BERKACA DI LAYAR LEBAR: WACANA TENTANG PERPUSTAKAAN DALAM FILM INDONESIA ERA MILENIUM KETIGA
NINA MAYESTI, Dr. Aprinus Salam; Dr. Ratna Noviani
2018 | Disertasi | DOKTOR KAJIAN BUDAYA DAN MEDIAFilm merupakan media representasi yang dapat dipakai untuk melihat gambaran perpustakaan yang berkembang di masyarakat. Wacana mengenai perpustakaan yang berkembang di masyarakat Indonesia dapat dilihat melalui film yang diproduksi dan beredar di Indonesia. Film Indonesia di era 2000-an menjadi objek yang menarik untuk dikaji dan dikaitkan dengan perkembangan dunia perpustakaan di era milenium ketiga. Penelitian ini bertujuan mengkaji wacana tentang perpustakaan yang diproduksi dalam film-film Indonesia di era milenum ketiga dan membongkar stereotip yang muncul dalam representasi serta menganalisis wacana-wacana yang turut mempengaruhi dan berperan dalam produksi wacana tentang perpustakaan melalui film-film tersebut. Penelitian ini mengkaji 9 (sembilan) judul film Indonesia yang memuat gambaran perpustakaan. Unit analisis meliputi babak yang menampilkan adegan berlatar perpustakaan dan memuat gambaran pustakawan. Proses analisis juga memperhatikan keseluruhan film, seperti cerita, alur, penokohan untuk mengetahui konteks dan posisi perpustakaan yang ditampilkan. Metode yang digunakan untuk menganalisis sumber data adalah Analisis Wacana Kritis Multimodal (Multimodal CDA) dengan model kerangka analisis dari Kress dan van Leuween. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi perpustakaan dalam film masih dipengaruhi wacana mengenai perpustakaan tradisional yang terus menerus direproduksi dan dikukuhkan. Film juga memproduksi wacana perpustakaan sebagai ruang marjinal serta stereotyping dan peliyanan pustakawan.
Film is a representation media that can be used to see depiction of the growing libraries in the community. Discourses of libraries developed in Indonesian society can be seen through films produced and circulated in Indonesia. Indonesian films in the era of the 2000s became an interesting object to be studied and associated with the development of the library in the third millennium era. This research had examined the representation of libraries in Indonesian films, release during the 2000s and dismantle the stereotypes that appear in the representation and analyze the discourses that influence and play a role in the production. This study examined nine Indonesian films portraying libraries. The units of analysis in this study are those film scenes that were either set in a library or that portrayed librarians. The analysis process also takes into account the entire film, such as story, plot, character to know the context and position of the library displayed. The method used to analyze the data source is the Multimodal Critical Discourse Analysis, using analysis model from Kress and van Leuween. The results showed that the library representation in the film is still influenced by discourse of traditional libraries that are continuously reproduced and confirmed. The film also produces library discourse as a marginal space as well as stereotyping and othering librarian.
Kata Kunci : perpustakaan dalam film, representasi perpustakaan, stereotip pustakawan, ruang marjinal, Analisis Wacana Kritis Multimodal/ libraries in movies, library representation, librarian stereotype, marginal space, Multimodal Critical Discourse Analysis