Laporkan Masalah

SHI'A SOCIO-RELIGIOUS IDENTITY TRANSFORMATION AND ANTI-SHI'A SENTIMENT IN POST REFORMASI INDONESIA

DEDE SYARIF, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain; Dr. Dicky Sofjan

2018 | Disertasi | S3 INTER-RELIGIOUS STUDIES

Intisari Disertasi ini mengkaji tentang relasi antar iman diantara kelompok-kelompok Muslim pada masa pasca Reformasi di Indonesia. Peralihan politik dari rejim Orde Baru menuju demokrasi membuka ruang bagi berbagai kelompok keagamaan untuk muncul ke ruang publik. Dalam ruang demokrasi, kekuatan politik dan agama tersebar secara luas pada aktor diluar struktur otoritas yang baku. Reformasi menyediakan peluang bagi bermacam-macam aktor dan kelompok keagamaan untuk menyatakan pandangan, kepentingan dan arah politik mereka. Dalam situasi seperti ini, kontestasi identitas terjadi. Pada tingkat tertentu, kemunculan identitas keagamaan di ruang publik menjadi bermasalah. Identitas intra dan antar kelompok iman dengan persaingan yang tajam diruang publik seringkali meletupkan konflik keagamaan. Dengan memfokuskan pada dinamika mikro dalam identitas Syiah dari identitas yang tersembunyi kepada identitas sosial-keagamaan, kajian dalam disertasi ini menunjukan bahwa transformasi identitas Syiah merupakan perjuangan kelompok ini untuk mengatasi meningkatnya sentiment anti-Syiah pasca Reformasi. Dalam perkembangannya, proses tersebut berkontribusi pada dinamika hubungan antar kelompok Sunni dan Syiah. Data pada disertasi ini menunjukan bahwa ketegangan antara Syiah dan anti-Syiah telah berkembang menjadi lebih sistematis dan terorganisasi. Didirikan pada Juli tahun 2000, IJABI atau Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia, merupakan organisasi Syiah pertama yang secara resmi diakui di Indonesia. Sejak saat itu, anggota dari komunitas ini tidak lagi menyembunyikan identitas mereka sebagaimana yang mereka lakukan sebelumnya. Sebagai respon terhadap hal tersebut, para pendukung anti-Syiah bersatu dalam sebuah kelompok yang disebut sebagai Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANAS). Disertasi ini menemukan bahwa anti-Syiah sentimen muncul sebagai proses dinamis yang berlangsung pada dua sisi: kelompok korban dan pelaku. Karena sudah sejak lama hidup dalam tekanan, oragnisasi Syiah, IJABI, hadir untuk melampaui gesekan antar kelompok iman ini. Pada kenyataanya, upaya ini menghadapi tantangan dari dalam kelompok Syiah sendiri serta dari kelompok diluar Syiah. Disertasi ini menyimpulkan bahwa kajian tentang identitas di Indonesia harus menyertakan dimensi agama sebagai pelengkap pada dimensi sosial yang ada dalam Teori Identitas Sosial. Dengan memfokuskan pada transformasi identitas Syiah, kajian dalam disertasi ini menunjukan bahwa dimensi keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk identitas kelompok Syiah. Oleh karena itu, masa depan hubungan antara kelompok iman bergantung pada bagaimana masing-masing kelompok tersebut bernegosiasi dan mengakui perbedaan identitas mereka diruang publik. Tanpa bermaksud untuk menyelesaikan konflik Sunni-Syiah yang sudah berumur lebih dari 1400 tahun ini, disertasi ini menawarkan pandangan baru untuk memahami hubungan antara kelompok iman dalam kacamata transfromasi identitas yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Abstract This dissertation studies intra faith relation among Muslim groups in post Reformasi Indonesia. The Indonesian political shift from the New Order regime towards democracy opened up spaces for various religious groups to emerge in public. In a democratic sphere, political and religious power spread more widely to new actors outside the established structures of authority. Reformasi provides opportunity for different religious actors and groups to articulate their views, interests and political orientations. Within this situation, the identity contestation occurred. To some extents, the emergence of religious identity in public becomes problematic. Intra and inter faith group identity with keen contestation in the public arena often sparks religious conflict. Focusing on micro dynamic within Shi�a identity from concealed to socio-religious identity, this study shows that the transformation of Shi�a identity as a struggle to overcome the escalation of anti-Shi�a sentiment in post Reformasi Indonesia. In advance this process contributes to the dynamic of intra faith relation between Sunni and Shi�a. Data reveals that Shi�a and anti-Shi�a tension has developed in contemporary Indonesia to be more systematic and organized way. Established in July 2000, the Indonesian Association of Congregations of the People of the Prophet�s Household (Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia, or IJABI), is the first Shi�a organization to be officially registered in Indonesia. Since then, members of this minority Muslim community no longer hide their identity in the way they were compelled to previously. In response, the long standing anti-Shi�a supporters unite into more organized group called Aliansi Nasional Anti-Syiah (National Alliance of Anti-Shi�a). This dissertation finds that anti-Shi�a sentiments emerge as dynamic process on both sides: the victim and the perpetrators. Had been living in along pressure, the Shi�a organization, IJABI, present to overstep this intra faith friction. In fact, this attempt experiences challenges from inside and outside responses. The dissertation concludes that the study on identity in Indonesia should address religious dimension in addition to social dimension as developed in Social Identity theory. Focusing on Shi�a identity transformation, this study shows that religious dimension have a significant role to shape socio-religious identity of Shi�a. Therefore, the future of intra faith relation in Indonesia depends on how each groups negotiate and acknowledge their different identity in public sphere. Not pretending to solve the 1400 years of Sunni-Shi�a tension, this dissertation has offered a new insight in understanding intra faith relation in the lens of reciprocal identity transformation.

Kata Kunci : Kata Kunci: Syiah, anti-Syiah, identitas social-keagamaan, reformasi, transformasi identitas.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.