Laporkan Masalah

ANTARA BIDAN DESA DAN 'BIDAN KAMPUNG': STUDI LAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK DI DESA KUALA BUAYAN, SANGGAU, KALIMANTAN BARAT

FANI LATIFAH, DR. ATIK TRIRATNAWATI, M.A.

2018 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Studi mengenai kesehatan ibu dan anak, telah banyak dikaji oleh berbagai lembaga baik pemerintah, non-pemerintah, maupun universitas. Hal ini menjadi isu penting mengingat kesehatan ibu dan anak menjadi indikator sebuah kesejahteraan suatu negara. Pada masyarakat pedesaan sering kita jumpai adanya praktek dukun bayi sekaligus terdapat praktek layanan biomedis oleh bidan desa. Saat ini pemerintah telah mengupayakan peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak oleh tenaga biomedis melalui berbagai program ditingkat nasional hingga daerah. Bersamaan dengan hal itu, praktek swasta dukun bayi justru masih diminati oleh masyarakat ditengah akses terhadap layanan kesehatan biomedis di pedesaaan yang semakin mudah. Oleh karena itu masih relevan untuk melakukan kajian terhadap dua aktor pelayan kesehatan ibu dan anak ini, dari konteks sosial dan budaya untuk lebih jauh melihat mengapa dukun bayi masih diminiati ditengah berjalannya layanan kesehatan biomedis? Studi ini dilakukan di Kalimantan Barat, yakni di Desa Kuala Buayan pada Juli 2014 selama 1 bulan dan dilanjutkan pada Juli 2016 selama 1 bulan. Masyarakat di pedesaan ini sebagian besar adalah etnis Melayu dan beragama Islam. Masyarakat mendapatkan akses layanan kesehatan biomedis melalui kegiatan yang terdapat di Polindes, Posyandu dan praktek bidan yang mendatangi pasien ke rumah-rumah. Begitu juga dengan praktek dukun bayi yang mandatangi rumah pasien. Permintaan masyarakat atas jasa bidan desa dan dukun bayi terjadi pada kasus-kasus kehamilan dan persalinan. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisipasi observasi,dan wawancara mendalam terhadap masyarakat pengguna jasa dukun bayi dan bidan desa. Wawancara dilakukan terhadap 4 ibu yang menggunakan jasa bidan desa maupun dukun bayi. Studi literatur dilakukan untuk menambah informasi serta pengetahuan tentang perkembangan layanan kesehatan ibu dan anak sekaligus menjadi bahan data perbandingan. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif, kemudian akan dianalis secara deskriptif. Hasil studi penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat memakai pengobatan tradisional dan biomedis. Pada kasus perawatan kehamilan dan persalinan mereka memakai jasa dukun bayi sekaligus bidan desa. Akan tetapi kecenderungan pilihan penanganan persalinan lebih pada memakai jasa dukun bayi. Hanya pada kasus-kasus kesulitan persalinan yang ditangani oleh dukun bayi, masyarakat kemudian memakai layanan bidan desa. Dengan demikian, sebagian besar penanganan persalinan lebih mengutamakan dukun bayi terlebih dahulu daripada bidan desa. Dukun bayi dipandang memiliki kelebihan-kelebihan secara kultural yang merupakan indikasi adanya sebuah 'kedekatan kultural' antara dukun bayi dan mayarakat. Bidan desa dipandang hanya menjalankan tugas formalnya dan kurang memiliki strategi kultural untuk lebih dekat dengan masyarakat dalam mempromosikan layanan kesehatan biomedis.

Studies on mother and child healthcare have been long done by various institutions; government, non-government, and also university. Such studies are deemed important as mother and child health indicates the nationals welfare level. At rural villages, we can easily observe shamanic practices existing side by side with midwifery biomedical practices. Today, government seek to promote mother and child biomedical healthcare through various programs at national and regional level. However, as rural villagers access to biomedical healthcare is getting easier, it is observed that people prefer to go to shamanic practices. Thus, studying these two mother and child healthcare actors are still relevant, specifically through a socio-cultural approach in order to understand the reason behind rural villager's decision in choosing shamanic practices while access to midwifery biomedical practices are getting better.This study was conducted in Kuala Buayan Village, West Kalimantan. Majority of the population are of Malayan ethnic background and consider themselves as Moslem. People of Kuala Buayan accessed biomedical healthcare through the villager's childbirth center (POLINDES), centralized healthcare service center (POSYANDU), and midwife patient visitations. The same patient visitation strategy is also utilized by shamans. People's demand to midwife and shaman services are high when it comes to pregnancy and childbirth cases. Data collecting is done through observation-participation and in-depth interview with villager's accessing both shaman and midwife services. Interview is done through with 4 mothers accessing both shaman and midwife services. Literature study was also done in order to add more information and furthering knowledge on mother and child healthcare services development, while also serving as comparison to first-hand collected data. This study utilizes qualitative research method, and descriptively analyzed. The result of this study shows Kuala Buayan villager's consuming both traditional and biomedical medication. In cases of pregnancy and childbirth, people tend to access services provided by village shaman and midwife. However, there is a slight tendency towards accessing shaman's services. Only for cases in which the shamans are unable to provide services, village midwifes will be accessed by the people. Hence, shamanic services take precedence over midwife healthcare practices. In one hand, Shamans are perceived as culturally appealing towards the people. In the other hand, village midwifes are perceived to only undertake their formal obligations rather than having an applicable cultural strategy to promote their biomedical healthcare services to the people.

Kata Kunci : bidan, dukun bayi, persalinan, Kuala Buayan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.