Laporkan Masalah

Diplomat dan Diplomasi Indonesia dalam Misi Pengembalian Irian Barat Periode 1949-1962

M ADITYA SETIAWAN, Dr. Farabi Fakih, M.Phil.

2018 | Skripsi | S1 ILMU SEJARAH

Masalah Irian Barat menjadi sengketa baru antara Indonesia dan Belanda pasca penyerahan kedaulatan pada tahun 1949. Masalah ini mengemuka karena Belanda menolak untuk menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Sementara Indonesia yang diwakili oleh para diplomatnya menuntut Belanda agar segera menyerahkan Irian Barat. Penolakan Belanda ini direspon Indonesia dengan melaksanakan perjuangan diplomasi pengembalian Irian Barat sejak 1949-1962. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji perjuangan diplomasi Indonesia di kancah internasional yang melibatkan para diplomat baik dari kalangan sipil maupun militer. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan para diplomat Indonesia dalam misi pengembalian Irian Barat dipengaruhi oleh dinamika politik yang terjadi baik di Indonesia maupun di kancah internasional. Selain itu, pengaruh Presiden Soekarno yang sangat kuat di era Demokrasi Terpimpin menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan diplomasi Indonesia dalam misi pengembalian Irian Barat pada tahun 1962.

The West Papua problem became a new dispute between Indonesia and the Netherlands after the transfer of sovereignty in 1949. This problem arose because the Dutch refused to surrender West Papua to Indonesia in the Round Table Conference. Meanwhile, Indonesia is represented by diplomats, demanded that the Dutch immediately hand over West Papua. The Dutch rejection was responded by Indonesia government. The Indonesia government made a diplomacy struggle to return of West Papua from 1949 until 1962. Therefore, this research will examine the struggle of Indonesian diplomacy in the international arena involving diplomats from both civil and military. The result of this research indicate that the success of Indonesian diplomats in the return mission of West Papua liberation is influenced by the political dynamics that occur both in Indonesia and the international arena. In addition, the very strong influence of President Sukarno in the era of Guided Democracy became one of the decisive factors for the success of Indonesian diplomacy in return mission of West Papua in 1962.

Kata Kunci : Irian Barat, diplomasi, diplomat sipil dan militer

  1. S1-2018-369758-abstract.pdf  
  2. S1-2018-369758-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-369758-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-369758-title.pdf