of informants demonstrated behaviors that can cause STIs as inability to reject the customers willingness to use the soil and can not refuse to drink alcohol in a karaoke room. Nine out of 10 informants did vaginal douching for their beneficial effects. The subjective norms that affect the inclusion of their friends in the same place working, management, TV, social media and customers. The less time become an inhibiting factor for lady escort to not doing vaginal douching. Age, sickness and pregnancy become the reasons of ladies escort did not consume alcohol. While the affordable price and easy to get to be the supporting factor for practice of vaginal douching and alcohol consumption. Conclusion. Attitudes, subjective norms, inhib iting factors and supporting factors influence the ladies escorts intention to engage in behavior that is at risk of STI. Cross-sectoral cooperation is needed to overcome the incidence of STIs in the ladies escort.
Kata Kunci : IMS, WPSTL, pemandu lagu, indirect sex workers, ladies escort